Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 14, 2006

Buku Harian (bekas) Petani Gurami - Mendadak Dangdut.

Sepucuk undangan dicetak di atas kertas sederhana nampak terselip di meja saya di Citayam. Undangan perkawinan, sekaligus iming-iming ada hiburan berupa Layar Tancep semalam suntuk ditambah dengan Acara Dangdutan sampai dinihari. Ini adalah tradisi mengakar di kalangan warga Citayam, hutang boleh bertumpuk, tanah tegalan di belakang rumah boleh "diiris" alias dijual sedikit demi sedikit, asalkan acara perkawinan dirayakan secara hutang-hutangan kalau saya boleh menggantikan kalimat dengan habis-habisan.

Soal biaya hidup selanjutnya "pigimana nanti yang di atas" - dan ndilalah, pola berpikir "miring" ini ternyata manjur dan hepi-hepi saja diterapkan di Citayam. Maka tak heran pengendus bisnis dengan sukarela menawarkan ranjang pengantin, lemari, sendok garpu sampai ke pengadaan layar tancep dan orkes. Dengan bayaran kredit atau "tuker dengan lebak" alias barter dengan tanah.


Beli amplop kosong bonusnya ditulisin alamat.

Ada kebiasaan disini bahwa kalau beli amplop kosong, pemilik toko sekalian menuliskan alamat dan pesan sederhana sesuai kehendak sang pembeli amplop. Maklum angka katarak huruf masih tinggi disini. Kadang-kadang kata-kata lucu seperti "Selamat Berbahagia dari keluarga AA-potsal". Maksudnya dari bang AA yang sehari-hari menjual Potsal. Potsal atau postal adalah kotoran berupa dedak, sekam, tembeleknya yang sudah kering, biasanya dipergunakan sebagai pupuk kandang.

Amplop-amplop ini harus diberikan sesuai dengan nama yang tertera dalam undangan. Sebab tidak jarang anak-anak ini membiayai sendiri pernikahannya sehingga pihak orang-tuanya tidak berhak menerima angpau.


Ganti Baju

Malam yang ditentukan, saya datang memenuhi undangan atas "keriaan" yang diselenggarakan oleh Bang Sidiq sehari-harinya berperan sebagai "pemilir" atau pedagang yang mencari dagangan seperti sayuran keluar masuk kampung untuk di jual ke tengkulak di peron Citayam (meron).

Kalau tiba hari besar Islam, ia mengubah profesinya jadi jagal sapi atau kambing. Dengan sebilah pisau sederhana panjang 4,5 inci dia mampu menyelesaikan seekor kambing dari menguliti sampai memotong dagingnya selama kurang dari 30 menit. Tangannya cekatan memotong bagian lemah pada tulang dan menyayat daging dengan tepat. Saya mengandai menjadi jagal seperti dia, akan butuh kapak, gergaji listrik, beberapa set pisau untuk mengerjakannya. Bang Sidik sering mengaku anak lulusan Sekolah Salemba. Bukan Universitas Indonesia melainkan, bekas napi Salemba. Ditangannya yang kecil namun liat tergores tato yang tidak jelas apa maksudnya. Seperti ular, seperti pisau, seperti perempuan.

Ketika kelompok Dangdut mulai memainkan lagunya di atas panggung setinggi 1 meter lebih (harus tinggi agar penonton tidak merayap naik), saya sudah tidak melihat bang Sidiq. Rupanya ia sudah "salin baju". Jas hitam ditanggalkannya berganti jaket hijau tentara, kopiah sudah berganti topi rimba. Rupanya ia sudah gatal "ngibing" ke panggung. Padahal saya dengar sang istri wanti-wanti saat sebagai tuan rumah jangan ikutan mabuk. Tetapi hobi mendarah daging, mana boleh ditahan.

Sekali lagi saya disalaminya dan sekali lagi ia memperkenalkan namanya, cuma kali ini bau alkohol bercampur tembakau mulai tercium. "Saya Mister Sidik, minta ijin menyanyi lagu Mister Hai.." - lalu dia naik panggung sambil terhuyung-huyung.
Di atas panggung bokong penyanyi cewek di coleknya, ia minta orkes mengiringi lagu Mr. Hai. Usai sebuah lagu da berbisik dengan pembaca acara. Di luar dugaan, pembawa acara mendaulat saya sebagai "tamu dari Jakarta" untuk ke panggung.

Lagu yang saya kuasai cuma sampai batas leher adalah "Benang Biru"-nya Maggie Z, namun pimpinan orkes bilang "lagu tersebut masih sangat baru sehingga tidak dikenal" -sekalipun termasuk lagu kadauarsa. Akhirnya terjadilah nego dan saya pilih "Jatuh Bangun" - cuma kali ini saya melihat pemain orkes mirip melihat anak SD disuruh maju kedepan kelas untuk periksa kuku. Para pemain saling dorong karena mereka "kurang maklum lagu jatuh bangun..."

Hampir saya milih dieliminasi dari keharusan menyanyi kalau pemusiknya bingungan begitu. Akhirnya saya membawakan lagu Terajana yang dibawakan secara petak umpet dengan pemain orkesnya.


Dapat Saweran

Ditengah hingar bingar musik yang jalan sendiri-sendiri (jujur saja saya bukan penyanyi, tetapi nekad), penonton ikutan berjoged dan beberapa yang mabuk memberi kode lambaian tangan agar saya mendekat ke bibir panggung. Rupa-rupanya mereka akan memberikan saweran.

Maka tangan saya sibuk memegang saweran sambil terus bernyanyi. Bahkan ketika lagu saya akhiri mereka minta diteruskan lagi. Dan nyawer lagi.....

Usai satu lagu sambil memberikan hormat kepada penonton uang saweran saya serahkan kepada MC orkes sambil saya tambahkan sedikit dari kocek saya. Saat turun panggung MC berkomentar "wah kalau semua penyanyi seperti bapak ini... kami bisa banyak duit..."

Inilah salah satu daya tarik, mengapa saya suka menghabiskan waktu libur di desa terpencil bernama Citayam ini.


Citayam 4 April 2004
Mimbar Seputro

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com