Pulo-Pulo di Batavia

Date: Tue Nov 18, 2003 1:31 pm
Para ahli Geologi yang sudah sependapat Batavia terbentuk dari endapan alluvial sehingga wajar kalau lambat laun banyak terbentuk daratan berupa rawa-rawa lalu muncul permukiman baru seperti Kampung Luar Batang. Dan banjir-pun sejak jaman Kerajaan Hindu sekitar 4 SM mulai dikenal di kawasan Batavia.

Bagian tanah/daratan yang lebih tinggi dan dikelilingi rawa lalu diasosiasikan sebagai sebuah pulau (PULO). Di kawasan Citayam-Depok, ada sebuah pulo (pulau) namanya Pulo Keris yang sebetulnya blasteran antara sungai, rawa dan bekas selokan irigasi kebun karet. Nama Keris didapat karena banyak orang mendapatkan keris secara ghoib disana.

Wallahualam. Saya Harry Panca ... music serem...

Tidak heran kemudian ketika ditanah kering alias PULO tersebut ada yang subur akan tanaman umbi gadung, maka orang Betawi tidak mau repot-repot cari nama pahlawan untik nama daerah tersebut. Sebaliknya mereka menggunakan info bentang alam sebagai tetenger. Sebut saja PULO GADUNG, yang kala itu merupakan lahan subur dengan tanaman umbi gadung yang beracun jika tak pandai memasaknya. Namun yang ahli bisa mengolah
menjadi kripik yang rasanya renyah, kriuk, kriuk. Ketika ditemukan disuatu daerah penuh dengan pokok palem (gebang) yang tinggi dan besar, maka muncul kampung Pulo Gebang dan seperti rumus deret ukur, orang paham dengan asal nama Pulo Nangka, Pulo Asem dsb.

Tetapi cara "unofficial" ini sering dilanggar, misalnya memberi nama Menteng Pulo dan Kramat Pulo. Dasarnya karena orang Betawi kebingungan memberi nama. Pasalnya sudah ada Menteng Pisangan, sudah ada Menteng Rawa Panjang, jadi untuk Menteng yang belum ada namanya mereka main tabrak dengan menyebut Menteng Pulo, saya curiga ada orang Palembang yang campur tangan dalam penamaan ini sebab dalam Bahasa Empek-empek,
Menteng Pulo bisa berarti (masih) Menteng Jugak. Demikian juga dengan Kramat Pulo yang sebetulnya untuk membedakan dengan Kramat Sentiong dan Kramat Lontar.

Tetapi ada juga Kampung PULO. Dan ini rada lain ceritanya.

Asalnya adalah Mr. Senen seorang pendeta kaya asal Maluku yang pada tahun 1656 memiliki tanah yang luasnya SEJEM JALAN KAKI, maksudnya kalau anda berjalan kaki dengan kecepatan 5 km per jam, maka luas tanah Mr Senen ini ya 5 KM persegi. Dalam ilmu OTT Batavia (Oekeran-Takaran-Timbangan), satuan-satuan panjang bisa dikonversikan ke satuan jalan kaki. Di Jawa tengah ukuran jauh adalah "satu linting" rokok klembak.

Senen yang kemudian menjadi Kapitan Banda ini mengumpulkan kayu hasil kebunnya di suatu "staging area" yaitu suatu dataran yang dikelilingi Sungai Ciliwung mirip sebuah Pulo. Kayu ini di jual ke kastil Betawi dengan alat transportasi perahu. Lambat laun muncullah nama Kampung Pulo.

Kampung Pulo terletak dekat dengan pasar Jatinegara sekarang. Sebelah barat RS Hermina Jatinegara. Nama Kampung Pulo memang bikin para ahli utak-atik-gathuk tiada habis pikir.


Mimbar Seputro
0811806549
Tuesday, November 18, 2003 12534
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe