Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 02, 2006

Puasa di Amerika

Date: Mon Dec 13, 1999 2:10 pm

Sebuah Catatan Yusuf Iskandar dalam rangka puasa Ramadhan :

BERUNTUNGNYA PUASA DI AMERIKA

Yang namanya puasa dimana-mana sama, terlebih puasa Ramadhan yang sudah menjadi agenda tahunan umat Islam yang hukumnya wajib. Tapi ada yang hilang ketika saya puasa di Amerika, yaitu suasana tradisional yang biasa saya jumpai di kampung-kampung di Indonesia. Berduyun-duyun ke masjid atau surau untuk sholat tarawih, jalan-jalan pagi seusai sholat subuh, alunan tadarusan di tengah malam, canda anak-anak kecil menunggu takjilan berbuka puasa, adalah sebagian dari suasana tradisional yang seringkali justru merangsang ke-khusuk-an beribadah.

Namun, sebenarnya saya (dan juga umat muslim lainnya) beruntung berpuasa di Amerika. Kenapa?.

Beruntung yang pertama; karena saat ini di Amerika dan di belahan bumi bagian utara umumnya sedang masuk musim dingin. Maka bagi saya yang tinggal di negara Amerika bagian selatan cuaca menjadi relatif tidak panas sebagaimana dirasakan oleh orang-orang di katulistiwa umumnya. Bahkan menjadi dingin dan sangat dingin bagi mereka yang tinggal di Amerika bagian tengah hingga utara. Maka satu godaan puasa untuk menahan rasa haus dengan sendirinya mudah diatasi.

Beruntung yang kedua; karena matahari saat ini sedang ada di belahan bumi selatan, maka lamanya waktu siang hari relatif lebih pendek dibandingkan lamanya waktu malam hari. Sehingga matahari agak lambat terbit tapi lebih cepat tenggelam, dibandingkan dengan matahari di Jakarta misalnya. Maka periode tidak makan dan tidak minum karena puasa pun menjadi lebih pendek. Kalau di Jakarta orang harus puasa kira-kira 14 jam, saya di Louisiana cukup kira-kira 11 jam 40 menit. Bahkan bagi mas Bob Adibrata (di Colorado) dan di daerahnya mas Supeno (di Maryland) yang letaknya lebih ke utara, periode puasanya pun berkurang 30-35 menit.

Beruntung yang ketiga; karena di Amerika ada jasa layanan internet yang mengkhususkan diri di bidang pembangunan, dalam arti sebenarnya yaitu layanan membangunkan orang tidur (silakan cek-cek ke http://www.mrwakeup.com).

Tinggal kirim pesan minta dibangunkan kapan, jam berapa, pesan apa yang ingin disampaikan, maka pada saat yang kita minta, Mr. Wakeup akan menilpun dan menyampaikan pesan. Mr. Wake-up ini bisa membacakan pesan tertulis dan juga bisa memutar ulang rekaman suara kita (yang semuanya dilakukan dengan tata cara yang sangat praktis).

Maka sebenarnya tidak ada lagi peluang untuk “kerinan” (terlambat bangun), lupa nyetel jam, dsb, yang berakibat tidak makan sahur. Selama bulan puasa ini saya telah pesan kepada Mr. Wake-up agar saya dan keluarga dibangunkan untuk makan sahur pada jam 04:25, dan hingga kini ternyata memang tidak pernah bohong.

(Saya membayangkan seandainya layanan ini kelak meluas ke seluruh dunia termasuk ke negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tentu kalau tiba bulan Ramadhan Mr Wake-up ini akan “ngos-ngosan” melayani pesan pembangunan dari sekian ratus juta orang yang minta dibangunkan makan sahur dalam periode yang hampir bersamaan).

Anyway, puasa memang bukan bisnis untung-rugi. Puasa juga bukan soal kuat-tidaknya menahan haus dan lapar. Puasa adalah satu-satunya ibadah yang langsung berurusan dengan Allah. Puasa adalah bisnis pribadi secara langsung antara makhluk dan Khaliknya. Saking pribadinya, sehingga Anda tidak perlu tahu saya sedang puasa atau tidak, saya juga tidak perlu tahu Anda puasanya benar atau tidak. Karena itu puasa punya credit-point tersendiri di mata Allah, sebagaimana janji-Nya : “Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku, karena itu Aku juga yang akan menakar bonusnya”.

Puasa adalah ibadah bernilai tinggi yang nyaris tanpa modal. Modal “dengkul”-pun tidak (lha wong orang yang tidak punya “dengkul” juga wajib berpuasa, dan secara teoritis tidak akan menjadi halangan bagi puasanya). Puasa dijalankan dengan tanpa perlu nggelar sajadah atau kalungan sarung, tanpa perlu ONH, tanpa perlu kelebihan rejeki untuk zakat-infak-shodaqoh (kecuali jika menginginkan ibadah sampingan). Kalaupun tidak punya rejeki untuk makan, Insya Allah tidak akan ada orang yang memembiarkannya tidak sahur dan tidak berbuka. Karena modal yang diperlukan untuk puasa sedikit saja (tapi susah dan berat, kalau tidak terlatih), yaitu : “imaanan wakhtisaaban” (iman dan penuh penyerahan diri — hanya kepada Allah).

Selamat berpuasa Ramadhan.-
(Nola, 12 Desember 1999)

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com