Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 16, 2006

Sengsara membawa nikemaat

Uwak Misna, 60 tahun. Begitu kami di Citayam sehari-hari kami memanggilnya . Uwak biasanya dianggap Bude (kakak ibu), tetapi di Citayam artinya simbah. Janda ini paling senang kalau kami bawakan oleh-oleh sebungkus ikan teri senilai 2000 perak. Dia akan girang sekali. Itulah menu makannya setiap hari. Jangan coba berikan telur, tempe, daging atau ikan sebab akan ditolaknya. Ia hanya kenal makanan di dunia ini, nasi dan teri. Entah teri Jengki, teri Medan, Teri nasi dia tidak perduli. Ikan asin adalah alternatif.

"kagak, kagak ada ngelaku napa-napa", maksudnya perilaku kelas teri ini tidak ada hubungannya dengan tuntutan sebuah ilmu bathin. Ngelaku. Tetapi ia punya keahlian paten yaitu urut dan "mengerik" pasien yang "masuk angin" - sebuah istilah dan teknik pengobatan yang tidak dikenal dalam kamus kedokteran. "Skin Scrubber" cum "Massage" nampaknya satu paket. Untuk urut mengurut mungkin biasa-bisa saja, apalagi tubuh kerempeng ini sudah mulai berkurang powernya dimakan usia. Tapi soal kerokan, dia memang jagonya.

Siapa yang tidak kenal kerokan atau kerikan, sebuah metode tradisional yang pada dasarnya melakukan pemijatan dan urut pada permukaan kulit. Beberapa orang yang merasa pegal dan linu sekujur badannya, istilah kita masuk angin, baru merasa lega "enteng" jika sudah dikerok, atau di kerik. Tidak jarang kita dengan ada orang dikerik, langsung "game over". Rupanya serangan jantung dikira "angin duduk", ya dikeroki agar anginnya berdiri dan berlari (bersama nyawanya).

Kerokan sudah dikenal sejak dulu kala sebagai salah satu alat untuk membantu melancarkan peredaran darah, getah bening serta sistem syaraf. Secara tradisional, kerokan dipakai untuk melemaskan ketegangan otot dan menghilangkan pegal-pegal akibat "masuk angin". Padahal tidak jarang yang dikerok "meringis kesakitan" disiksa uang benggol. Tapi ada yang percaya kalau angin sudah menumpuk tebal. Kerokan bagaimanapun kerasnya bakal terasa "baal" saja. Skala beginian artinya sudah masuk "tidak aman" lantaran sudah mulai nampak pengerasan dan penyempitan pada pembuluh darahnya.

Cara pendekatan pengobatan modern memang tidak bisa membuktikan manfaat kerokan. Mereka cenderung menolak kebiasaan kerokan dengan pelbagai dalih. Persis pendekatan Fengsui diadu Teknik Arsitektur. Seperti rel kereta api, keduanya tidak bisa bertemu.

Pertama istilah masuk angin tidak dikenal dalam dunia modern. Begitu juga metode kerokan. Namun tabib China sudah membuktikan bahwa dengan kerokan maka unsur chi yang tersumbat dapat digelontor lancar.

Dan masuk angin ewes..ewes. Bablas.

MENGAPA KEROKAN MENIMBULKAN RASA RILEX DAN NYAMAN
Para ahli memperkirakan, saat kulit ditekan oleh alat kerok (biasanya uang benggol jaman Belanda), terjadi rangsangan pada kulit yang nantinya akan melepaskan histamin sehingga menurunkan tekanan darah. Pelepasan histamin inilah yang diduga menimbulkan rasa nyaman. Disamping itu, pembuluh darah kapiler akan melebar (timbul warna merah) sehingga rasa sakit akibat penyempitan pembuluh darah bisa berkurang.

Para ahli akupungtur berpendapat bahwa saat terjadi pemijatan, alat kerok melewati titik akupungtur sehingga urat syaraf motorik terangsang dan pada akhirnya memperlancar sirkulasi darah. Cara kerokan yang dianjurkan adalah tegak lurus sejajar dengan tulang belakang menyamping, lalu sejajar dengan arah bahu agar melewati titik chi.

Kini banyak dijual alat kerokan. Tetapi bagi penggemar kerokan, pakai uang benggol dan minyak kelapa, terasa jauh lebih sengsara membawa nikmat. Apalagi dibarangi sendawa. Sengsara membawa sendawa memang sengsara nikmat.

29 Juli 2004
Baru keluar angin kalau sudah dikeroki.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com