Saya sempat berkenalan dengan pemilik Alfa Mart ini, namanya Djoko Susanto. Saya dekati dia ketika dalam acara press conference dari Ernst& Young enterpreneurship 9 Oktober 2003, disalah satu ruang di Hotel Mulia Senayan. Rupa-rupanya para nyamuk-press tidak mengendusnya sebagai bahan berita yang menarik, mereka lebih tertarik menginterview tokoh Flamboyan seperti Charles Saerang dari Jamu Nyonya Meneer.

Charles malahan tidak memenangkan satu kategoripun. Beda dengan Mooryati Soedibyo dari Mustika Ratu yang malahan menjadi wakil Indonesia dalam pemilihan Top Enterpreneurship dunia di Monte Carlo 2002 yang lalu.

Alasannya Djoko Susanto sangat sederhana, ia selalu mengatakan "Saya hanya sekolah sampai SMA itupun dropout pada tahun 1966, lalu berbekal ijasah nekad ia bekerja pada perusahaan asembli radio. Sambil membantu usaha ayahnya sebagai penjual rokok. Tahun 1970 api membakar toko yang dimilikinya sehingga ludes. Beberapa kali gagal dan gagal dan gagal sampai akhirnya terbentuklah Toko Sumber Bahagia yang masih bergerak di bidang rokok.

Sebelum akhirnya berkembang menjadi Alfa Mart di Indonesia."

Ketika saya tanya "Hero Supermarket itu kesohor mahal, tetapi saya masih tergoda datang kesana. Apa karena tempatnya relatif sepi? sehingga orang yang terburu-buru cenderung melupakan perbedaan seribu, dua ribu perak yang penting layanannya cepat?,"

Sambil meneguk teh hangatnya, pria berkulit terang ini cuma berkata "mungkin karena Hero memiliki cabang dimana-mana dan strategis tempatnya."

Tidak dinyana Pria yang saya ajak bicara ini ini mendapat penghargaan sebagai Enterpreneurship sebagai tokoh yang memiliki keahlisan services (pelayanan) yang patut dijadikan contoh.

Beda dengan Purdie Chandra, pria asal Metro Lampung ini. Ketika ditanya soal Primagama itu lembaga yang mengususkan dalam bidang pendidikan lulusan SMU yang ingin meneruskan ke perguruan tinggi, dia malahan ngakak. "Wartawan, kalau saya bicara soal PrimaGama kebanyakan bertanya hubungan saya dengan Rano Karno, mereka mengira Rano Karno adalah pemilik Primagama..."

Soal rahasia dia bisa sukses bisnis, gampang katanya pria berkulit hitam "Mau bisa berenang yang langsung nyemplung ke kolam, atau ke kali. Terlalu banyak teori malah nggak bisa berenang nantinya.."

Dua pria jagoan bisnis yang mendapat penghargaan (dan menyedot banyak tenaga kerja di Indonesia ini), memang nyimpel saja prinsip hidupnya. Terjun ke bisnis, ulet, konsisten dan sukses. Yang sering lupa disebutkan karena mereka tidak menyadarinya adalah kemampuan intuisi yang mereka miliki sehigga mampu melihat apa yang berada di balik suatu peristiwa. Orang semacam Joko Susanto dan Purdie Chandra mampu menarik dua titik menjadi suatu garis persamaan yang mewakili jurus sukses.

Sementara saya, mungkin perlu 20 titik, pakai rumus chi square hanya untuk menarik sebuah garis dengan persamaan menjadi sukses. Itupun banyak gagalnya. Ketika garis baru selesai di tarik, orang lain yang irit titik sudah melangkah lebih lanjut lagi. Ya gagal maning SON.


Message 12345
Date: Mon Oct 13, 2003 8:52 am

Comments

Popular Posts