Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

SBY dan Pacitan dan Tarsum

Date: Tue Sep 21, 2004 3:14 pm

Tarsum, anak Pacitan, bangga betul ketika SBY yang ternyata mengaku anak Pacitan. "Kirain anak Pacitan bisanya cuma judi dan jadi supir bajaj..."

Maklum Pacitan yang kami kenal ini memang kelompok marjinal.

Tetapi untuk meyakinkan lagi dia dan keluarganya di "indok" agar memilih nomor 4 Sehat. Dia tertawa "nggih, nggih". Supir yang sudah bekerja lebih dari 30 tahun disebuah perusahaan bahan bangunan ini ketawa renyah ketika Selasa pagi ketemu kami.

"Kulo diparingi Sembako kalih dit Rp. 100.000" - Maksudnya ada serangan fajar yang memberinya sembako dan uang cepek. Tuh kan, sudah menang masih dikasih duit, kata saya. Lho, tapi kok nomor Dua yang memang di TPS-mu Sum, sergah saya.

"Lha yang kasih duit mbak Mega, saya nyoblos nomor dua," katanya ngakak.
Ternyata dibalik rambut dan kumis yang keriting, otaknya keriting juga kamu Sum.

Lalu Nani, ibu tamatan SMEA dengan dua anak dan seorang suami pengangguran ini pekerjaannya sehari-hari mencuci baju dan masak. Dia hanya bekerja paruh waktu, masuk jam 6:30 dan pulang 12:30. Ia sudah bekerja selama 25 tahun. Di kampung Nani, nomor dua ternyata berhasil unggul ke nomor satu. Dia juga mendapat bingkisan dan uang taksi serupa dengan Tarsum. Tapi malahan sempat mengisi formulir pinjaman uang Rp.5.000.000 (lima juta rupiah), bilamana nomor dua jadi nomor satu.. Jurus serangan fajar ternyata memang mampu melumpuhkan indoktrinasi selama ini.

Baik Nani maupun Tarsum adalah orang sederhana. Baginya, kalau belum jadi presiden saja dia sudah dikasih sembako, apalagi kalau menang. Pasti ada balas jasa terhadap orang yang memilihnya. Untuk menghindari konflik dengan juragannya, mereka menggunakan jurus "inggih mboten kepanggih". Ketika dibriefing dia bilang "iya, iya, gampang" - atau meniru istilah orang sekarang, "pesan abab, dapat abab" alias kalau pesan cuma ngomong doang, ya dapatnya ngomong doang alias "lupa".

Kali ini memang suasana pemilu direct-appointment sungguh dahsyat. Tuan dan Nyonya di rumah boleh bilang apa saja kepada pembantu, pak bon atau supir, boleh bilang kalau pemerintahan lampau menuai bom, boleh bilang mana janji pemilu sekolah gratis. Lha kalau anaknya masuk sekolah kami masih bantu uang bangku. Tapi bahasa Sembako, bahasa Cepek akan lebih efektip bagi mereka.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com