Puncak Everest

Date: Thu Oct 14, 2004 3:43 pm

Orang bule kalau menertawakan kepercayaan rakyat setempat memang "halus" tetapi "nyengkring." - alias menyengat. Dikisahkan pada suatu musim Semi 1966, rombongan pendaki Gunung sedang melakukan persiapan pendakian puncak yang tingginya 29028 feet dari permukaan laut. Biaya perjalanan ? tidak kurang dari $ 65.000 per-kepala. Sensasi yang didapatkan pada troposfer 29028 kaki, seorang berusia 30 tahun akan memiliki reaksi otak seperti anak Idiot (mental terbelakang). Cara berfikir jadi lamban, sulit untuk mengontrol anggota tubuh. Belum lagi gangguan halusinasi. Maklum paceklik udara. Berapa jam diperlukan untuk berdiri di puncak Everest? tidak lebih dari 5 menit. Sebab dalam waktu singkat badai salju akan menghantam puncak tersebut.

Untuk penyegaran, puncak Everest, atau nama Tibetnya Sagarmatha atau Jomolungma (cara Nepal) adalah salah satu dari beberapa puncak yang tinggi-tinggi di kawasan Nepal ini. Dalam pendakian mereka biasanya dibantu orang Sherpa penduduk negeri yang memang dilahirkan untuk naik gunung sambil membawa barang digendongan ataupun dijunjungannya.

Hari itu juru masak wajah masam (entah apa rasa masakannya), dari suku Sherpa bernama Chhongba mengatakan kepada Jon agar minta ijin kepada sang penghuni Everest. Iya kalau Bidadari Ayu bau "aromaterapi", kalau tiba-tiba ketemu yang ngePunk, bisa berabe. Ternyata dalam urusan penghuni alus ataupun bidadari, ada agen yang bisa menyampaikan pesan "dengan perantara" yaitu pendeta Lama. Seorang pendeta sakti dikabarkan menghilang 3 bulan lantaran puasa bisu, dan puasa bertemu dengan penduduk. Hari itu tapa bratanya "badar" alias khatam. Jadi orang pertama yang diberi kesempatan "ngalap berkah" ya mereka para pendaki Puncak Everest. Ongkosnya murah, hanya secarik "KATA" yaitu ikat kepala sutera persis dijaman reformasi dulu. Harganya di valutakan sekitar 2 dollar.

Maka pada hari ditentukan mereka menemui kepala Lama ini. Disebuah bangunan kecil dibelakang kuil, setelah melepas sepatu, Jon dan kedua temannya beringsut mengikuti Chhongba memasuki sebuah bilik kecil. Ia melihat seorang Lama gemuk, berkepala botak dan bertubuh pendek (sigh, aku banget). Inilah Rimpoche alias ulama besar suku Tibet. Singkat kata, "Kata" yang terbuat dari sutera segera diberkati dikalungkan ke leher mereka, dan pemandu berbisik gembira, "Dewa memberkati kalian semua. Kalian akan selamat sampai di Everest.."

Lalu Rimpoche memberikan isyarat agar mereka menyicipi teh yang disuguhkan. Saat mereka ragu-ragfu dan salah tingkah menyeruput teh hangat dan manis Rimpoche yang berjubah merah anggur berdiri dari duduknya di atas bantal bertilam kain brokat. Ia menuju sebuah lemari kayu lalu mengeluarkan sebuah buku tebal. Sambil tersenyum penuh welas asih "kitab" disodorkan kepada Jon. Berungkali Jon harus mengusap kedua tangannya ke bagian sisi celananya berulang-ulang agar lebih bersih sebersih-bersihnya sebelum menerima kitab yang mestinya sakral. Dengan hati berdebar, kitab mulai dibuka...

Itulah album foto perjalanan sang Rimpoche di Lincoln Memorial, Musium Luar Angkasa dan Jembatan Santa Monica. Rupanya "tapa brata" selama ini adalah lawatan pertama kali ke Washington, Amerika. Tidak heran wajah tuanya nampak kelelahan. Maklum "Jet Lag"

Foto yang paling disukai Rimpoche adalah saat berpose bersama "Richard Gere" dan
"Steven Seagal".
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe