Seputar Cerita Nagasasra dan Sabukinten

Date: Sat Dec 4, 1999 1:47 am

Hampir setahun yang lalu penulis Nagasasra dan Sabukinten yaitu (SH) Singgih Hadi Mintardja meninggal dunia. Lantas kita di milis ini memberitakan, wah lelayu, SH Mintardja meninggal dunia. Seniman Seno Aji Gumira (bapaknya Sitok Srengenge), malahan menulis bagaimana perang tanding terjadi, tidak pakai gaman (senjata) tapi pakai suling yang mendayu, melemah, merintih, menggelora, kadang BT (birahi tinggi). Seno menyebutkan cara pengungkapan SHM dalam cerita ini sangat "RUARR BIASSAAA", ada guemess, ada marah, tapi tidak jarang seperti samudra tenang. Kalo pernah baca riwayat hidup Chopin dan pencipta musik klasik yang lain, isinya hampir senada yaitu ada "roh" yang hidup dari sebuah aransemen musik. Saya menikmati musik klasik atau orkestra dengan cara primitip. Saya setel kartun Mulan ataupun The Lion King. Saat Simba ditinggal ayahnya, bagaimana ilustrasi musik mendayu. Saat Simba mulai menemukan teman Gelutnya, bagaimana musik menjadi riang. Nah SH Mintardja mampu memainkan kata-katanya seperti ilustrasi musik dalam filem kartun. Saya masih suka filem kartun lho.

Ada malahan menghapal seluruh dialog dalam filem tersebut. Jadi VCD bisa diputer berulang-ulang sampai, dia bisa hapal semuanya, dan menonton sambil ikut bergumam. Positipnya, dia memperlancar Inggris, negatipnya rumah jadi brisik. Tiba-tiba, mak jeganggit, harian KR menghidupkan roh tadi di homepagenya http://www.kr.co.id - Saya mulai mengakses dan ketika isinya saya "CP" (copy paste) - magic word komputer sekarang, ke internet/email, teman-teman sangat antusias.
Kejadiannya sekitar 1 Maret 1999, untuk tidak menimbulkan masalah hukum, saya minta ijin kepada redaksi KR, yang dijawab oleh bapak Cahyono Wisu, "kami tidak keberatan dengan kegiatan anda tersebut, namun kami mohonkan kepada anda untuk menyebutkan sumber cerita tersebut berasal dari harian Kedaulatan Rakyat." Saya sebut mas-mas Dwi Waluyo, Mamay Suryaman, Bob Adibrata, Istidharto, Pradiwanto, Mbah Wir, mas Umar Fatah dan seabreg abreg para pecinta serial ini, roh mereka seperti di charge kembali. Lamunan mereka kembali kekejadian seputar Jlagran, Ketandan, Malioboro dsb..dsb. Semasa masih Noroyono.
Pokoknya "Endaaah" (tapi bacanya jangan mencong-mencong seperti banci di iklan permen "Es Teler 2000"). Setelah saya baca, saya save sebagai html, lalu saya copy paste-kan di theBat saya. Maka kepopuleran UPNVY menjadi menanjak. Seperti Narkoba, sekali coba pusing, next trip, "endaaa...ah" (seperti permen es teler 2000 lagi). Tapi kata orang lho.

Mas Bob Wikan Adibrata dari Amrik sana, sehari nggak ketemu Nagasasra dan Sabukinten (sekarang kan ngetrend tahun NagaMas, maka kita singkat Naga saja) - bisa blingsatan. Rumor katanya dia sedang mengubah desertasi doktornya dengan judul baru "Effek VibroSeismic yang diakibatkan oleh Gempuran Sasrabirawa terhadap Laju Produksi sumur Minyak". Konon kalau judul ini ditolak, dia punya judul baru lagi "Menguji Kekerasan Batuan berdasarkan guratan Kuku Nyai Randa Sima Rodra" -

Apa nggak "endaaahhh"

Di Pit IAGI kemarin, judulnya keren Toward Profesionalisme bla..bla..bla, tapi diluar ruangan, kami membahas Tewasnya Simo Rodra alias Ki Panutan dan Djaka Soka sudah main "potong bebek angsa" alias Serong Sana Serong Sini dengan Nyi Randa Sima Rodra, yang katanya cantik, lincah, semekel tapi bisa liaaarrr.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe