Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 02, 2006

Silaturahmi denganbekas pengawal pak Harto

Date: Fri Jan 14, 2000 6:59 am

Seperti yang sudah dijanjikan pada bulan Desember yang lalu, saya berkesempatan melakukan silaturahmi ke rumah "oom Wates" di komplek Barmis - Kelapa Gading.

Mula-mula saya cek di "markasnya" di Cendana. Sang pengawal diseberang sana mengatakan bahwa sang Oom sedang "off" dari Kamis sampai Jumat. Pada saat lebaran, kami tidak bisa berkunjung ke rumahnya sebab ia bertugas di "rumah" sang boss di Taman Mini, dan keesokan harinya akan sembahyang Ied di Masjid Attin. Selesai salat ied, maka diadakan "open house" untuk menerima permintaan maaf.

Banyak bekas menteri dan pejabat yang berkunjung ke TMII, diantara pejabat yang dulu ikut menikmati tumpahan rejeki darinya, tapi sekarang ikut memaki-maki, nampak Ali Sadikin dan Sarwono. Ali Sadikin katanya berkomentar "lho bapak dikabarkan sakit, ternyata sehat saja."

Demikian oom membuka pertemuannya dengan kami.

Foto ini diambil di rumah sang Oom Wates.

Sebuah Koran pagi terbitan Yogya yaitu Kedaulatan Rakyat nampak cukup update yaitu Kamis 13 Jan 2000. Langsung saya sambar cerita bersambung Nagasasra di koran tersebut yang memasuki episode ke 324. Rata-rata ruang tamunya dihiasi oleh potret pribadi MHS dan isteri. Satu foto memperlihatkan MHS mengenakan setelan lengan pendek ala safari warna khaki nampak sedang tersenyum diantara hasil pancingannya berupa dua ikan Todak (?) yang panjangnya sama dengan tinggi MHS.

Ikan ini kepalanya di awetkan dan dipajang di ruang tamu. Saya tanya apakah ini hasil pancingan beliau sendiri ?
"Ya", katanya.

Ini dilakukan di lautan bebas, jadi bukan di kolam, dan yang jelas bukan di rekayasa seperi digunjngkan orang yang katanya beberapa penyelam beliau membawa ikan, lantas mengaitkannya di dalam laut.

Sebuah lukisan cat minyak berukuran besar menggambarkan laut yang sedang bergelora. Dua kapal pemburu milik bea cukai, satu nampak bernomor registrasi "BC9001".
Di angkasa sebuah heli dan sebuah pesawat CN buatan IPTN tampak melayang ikut mengawal. Ternyata lukisan ini menggambarkan perjalanan MHS ketika ke Batam.

Di ruang tamu, nampak berjejer guci Cina, ada diantaranya bertuliskan Arab, konon pemberian dari almarhumah Tin Suharto semasa hayatnya.

Saya mulai berani tanya "Apakah almarhumah meninggal tertembak ?".

Saya tanya begini sebab bertahun-tahun saya dengar bahwa Ny Tien tewas tertembak anaknya sendiri yang berebut harta.

Kopian media yang mengulas hal tersebut ada disimpan di Cendana. "Saya yang ikut nggotong ibu ke mobil, sebab dari sore memang kondisinya sudah mengkawatirkan," katanya. Seperti umumnya orang Indonesia, keadaan politik saat ini sangat mengkawatirkan beliau.
"Arep dikapake negara iki," katanya.
Harusnya para intel sudah memberikan laporan sejak dini hari.
Cuma repotnya diluaran orang bilang, Cendana yang merekayasa semua kerusuhan tersebut.
Dan berita semacam ini terus masuk dalam ruang baca Cendana.
Itulah sebagian oleh-oleh bersilaturahmi ke rumah pengawal Ring Satu.
Pulangya saya dibawakan sekantung duku Condet.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com