Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 11, 2006

Plengkung Yogya

Nasib Beteng atau kastil di Betawi akhirnya cuma bagian sejarah tanpa bekas-bekas yang bisa disaksikan oleh generasi sekarang. Akibatnya Jalan Pintu Besar di bilangan Jakarta Kota, misalnya, menjadi sesuatu yang absurd bagi generasi sekarang. Lain lagi dengan beteng-beteng di Yogya yang masih bisa dilihat jejak peninggalan sultan terdahulu. Sementara pihak ada yang berpendapat bahwa kalau saja plengkung "lupa" di bangun di Yogyakarta, mungkin kita tidak memiliki peninggalan masa lalu. Sampai saat ini di Yogyakarta cuma dikenal ada 4 (empat) plengkung atau gapura dengan plafon yang melengkung indah sehingga diberi nama tersendiri. Padahal aselinya plengkung ini ada 5 (lima) buah.

Sayang sejalan dengan waktu, sebuah plengkung dibuntukan yaitu plengkung Suryomentaraman pada 23 Juli 1812. Menurut buku yang ditulis oleh KRT Partahadiningrat, penutupan plengkung ke-lima ini dibuat syair "mijil" yang menyatakan "Plengkung Lima, mung papat mengane"- arrrrtinya (gaya Komedian Tarzan), ada lima Gapura Mlengkung tetapi hanya empat yang terbuka.

Pasti ada larah-larahe (sebab musababnya)

Konon sejak Sultan HB II, plengkung ini dijaga perjurit-perjurit kraton, bahkan ada kanon di atas plengkung. Ternyata senjata jenis artileri berat ini bukan cuma pajangan belaka melainkan di fungsikan tatkala ada penyerangan tentara Inggris yang disebut "GEGER SEPEI."

Plengkung-plengkung ini ditutup setelah jam 20:00 dengan upacara khusus, dan dibuka KUMBALi tepat jam 05:00 diiringi barisan korsik juga. Lagu pengiring penutup pintu plengkung namanya Lagu Sumedhang dan lagu pembukaannya pintu plengkung adalah adalah Lagu Clunthang. Selepas jam 8 malem tidak ada orang masuk atawa keluar beteng. Instruksi penutupan ini datang dari Kagungan Dalem Pancaosan di Bangsal Kemagangan. Jadi memang sudah ada Undang-undangnya. Tapi ternyata ada lagu ke tiga yang dikumandangkan pada jam 18:00, yang bernama Kinjeng Trung. Dan lagu ini bukan extra lagu melainkan isyarat agar pintu Kraton harus sudah tertutup rapat. Pintu-pintu
kraton diberi nama seperti Magangan, Danapertapa, Srimanganti dan Brajanala.

Ketika Nippong masuk, upacara-upacara yang indah dan anggun ini distop sampai waktu yang sampai sekarang.

Lantas bagaimana dengan orang yang rada mbalelo, kemudian ingin masuk "jeron beteng" jika pintu sudah tertutup?. Tak soal bagi penduduk "njeron beteng" tinggal bilang "Lapuuur (bukan lapor), mau keluar njeron beteng" - sementara tamu dari luar tinggal ketuk pintunya serta mengatakan maksud dan tujuannya. Toh jaman dulu acara bunuh diri pakai bom belum ngetrend seperti sekarang. Biasanya yang sudah paham akan ada uang "smeer" sebesar satu benggol (uang tembaga buat kerokan), yang diartikan suka sama suka.

Satu benggol senilai 2,5 sen sudah cukup untuk menyantap satu "pincuk" bungkus daun dengan "lawuh" atau lauk telur bebek rebus, (areh) bumbu lambaran, atau sepotong paha ayam yang dagingnya mudah sekali mrotoli. Lizaaad Dzidaaaan.

[waduh jadi inget bu Larko di belakang BP, gudegnya glek-glek nyem-nyem]

Gapura Plengkung yang pertama adalah gapura NGASEM, tapi namanya Gapura JAGASURA, karena pasukan elit gerak cepat yang disitu adalah kompi Jagasura. Gapura di kawasan Tamansari namanya JAGABAYA, maksudnya menjaga dari marabahaya. Dan yang di Gading bernama NIRBAYA dasar orang Jawa ini bisa di otak-atik artinya Sirnaning Bahaya alias
hilang bahaya. Gapura ke empat di Suryamentaraman namanya Madyasura tapi ada yang "keukeuh" mengatakan namanya Tambakbaya. Plengkung ke empat inilah yang dibuntukan sejak 23 Juli 1812 dengan alasan tidak jelas bagi saya.

Gapura ke-lima terletak di Yudonegaran diberinama Gapura Tarunasura sebab yang menjadi penjaganya adalah para kawula muda yang gagah perkasa.

Gapura-gapura sekarang dibiarkan mlompong tanpa pintu sehingga seperti toko AM/PM atau Circle K, alias 24 jam sehari dibuka blak-ngablak. Dan cerita Penjaga dan Uang Sebenggol cuma tinggal kenangan.

Trus kenapa Gapura en Beteng itu dibangun?

Adalah seorang sultan HB I pada 1784 melihat perlu dibuat suatu sistem pertahanan semesta berencana dengan membuat beteng. Sementara beteng Rustenburg yang buatan Belanda sudah dibuat untuk melindungi wangsa Olanda dari serbuan musuh.

Pembangunan ini membuat orang Belanda merasa tersinggung martabatnya sebab hak bela diri dari dulu memang hanya boleh dipegang orang Belanda yang notabene kulit putih. Lha, ini kok inlander Jawa pingin buat beteng? Hopo Tumon.

Lalu Residen pada waktu itu Ijseldijk dipanggil dan dimarahi oleh atasannya lantaran membiarkan orang Jawa bikin beteng, tanpa sempat dicegah. Bisa-bisa ratusan tahun kemudian mereka kepingin punya Sukhoi.

Tapi lantaran jaman dulu, maka isue Benteng-gate belum sempat mampir ke para anggota parlemen. Yang lebih menggelisahkan Belanda, ada meriam buatan pande besi Yogyaseperti prototipe yang di pajang di museum Sanabudaya dan Srimanganti. Nggak jelas apakah pembuat meriam ini adalah cikal bakal pabrik Purasani yang akhirnya menjadi UPN "Veteran" yang akhirnya menjadi hotel mewah di Yogyakarta.

Di luar beteng ini dikelilingi oleh parit yang mengalirkan air jernih. Tetapi sejalan dengan pertumbuhan masyarakat yang membangun rumah sekitar beteng, maka amat sulit untuk menemukan bekas-bekas parit disekitar beteng Yogya.

Benteng di Yogya pernah diukur memiliki keliling sejauh 5000 meter. Tebal beteng berkisar 3,5 meter dengan ketinggian antara 3,5-4 meter. Ada yang percaya bahwa pembuatan adukan semen dilakukan dengan sedikit ribet sebab "pakai telor", mungkin maksudnya dilakukan oleh tukang batu yang kelaminya lelaki dan tidak dikebiri telornya alias orang kasim. Wallahualam.

Pengamat Wedang Ronde Jokteng dan Pelahap Bakminya.
Date: Wed Aug 20, 2003 2:58 pm

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com