Artikel # Dua jam bersama anak Jalanan

Seorang famili baru saja menyelesaikan strata satunya sehingga resmi ia menjadi seorang Sarjana Yang aneh dari lajang cantik kuning dengan tinggi 170cm lebih sehingga kerap menjadi manekin di kampusnya, ia seharusnya menjadi seorang dokter.
Namun apa mau dikata, memasuki semester akhir di Fakultas Kedokteran, mirip dengan politisi yang mengaku menerima kucuran dana non bujeter, dia mengaku kehilangan selera meneruskan kuliahnya dan pasrah menjadi relawan "drop out." demi mengejar karir dalam bidang hukum. Segala usaha keluarga untuk mengalihkan perhatian dengan mengatakan untuk mendobel kuliah. Namun ia tetap bergeming "parkir mobil boleh paralel, kuliah dobel nanti dulu."
Cuma karena dia ini anak bungsu pisan, dengan terpaksa permintaan super duper aneh di akomodasi oleh orang tuanya sambil menyindir "kanca liya wis pensiun, iki isih dadi mahasiswi." Kira-kira terjemahannya, teman sebayamu sudah pensiun, kamu masih mahasiswi.
Duduk perkaranya ia memang dari semula suka akan masalah yang berkaitan dengan hukum. Sementara sang orang tua, layaknya keluarga masa dulu dan kini baru merasa "sip" kalau anak menjadi tabib modern. Maka sekalipun sudah tergolong senior, dilakoninya juga posma, menyanyi bersama dan di gojlok berhari-hari dikampusnya.
Singkat kata kuliahlah dia mulai dari "nol." Kadang sepulang kuliah dia bercerita ditaksir cowok kuliahnya yang usianya pantas jadi adiknya.
Dasar nasib moncer, pada saat tugas akhir ia magang kepada kantor pengacara kondang ibukota, pengalaman mengesankan ketika di pengadilan negeri Jakarta Barat, kaca mobilnya dipecahkan para lawannya. Tetapi dengan tekanan semacam itu, justru ia menjadi lebih bersemangat mengikuti kuliahnya. Ketika lulus, sebagai kaul atau nadar ia ingin merayakan kelulusannya bersama 50 (lima puluh) anak jalanan mulai dari pengamen, tukang sol sepatu, asongan, yang biasa mangkal di bantaran kali seputar Jatinegara. Rupanya saat melihat bocah-bocah mengamen di jalanan, ia menjadi tertarik dan menyoba berbagi suka bersama. Pada hari yang ditentukan tatkala mentari sudah melebihi sepenggalah, terik masih menyisakan panas ketika tiga buah Kijang menjemputi anak-anak ini, sang kapitan alias koordinator jalanan anak gelandangan ini juga ikut serta. Lima puluh anak, kalau benar jumlahnya akurat, menurut sang komandan lapangan bisa masuk kedalam 4 buah kendaraan.
Saya percaya tidak percaya sebab diperlukan seorang Suhu David Copperfield untuk melakukan ini, dan ternyata ini bisa dilakukan. AC Kijang sudah lama lempar handuk melawan temperatur aliansi anak-anak yang jarang mandi dan menggunakan odorono, aroma Ambipur sudah mulai kecut, apek, kadang bau kentut.
Beberapa menit setelah mobil berjalan suara gembira mulai menurun disusul dengan beberapa adegan; "Om jendelanya di buka, saya mau muntah..." - lha ini bukan bis kota yang bisa main buka jendela. Tetapi permintaannya kami ikuti juga."Om kepala saya pusing..." "Pak saya mau pipis..." Sementara itu di Kendaraan yang lain mereka menamakan dirinya kelompok pengamen, tetap menyanyi dengan iringan gendang, guitar, kecrekan (sudah barang tentu) dalam posisi akrobatik.
Sampai di TKP yaitu kawasan Grogol, begitu pintu pagar dibuka mereka menyerbu dan tanpa basa basi menggelar aksi, lesehan sambil membuka acara pertama dengan lagu "Becak", syairnya kalau tidak salah tulisannya pak Kasur, "Saya hendak tamasya berkeliling-keliling kota, hendak melihat lihat keramaian yang ada, saya panggilkan becak kereta tak berkuda, becak, becak coba bawa saya." Dwi adalah gadis berusia 13 tahun, rambutnya lurus, kulitnya langsat, suaranya bagus dan kemampuan musikalnya kuat. Nampaknya dia yang dijagokan dari semua teman-temannya ini. Menyusul lagu anak Merdeka yang saya kurang paham dan berapa lagu anak-anak. Tatkala menyanyikan lagu "Ayah", dari grup Mercy. Dwi menyanyikan penuh perasaan, saat lirik lagu "untuk ayah tercinta, aku ingin berjumpa walau hanya dalam mimpi, oh oh oh oh," saya lihat suaranya seperti hilang. Seperti rasa kerinduan akan kasih ayah yang mungkin jauh atau bahkan tidak pernah mereka lihat. Di tempat lain, beberapa anak lelaki, bercanda sambil main "smack down", itu tontonan gulat WWF di TV, bayangkan ada sekitar 20-an anak-anak lelaki bergelut bersama, jatuh bersama, teriak-teriak bersama. Yang normal, pincang, gagu, gagap, besar, kecil bisa tumplek bleg, bergelut.
