Rojali anti Jamban

Akhirnya kesampaian juga cita-cita saya memiliki sebidang tanah yang diubah sebagian menjadi kolam ikan. Cuma, Karena jarak kolam ikan dengan tempat tinggal kami relatif jauh, maka kami cuma bisa berkunjung pada akhir pekan saja sambil membawakan beras, lauk pauk untuk sang penjaga kolam. Sang penjaga rupanya pandai bergaul sehingga seringkali rumah kami dikunjungi para peternak ikan dan terjadilah tukar menukar informasi. Informasi yang sering saya dapatkan adalah, memanfaatkan sumber daya yang disediakan alam. Petani setempat pintar betul memelihara hewan peliharaannya tanpa harus merogoh kocek. "Kalau bapak pelihara ikan Gurame, biar dolar manjatnya tinggi bener, bapak cuma perlu kasih pakan daun talas (senthe), kalau pake pakan pabrik (pelet), bisa bangkrut pak!"

Seorang bocah yang kerapkali membantu di kolam kami adalah Rojali. Dia datang disela-sela pekerjaan menunggui kerbaunya merumput. Cuma bayangan saya bahwa angon sambil duduk meniup suling di punggung kerbau sudah harus saya musnahkan dalam benak. Karena suling sudah digantikan "gameboy" sekarang ini.


Dari Rojali saya banyak belajar teknik memberi makan ikan Gurame, menetaskan telurnya, mengamati kelakuan Gurame yang sedang berahi sekaligus menyaksikan acara perkawinannya. Gembira rasanya melihat anak begitu riang menyabit rumput untuk memberi pakan hewan peliharaannya padahal tidak jarang ia harus jatuh bangun di tanduk oleh kerbau peliharaannya. "Kerbo saya maunya dia yang jalan didepan, kalau saya didepan, dia ngambek."

Rojali juga ahli menyiapkan wewangian yang merangsang libido Gurame, hanya dengan menjemur kolam sampai dasarnya retak sehingga kalau terkena air akan menibulkan bau sangit seperti hujan rintik dikala kemarau panjang. "Gurame sangat suka bau sangit tanah kering"

"Apalagi kalau bulan purnama penuh, mereka sangat romantis," tambah Rojali.


Untuk menangkap Gurame, hanya dengan mengobak-obak air kolam plus memasukkan daun pisang kering (klaras), maka Gurame seperti terkesima dan manut saja dibopong, ditelentangkan ataupun dipindahkan ke kolam lain. Padahal gurame dengan bobot 4-5 kilogram perekor adalah termasuk raksasa untuk ukuran saya. Tapi di tangan Rojali, Gurame seperti jinak sekali seperti kucing peliharaan.

Cuma, ada yang mengganggu saya. Setiap kali urusan BAK dan BAB (Buang air besar dan buang air kecil), dia pilih melepaskan hajat di bawah pohon, atau pergi ke kali kecil yang jaraknya sekitar 30 meter dari kolam. Kalau di sinetron Tuyul dan Mbak Yul dialognya selalu "Mbak Ucil mau main dulu ke taman", maka yang ini di ganti "Jali mau main dulu ke kali."


Lama-lama kebiasaan ini menarik perhatian saya, mengapa dia selalu menjauhi kamar mandi yang lengkap menurut kami sudah dibuat sesuai dengan kaidah kesehatan. Padahal suasana kamar mandi dibuat apik. Untuk membersihkan kamar mandi kami sengaja tidak menggunakan Karbol sebab kuatir limbahnya masuk dan mencemari air kolam, yang akhirnya bisa meracuni ikan peliharaan kami.

Sebagai gantinya, kami taruh beberapa butiran kamfer (kapur barus) disudut kamar mandi. Apalagi kamfer sekarang sudah diberi warna sehingga mempercantik penampilan kamar mandi. Apalagi penduduk setempat gemar melahap lalapan sejenis pete atau jengkol sehingga bau kamar mandi jadi pesing menyengat hidung.
Rupa-rupanya Kapur barus berwarna warni inilah yang ditakuti oleh Rojali, keberadaan benda itu selalu diasosiasikan olehnya dengan perlengkapan penguburan jenazah. Dan Rojali paling takut melihat jenasah.

Sia-sisa saja saya menjelaskan, bahwa jenasah juga di letakkan di tempat tidur, mengapa dia tidak phobi dengan ranjang ? Entah sampai kapan Rojali tidak "keder" ke kamar mandi.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe