Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Sejarahwan - he he

Ada dua peristiwa yang mengapa sepertinya saya sedang "connect" dengan peristiwa Hindia Olanda. Tapi sebelum lupa, sebetulnya ada seorang Penulis dan pemenang Cerita Bersambung Femina yang sedang membuat proyek untuk menulis cerita dengan setting jaman Olanda. Penulis tersebut juga anggota milis ini.

Tahun 1978-an ketika kita sedang heboh kerja praktek, saya dan mas Syuhada dapat lokasi pengeboran minyak di Lapangan Jatibarang - Cirebon. Waktu itu Timor-Timor sedang seru-serunya. Di stasiun Lempuyangan kita bisa lihat meriam Howitzer sedang dimobilisasi ke Timor Leste.

Mas Syuhada (sekarang Deep Sea Drilling Manager di Unocal) menulis topik "Directional Drilling" alias pengeboran berarah, sementara saya ambil topik "Drill Stem Testing" (Uji Kandung Lapisan).

Sebelum ke "lapangan" kami harus di "tenteer" di Pertamina Kramat Raya selama 3 hari. Persoalannya, "duite" sapa untuk membayar akomodasi di Jakarta?. Kebetulan sekali Oom-nya Syuhada adalah boss di Jawatan Metrologi di jalan Kopi. Lantas kami diberi uluran tangan untuk menginap di salah satu bangunan di jalan Kopi, di belakang Staadhuis (Museum Fatahilah).

.../ Lha mahasiswa, diberi penginapan gretong, siapa mau tolak, coba.

Gedung Metrologi ini ada terdiri dari 3 lantai, lantai bawah untuk kantor, lantai 2 untuk kamar tamu dan lantai 3 untuk gudang. Pajangan di kamar lantai dua tersebut adalah corong minyak kuno, literan minyak kuno, dacin kuno yang semuanya untuk tugas peneraan atau kalibrasi.

[hihihihihihi.... typical filem kita untuk acara horror, semua setan, jin bisa bersuara nyaring...]

Malam harinya, mas Syuhada seperti biasa "gelayaran" dengan kakaknya (Suharsono), saya sendirian di kamar dan mulai merasakan "something" dingin di ruang tersebut. Maklum bangunan kuno, bukan orang penakutpun kalau pernah dengar cerita sekian ribu Cina di "beleh" oleh Jan Pieterzoon Coen pada 1740-1743 di Pasar Pagi Lama, atau jam 07:30 (lebih sedikit) tanggal 5 Mei 1903 pesakitan nama Timin dan Tioen yang di gantung di lapangan Staadhuis gara-gara membegal dengan pembunuhan seorang "bek" dari Jelambar, atau pembunuh Tjoen Boen Leng yang di eksekusi pada 1896. Sapa yang kuwat.

Untunglah kejadian malam itu berjalan seperti biasa, sekalipun takut tetapi saya tetap tidak bisa melihat Noni Belanda atau Tuan Markobah atau malahan Cina tanpa kepala seperti di TV yang diasuh oleh orang gundul "bajakan" Harry Panca. Saya sebut bajakan habis gundulnya bukan orijinal seeh.

Alasan nomor dua, di Grogol, kalau sedang "kumat" saya jalan kaki memasuki kawasan Pekojan, Rumah (Toko) Merah dan diantaranya memang terbaca bahwa bangunan tersebut adalah "Cagar" budaya. Kadang saya berhenti sebentar di lapangan berkerikil di Museum Nasional, melihat orang melakukan terapi olah raga sambil refleksi. Di kawasan kota masih bisa lihat gembok kuno, pintu gerbang kuno yang sayangnya sebagian tidak terawat.

Lantaran saya setua ini sulit sekali mendapatkan cerita mengenai Betawi, maka ketika ada beberapa sumber, langsung saya sambar dan dijadikan cerita. Kalau saya jadi dosen pasti mahasiswa saya luluskan dengan mudah. Biarlah yang sukar menjadi bagian saya. Caelaahhh.

Saya dengar pihak Musium Fatahilah selalu mengadakan acara "jejak-jejak Pieterzoon Coen" berkeliling Jakarta dengan jalan kaki yang biayanya sekitar 20.000 - saya pikir bagus sekali diikuti, sekalian napak tilas peradaban jaman dulu.


>>
Setelah wafatnya Pak Selo Soemardjan, rupanya muncul sejarahwan "baru"....MBS

Kalau Alm. Pak Selo dijuluki "Watu Item Jambul Uwanen", selo (bhs. Jawa) = batu .....artinya pak Selo berkulit hitam berambut putih, maka rekan kita patut mendapat julukan "Watu Item Kinclong-kinclong" :-)))


Date: Thu Jul 3, 2003 2:03 pm

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com