Waktu acara makan tiba, seorang anak menyodorkan piring sambil bilang "Om saya separuh saja nasinya," lantas saya ajak menyela "seperti warung tegal aja." Umumnya mereka makan sedikit nasi dan sedikit lauk. Lauk yang disentuh hanya ayam goreng dan kerupuk. Sambil bisik-bisik koordinator menjelaskan bahwa mereka tidak mempunyai pola makan tidak teratur seperti layaknya keluarga. Makan bagi mereka hanyalah kerja sambilan, tidak perlu harus makan pagi, siang dan malam. Jadi ketemu penganan seadanya bisa somay, bakso, tahu goreng , atau apa saja yang bisa di jumpai dijalanan. Akibatnya, kalau diajak makan secara "normal" pakai nasi dan lauk, anak-anak ini justru kikuk. Yang unik sekalipun makan sambil bercanda, kadang jambak-jambakan rambut sambil berlari kian kemari, tidak satupun piring atau gelas yang terdengar jatuh, pecah atau kesenggol mahluk kecil ini. Mungkin habitat di jalanan mengajarkan, piring jatuh dan pecah - berarti membeli. Dispenser air Aqua menarik perhatian mereka. Berulang-ulang mereka mengucurkan air, sekalipun mungkin tidak haus. "Om minta tisu, mulut saya kotor," beberapa anak berbaris didepan minta tissue. Padahal makan belum selesai. Apa salahnya anak-anak mita tisu sebab sang koordinator memejamkan mata sambil menggeleng cepat mirip menggetarkan isi otaknya pertanda jangan melayani permintaan mereka.
Belakangan saya baru tahu bahwa jatah makan mereka diam-diam dibungkus untuk kelak diberikan kepada ibunya, adiknya yang tidak ikut mengamen di rumah atau penampungan. Sia-sia kami menjelaskan bahwa ada nasi kotak yang boleh dibawa pulang. Naluri berbagi rasa dalam suka dan duka rupa-rupanya lebih kuat. Begitu acara makan selesai, acara tambahan yang tidak kalah menghebohkan saat mereka minta ijin ke toilet. "Okey jalan terus, belok kanan, toilet disitu."
Teriak saya mengatasi suara anak-anak yang bercanda. Lima sampai sepuluh menit saya tidak mendengar anak-anak kembali dari toilet. Padahal kloter kedua sudah mulai memegangi perut dan bokongnya sambil terbungkuk dan mengerutkan keningnya. "Aduh sudah nggak tahan nih.."
Pasti ada yang tidak beres. Ternyata anak-anak saling intip temannya yang sedang berada di buang air di kloset duduk. "Om saya tidak bisa pakai WC itu, ada yang lain nggak ?," tanya mereka berbarengan sambil mencoba menahan isi perut yang sudah ingin membuktikan teori gravitasi.
Terpaksa saya evakuasi mereka ke toilet jongkok untuk pembantu. Lima anak masuk bersama sambil tertawa riang. Bagi mereka melihat temannya buang air sama seperti melihat orang makan bakso, tiodak ada kesan jijik atau sungkan.
Keluar dari WC, baru wajah mereka kelihatan lega, beberapa malahan cuci muka sampai rambutnya basah. Sekarang pandangan mereka terpaku kepada kulit harimau ofsetan. Mulai saya dibombardir pertanyaan seputar kehidupan satwa ini. Saya yang memang dasarnya suka dongeng, mulai beraksi. Ini macan dari Jambi, anak-anak tahu Jambi dimana ?, tanya saya.
Hening.. hening.. hening, lalu seperti sepakat mereka menggelengkan kepala.
"Jambi itu di pulau Sumatera, ada yang tahu Sumatera di mana ?," tanya saya lagi.
Skor masih sama, nol-nol. Lalu saya lanjut mendongeng. Macan ini kelaparan sehingga harus turun gunung karena hutan dibabati, di bakar sehingga binatang buruannya habis. Sayang bukan bertemu makanan ia malahan ketemu predator paling berbahaya yaitu manusia. "Ah kalau cerita hutan dirusak lalu macan turun kampung saya sudah tahu ceritanya," celetuk seorang anak perempuan kecil sekitar 11 tahunan. Saya meneruskan cerita, akhirnya macan dijerat (dijaring oleh sang pemburu), kaki-kakinya diikat oleh kawat, lalu macan dibunuh. Kulitnya diambil untuk dijual. Perbuatannya ini diketahui aparat yang lalu mencoba menyita kulit macan ini, terjadi pertengkaran yang berakhir dengan tertembaknya sang pemburu tradisional tadi oleh sang aparat. Saya tidak meneruskan cerita, bagaimana akhirnya kulit macan bisa ke Jakarta. "Cuma karena sang pemburu kurang ahli, tengkorak macan tertinggal sehingga waktu dimasuki kapuk,mulut macan mengatup sebab ompong." Cerita harimau selesai bersamaan dengan waktu pulang mereka. Sudah dua jam kami mencuri jam kerjanya, sekarang waktunya bagi mereka kembali ke hidupan jalan.
Sementara orang yang disebut "Om" tadi, yang barusan bercerita tentang macan, mengantar mereka ke Toilet, bahkan menjemput dari penampungannya, mungkin sudah melupakan wajah mereka.
Kelak kalau bertemu di lampu merah, bisa jadi si "Om" bahkan menolak memberi sekedar uang recehan di jalan dengan pelbagai alasan pembenaran yang intinya menganggap mereka sekedar ranting jalanan.

Comments

Popular Posts