Sejarah Minyak Nusantara

Subject: Perintis Industri Minyak mimbarse@gajahsora.net

Jan Reerink, pedagang kelontong yang merangkap juragan minyak.

Semasa pemerintahan Gubernur Jendral Belanda Sloet van de Belle, ada sebuah peristiwa penting yang perlu dicatat sebagai awal mula sejarah industri perminyakan di Hindia Belanda. Sekalipun gagal, lantaran beli teknologi tinggi tapi salah penerapannya, namun inilah langkah awal dari industri minyak di Hindia Belanda sampai akhirnya menjadi The seven Sister di dunia (dulu).

Alkisah tahun 1860, adalah seorang sinyo muda sekitar 20 tahunan bernama Jan Reerink yang mencoba mengadu nasib dinegeri orang dengan melakukan perjalanan jauuh dari Belanda ke Hindia Belanda. Profesi Jan mula-mulanya adalah pedagang beras dan memiliki beberapa "huller". Tidak puas sebagai bakul beras, apalagi punya koneksi sebagai anak VOC dia mulai melirik bisnis Kelontong di Cirebon.

Suatu hari ketika meliwati desa Maja - Cirebon, perhatiannya tertuju kepada rembesan minyak yang terdapat sekitar desa tersebut. Penduduk setempat memanfaatkan rembesan minyak untuk keperluan penerangan. maklum jaman Upet, Obor dan Senthir, maka kelihatannya ini dagangan kelas tinggi dan berbau "magic" karena minyak dulu disimpan sebagai anti santet dan penolak bala.

Masih dengan pola pikir pedagang kelontong, minyak mentah tadi mulai dijual belikan, cuma nggak jelas apakah minyak jaman dulu dioplos dengan bahan campuran biar murah seperti trend sekarang. Sampai Jan melihat peluang untuk sekaligus menjadi produsen minyak. Seratus empat puluh tahun mendatang, banyak yang mengikuti jejak pak Jan dengan menjadi pengusaha minyak sekalipun sekarang sudah banyak yang menepi.

Maklum Jan adalah anak dari keluarga VOC (Vereenigne Oost Indische Compagnie) yang saat itu sudah berubah dari kongsi dagang bercampur dengan politik, dengan mudah ia mendapatkan bantuan modal dari Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM). Bahkan konon dibantu seorang ahli pengeboran sebagai penasehatnya.

Mula-mula dibelinya alat bor buatan Pensylvannia. Rupa-rupanya alat kesohor era sumur Drake yang modern karena menggunakan sistem putar sangat menarik perhatiannya. "Mengebor lebih cepat, tinggalkan metode bor tumbuk, era bor putar membuka cakrawala baru dunia perminyakan"

Desember 1871, alat yang masih "reyen" mulai menggali batuan, membuat lubang bor. Setelah mengebor 125 kaki, dengan pemboran "modern", rotary drilling, barulah disadari bahwa teknologi canggih itu tidak cocok dengan kondisi batuan di desa Maja. Sumurnya ambleg terus.

Sayang Jan keduluan raja tanah Jawa, kalau tidak pasti kejadian pahit di desa Maja, pasti akan dinamakannya desa MajaPahit dari Cirebon (tapi batal).

Dasar lobinya kuat, mungkin dia pakai kalimat sakti "Mining is Gambling" atau peribahasa kaco yang lain "Beli Delapan Dapet Satu itu baru resiko bor minyak", maka dia minta ijin dan modal tentunya untuk mengebor dua buah sumur lagi. Ijin diterima dan minyak memang diperoleh tetapi cuma "sedikit", kata laboratorium di Nederland. Belum masuk hitungan untuk dibuat fasilitas produksi, transportasi, distribusi apalagi instalasi ilegal di Pulau Seribu, jauh deh ya.

Minyak, paling banter dioleskan ke puncuk ranting biar mudah dibakar menjadi obor. Yang doyan mistik malahan menyimpannya sebagai jimat.

Tahun berikutnya, modalnya habis dan investor pada mengundurkan diri sekalipun mahasiswa tidak ada yang demo maupun kerusuhan di Cirebon atau Batavia. Pada 31 Juli, dia balik ke Cirebon mengurus toko kelontong dalam keadaan bokek. Orang lalu melupakannya, padahal dialah satu-satunya perintis yang menancapkan tonggak sejarah perminyakan di Indonesia.

31 Mei 1840 di Nieuv Beerta, Groningen lahirlah sinyo Belanda, Aeilko Jan Zilker. Dikenal sebagai manusia flamboyan, penuh semangat, penuh imajinasi, penuh rasa ingin tahu (petualang) yang besar. Sang pacar kewalahan mengikuti jalan pikiran orang yang senangnya rapat, bicara perjuangan dsb. Mereka akhirnya memutuskan berpisah tanpa referendum ataupun kongres rakyat.

Sambil membawa luka hatinya (wooow), pada usia 20 tahun, dia pergi ke Hindia Belanda di desa Ngembeh, Timur Pulau Jawa. Ketika bekerja di suatu pabrik gula, belanda satu ini malahan jadi LSM bagi para inlander yang tertindas.

Kalau perlu gebug-gebukan dengan sesama kulit putih. Pernah menjadi manajer East Sumatra Tobacco Company. Cuma yang menarik perhatiannya bukan nyala api dari rokok yang dinyalakan, melainkan obor untuk menyalakan rokok. Obor itu menggunakan minyak yang saat itu banyak ditemukan dikawasan perkebunan.

Pergaulannya cukup luas sampai-sampai Sultan Langkat sangat percaya kepadanya dan akhirnya Jan diberi lisensi daerah Telaga Said berjarak 10 km dari pangkalan Berandan. Lantas perusahaan De Voorloopige Sumatra Petroleum Maatschappy didirikan pada tahun 1883, olehnya 15 Juni 1885 sumur Telaga Tunggal-1 menyemburkan minyak pada kedalaman 121 meter. Sumur paling tua yang tercatat di Indonesia.

Sukses mengangkatnya menjadi kaum selebritis, lalu Jan dengan persetujuan raja mengubah nama perusahaannya menjadi De Kononklijke Nederlansche Maatschappy Tot Exploitatie Van Petroleumbronnen in Nederlansch - Indie.

Sama seperti anda, kok namanya panjang betul, akhirnya disingkat jadi De Koninklijke atau The Royal Dutch. Inilah perusahaan yang akhirnya menjadi SHELL yang terkenal itu. Jan meninggal dunia pada usia 50 tahun pada desember 1890. Perusahaannya kemudian terkenal sebagai the Seven Sister in the World.




Date: Mon Apr 17, 2000 4:01 pm
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe