March 08, 2006

Singapore (3) Taxi kasih Bonus

Dari dalam taxi yang membawa kami bertiga, foto studio Kowloon yang kami tuju sudah terlihat. Argometer atau tepatnya LCD layar datar dari perusahaan taxi Singapore terkenal yaitu Comfort Taxi sudah menunjukan Sin 5,30 setara Rp. 30.000. Saya perhatikan Argometer yang seperti biasa dilihat pada taxi di Jakarta berangsur digantikan layar monitor LCD dan audio berupa suara manusia menyebutkan angka yang harus dibayar oleh penumpang. Hal lain adalah soal sabuk keselamatan, selain pengemudi selalu mengingatkan untuk "belt-up" mereka menambahkan semacam ganjal yang empuk pada sabuk sehingga pemakai tidak mengeluh (terutama perempuan) tubuhnya bergesekan dengan bagian sabuk yang keras sehingga menimbulkan kadang rasa tidak nyaman. Pada ganjal ini diberi peringatan, "Belt Up is Compulsory" atau "Have Left Anything Behind?.

Rencananya hari itu kami akan mengabadikan peristiwa commencement (Wisuda) seperti yang sudah direncanakan. Sekalipun terasa berat mengeluarkan biaya sekitar SIN 400(Rp. 1,2 juta), tapi hati tenang juga. Habis terpengaruh iklan yang membujuk "Wisuda adalah momentum yang tak ternilai, jangan disiasiakan dengan cara potret yang amatiran."

Anak saya meminta sejumlah uang yang diperlukan, tetapi kali ini supir berbaik hati, "jas gif me fai dole" - yang berarti dia memberikan dikonto 0,30 sen. Sebuah peristiwa yang jarang terjadi di Singapore atau dimanapun juga. Umumnya kita memberikan sekedar tips untuk pak supir, kali ini justru kebalikannya, kami yang diberi tips. Mungkin supir melihat anak saya menenteng tas toga bertuliskan NUS sehingga supir berbaik hati memberi diskon. Sebuah rasa appresiasi rakyat terhadap mahasiswa.

Didalam studio ketika puteri saya diminta berpose dengan memegang GLOBE, dia menolak kok semua pose alumni sepertinya "harus" memegang bola dunia. Dia minta hanya memegang gulungan ijasah. Permintaannya dikabulkan oleh kedua juru foto lelaki yang kemayu sekali gayanya. Dia minta kami menunduk, mendangak, melengkungkan tubuh yang bagi pragawati atau pragawan adalah soal biasa, lha aku ini terasa mau berontak tulang-tulang ditekuk sana sini.

Pemotretan mungkin sekitar 10 menit untuk 4 pose, tetapi yang antri luar biasa silih berganti sehingga disarankan lain kali untuk melakukan perjanjian lebih awal lagi. Dan 2 minggu lagi ia harus kembali untuk melihat draft foto sebelum akhirnya dibawa ke mesin cetak. Sementara snappy poket yang saya bawa dari Jakarta setelah naikcetak memang kurang memuaskan hasilnya, padahal saya sudah ikuti nasihat para juru foto untuk menggunakan merek K**** yang lebih baik dalam penonjolan aspek warna kulit dibanding merek lain.

Mimbar B. Seputro

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com