Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Rudi Heibat dan Rudi "tidak hebat"

Date: Thu Oct 28, 2004 8:29 pm

Suatu hari Kak Seto Mulyadi di depan anak-anak asuhnya menceritakan Indonesia mempunyai lima Rudy yang memiliki nama moncer. Disebutkan masing nama dengan prestasinya sehingga menjadi terkenal seperti Rudy Habibie (genius, pesawat), Rudy Chairudin (masak), Rudy Hadisuwarno (salon), Rudy Salam (film), dan Rudy Hartono (bulu tangkis). Nampaknya anak-anak memang mengenal dengan baik ke lima Rudy tersebut. Lantas Seto Mulyadi tanya lagi, dari kelima Rudy tersebut yang paling hebat alias "paling menangan" - eh anak-anak menjawab "Rudy Habibie" alasannya bisa
bikin pesawat, ahli matematika.

Lalu Mulyadi tanya lagi, kalau Rudy yang paling "keciiil" sambil menunjukkan ujung kelingking. - anak-anak menjawab "Rudy Chaeruddin" - "Lho bukannya Rudy Chairudin" terkenal di TV, uangnya banyak - pernah ATM diserahkan pembantu kepercayaannya, 80 juta dikuras habis termasuk banda yang lain, 800 anak-anak yang dikumpulkan pada suatu sore di penghujung Juni 2003 itu mengatakan alasan mereka "soalnya dia bisanya cuma sreng-sreng." Kata mereka sambil menggoyangkan tangannya kekiri dan kekanan.

Kesimpulan yang didapat, anak-anak sudah terbentuk "paradigma" diwarisi orang tua mereka bahwa menjadi "ahli matematika" merupakan prestasi yang hebat dan sukses. Kelak mereka dijuruskan ke IPA (pasti) karena jurusan tersebut mencetak anak-anak heibat dalam teknology. Disekolah-sekolah, anak cerdas selalu dikelompokkan ke IPA, diiringi senyum kebanggaan sang orang tua dan pandangan minder atau malahan masa bodoh dari teman lain yang tidak beruntung bisa masuk IPA.


***

Namun, sekolah favorit di Yogya, justru melakukan test IQ dengan menyaring anak cerdas dan memasukkannya ke IPS. Alasa pendidik sekolah tersebut, anak hebat, cerdas yang didik ilmu sosial dan bahasa akan melahirkan ekonom tangguh, diplomat andal, negosiator ulung, politikus yang mampu mengubah opini dunia. Ketimbang ahli matematika yang biasanya sibuk bikin pesawat, robot dan tidak perduli akan politik, ekonomi dst. Bisa dipastikan para orang tua murid (IPA=Cerdas)akan protes kepada pak KepSek.

Dalam sebuah diskusi dengan Romo Mangunwijaya (alm), menyimpulkan bahwa penjurusan dengan azas praduga (cerdas = ipa) merupakan warisan kolonial yang ingin agar para pribumi cerdas cuma berkutat kerja di Laboratorium, dan kegiatan yang tidak menggoyahkan posisi penguasa saat itu. Orang tua yang memiliki anak tidak pintar matematika, tidak perlu malu, dan anaknyapun tidak perlu minder. Anak-anak yang lebih suka menggambar, kemungkinan besar anak dengan imajinasi tinggi yang diperlukan bagi seorang pelukis.

Seorang ibu mengeluhkan anaknya yang selalu mendapatkan nilai 85 atau 90 dalam mata pelajaran bahasa Inggris sekalipun ia mampu menjawab semua ulangan yang diberikan oleh gurunya. Alasan pemberian "diskonto" karena anak ibu tersebut suka sekali "ngobrol". Padahal anak-anak yang suka ngobrol, mungkin saja calon politisi atau negotiator yang baik. Anak-anak yang "talkative" kalau diarahkan untuk menulis apa yang ingin dibicarakan bisa-bisa menjadi penulis yang hebat.

Tak heran kalau melihat tokoh tiba-tiba yang maju dibidang politik, masih sering terdengar nada sumbang melecehkan "lho kan dia waktu sekolah bodo, jurusannya saja IPS"
Lalu ditutup dengan kalimat baku seperti menyalahkan diri sendiri "nasib kali"

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com