Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Senyum membawa luka

[ide cerita: foto Amrozi tertawa lebar ketika di ponis mati di Bali, lalu ingat buku "The Smiling General]

Sebuah karikatur di koran ibu kota menggambarkan sosok wajah berjenggot, senyum lebar dengan gigi besar ternyata gigi seri maupun gerahamnya bertransfigurasi (istilah Harry Potter ubah ujud) menjadi bom-bom. Lantas judulnya singkat "The Smiling Bomber". Bule-bule pasti tidak habis pikir, sudah tahu mau di dor dalam waktu singkat kok masih sempat "CENGENGESAN" istilah orang jawa untuk senyum yang tidak mempunyai arti. Belum lagi orang Ausi yang keluarga korban mungkin "kaya arep ngelethak-ngelethako" alias kepingin melumat orang yang bernama Amrozi bin Nurhasyim.

Lalu ingat Jendral Soeharto (yang pasti dalam waktu tidak akan lama juga pendukungnya minta agar TAP MPR mengubah statusnya sebagai presiden tidak lengser,) selalu tersenyum baik ketika Cendana di bilang pusat "ngentit" atau sunat biaya proyek 10 persen. Akibatnya kesohorlah ia sebagai sosok smiling general"

Dan jangan lupa lagu dangdut yang mendayu-dayu akibat kekasihnya pergi ditilep orang atau suaminya berpoligami lagi dengan pasangan baru yang selalu lebih lisik, lebih kinyis lebih kinclong dan lebih muda minimal perawan itu selalu dinyanyikan dengan senyum dan menjurus ke genit.

Bandingkan dengan Lee Kuan Yew yang bersusah payah mengajak rakyatnya agar lebih banyak tersenyum terutama bila berhadapan dengan turis luar sampai-sampai ada stiker bertuliskan "Courtesy is Our Life" - toh orang masih belum banyak menemukan para penjual di Singapore yang umbar senyum ketika melayani pembeli. Lain hal dengan Iran sewaktu masa Ayatollah Khomeini yang beranggapan bahwa orang cengengesan atawa gojeg adalah pekerjaan "syaithon".

Menyikapi musibah bom di JW Marriott, nampaknya Kris Dayanti alias KaDe bersama rekannya seperti Marina Zulharmis tidak kalah seru mendatangi tempat musibah sembari menabur bunga tanda belasungkawa. Di media masa yang nampak adalah wajah sumringah para artis ketika menabur bunga, persis acara orang ulang tahun atau gembira karena merayakan kemenangannya. Disitu KaDe tertawa sampai deretan giginya dan mulutnya yang sexy terbuka terlalu lebar untuk sebuah upacara dukacita. Mereka kan artis sinetron, mustinya kalau cuma tune" wajah sedih bukan hal yang terlalu sulit.

Bandingkan misalnya suasana duka di rumah warga Belanda, orang datang tanpa nampak hening sementara disudut ruang ada orang terpekur dengan tangan terlipat di belakang, di tempat lain orang nampak bertelekan tangan dipipinya. Suasana harunya kental sekali.

Nampaknya memang kita masih belum menyikapi bahwa bahaya sebuah bom adalah ancaman untuk kita, sanak saudara, keluarga mungkin anak kesayangan kita. Kita masih sering berpendapat bahwa musibah itu "jatah orang lain" sementara diri kita seakan dijamin "aman"

Memang kata guru agama, senyum adalah ibadah. Senyum membuat suasana kaku menjadi cair, meneduhkan hati. Tapi kalau dilakukan dalam waktu yang tidak tepat kesannya ngeledek. Seperti kebiasaan kita memberikan selamat dengan salaman kepada seorang rekan yang mendapat kegembiraan. Tapi ucapan selamat disertai salaman kepada pihak yang berduka cita bisa-bisa pulang bawa benjut di kepala.

Date: Sun Aug 10, 2003 12:30 pm

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com