Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Sekapur Sirih

Date: Wed Oct 13, 2004 8:48 am

Dulu buku pelajaran, Novel-novel sering didahului kata pengantar tulisan mereka selalu didahului dengan sulaman kata "Sekapur Sirih". Tarian penyambutan tamu agung di Palembang didahului dengan "Gending Sriwijaya" yang intinya adalah menyuguhkan sirih. Sirih selalu disimboliskan sebagai penolak bala, perdamaian, murah rejeki, enteng jodo, dicabut penyakitnya dst..
Soal sirih, kinang (betel nut), dalam fiksi mahakarya SH Mintardja diceritakan bagaimana pertarungan politik kerajaan di Jawa memakan anak negerinya ketika Dadung Awuk yang terlanggar apes berupa fitnah harus menerima ajal lantaran dihabisi oleh Raden Karebet kelak Raja Mataram Sadak Kinang. Alias sapu pembersih alat sirih. Lalu fungsi sirih mulai berkurang. Paling banter dipakai dalam acara "balang-balangan" dalam tradisi perkawinan Jawa dimana saat kedua mempelai bertemu dengan pakaian kebesaran (maksudnya bukan ukurannya), sirih saling dilemparkan dengan pesan "pria harus lempar dulu agar bisa mengendalikan istri..." - maklum falsafah "wanita sebagai kanca wingking" masih kental waktu itu.

Fungsi lain sirih dipakai para ibu dan remaja untuk urusan "wawik" - katanya "si putih" bisa kabur kalau direndam air sirih hangat-hangat kuku. Atau digunakan untuk kumur-kumur sebagai pengganti obat kimia "listerin" yang terkadang "nedas" alias menimbulkan iritasi pada gusi. Sementara kebudayaan sirih sudah mulai terlupakan kecuali di Myanmar yang lelaki perempuan masih "nyirih", maka dalam laporan kuno Batavia diterakan bahwa ketika Moer Djangkoeng alias JPC alias Jan Pieterzoen Coen menyerbu Banda untuk menangkapi pada budak, pada 1617. Ia menyaksikan operasi tersebut sambil mulutnya komat-kamit seperti sedang berdoa (tapi bukan), Selain kesukaan akan Sirih, Coen (dibaca Kun), juga gemar menggunakan Kebaya, yang waktu itu dipakai lelaki maupun perempuan.

****

Menurut Pembrita Betawi "Kebon Sirih merupakan permukiman baru di selatan Koningsplein (tanah lapang Gambir), yang oleh Daendels sempat dipergunakan untuk lapangan parade, dengan nama Champ de Mars. Setelah Daendels memerintahkan kantor-kantor kumpeni dipindah dari kota tua, pembesar kumpeni banyak yang tinggal di kawasan selatan yang lebih sehat, yaitu Rijswijk atau Nordwijk. Sementara penggawe
rendahan kumpeni memilih berpindah ke kawasan yang lebih murah, yaitu bekas kebon sirih di selatan Koningsplein.

Kawasan itu masih sepi dan belum banyak rumah yang dibangun. Sebelum dibuat jalan di bagian selatan tanah lapang Gambir (Koningsplein-zuid, kini Jalan Merdeka Selatan), hanya ada satu jalan yang menembus kawasan itu, yaitu jalan yang dibuat abad ke-18 oleh Justinus Vinck (pemilik Pasar Senen), dari Prapatan menuju Tanah Abang. Jalan Kebon Sirih baru dibuat belakangan, setelah kawasan itu cukup ramai.

Tanaman itu begitu populer sampai sempat diabadikan di dalam kastil kumpeni di kota tua. Sirih-straat merupakan nama resmi Gang Koja, yang terletak di belakang rumah sakit Cina. Sementara Sirih-gracht merupakan kanal di sisi selatan (Pe)tongkangan. Kemudian kebiasaan sirih ini diikuti oleh isteri pembesar Kumpeni, bahkan untuk menunjukkan status sosialnya mereka membawa serta dayang-dayang yang bertugas membawa alat kinang dan tempolong tempat buang ludah merah. Sementara untuk membersihkan percikan ludah digunakan rajangan tembakau. Tapi seorang penulis Perancis, Tavernier, pada 1617 mencatat kebiasaan itu sebagai "Adalah pemandangan yang menjijikkan, melihat laki atawa parampoean mengunyah sirih baek itu di roema, tempat bekerja. Apalagi kalau saat di Gereja, mulut mereka komat-kamit tapi tiada doa yang diucapkan melaenkan mulut penuh ludah merah seperti orang kena tampiling pada giginya..."

Belakangan, penggunaan kata Sekapur Sirih mudah digantikan dengan Kata Pengantar, Dari Pengarang, Sepatah Kata dll sehingga banyak yang lupa bahwa kebudayaan makan sirih (dan kapur) pernah exist di Indonesia. Sama halnya dengan generasi muda yang kelak tidak mengenal (atau percaya) "Musim Penghujan datang pada bulan berakhiran BER, Musim Kemarau tanpa akhiran BER" sebab sudah digantikan dengan "Hujan Merata, Cuaca Cerah," pasalnya dua musim yang dipelajari masa sekolah sudah mbalelo. Musim hujan bisa kering, sementara musim kering bisa kebanjiran. Sekarang yang tertinggal cuma buah semangka berdaun sirih, itupun bentuk kaset Broery.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com