Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 08, 2006

Piso Lipet ArmySwiss

Hal yang menarik dari menjadi mudlogger adalah saat RigDown atau bubaran. Ini bisa terjadi karena kontrak sudah selesai, atau karena satu dan lain hal rencana pengeboran diselesaikan misalnya sumur ditarget 9000 kaki ternyata sudah mengebor batuan basement yang kerasnya nggegirisi di 6000 kaki, atau lumpur pengeboran sudah harus dinaikkan berat jenisnya (lebih berat) tetapi perabot bor tidak mampu mengakomodasi kenaikan berat jenis lumpur yang diinginkan. Dan masih banyak lagi.

Dari beberapa perkakas mudlogging, biasanya terselip sebuah pisau alat pemotong yang dalam inventory disebut pocket-knive. Karena sudah dipakai dan lupa diasah, biasanya pisau ini sudah ompong sana sini dan dianggap tidak laik pakai untuk proyek pengeboran selanjutnya. Daripada pisau mahal beginian dibuang di Singapore, bisanya saya "berbaik hati" mengamankan kedalam kantong saya sendiri. Toh bisa diasah di rumah diwaktu senggang.

SWISS ARMY KNIVE

Sudah lama istilah ini membingungkan saya, lha tentara Swiss kan tidak terkenal seperti Ghurka-nya Inggris yang kalau sudah cabut golok Kukri, bisa bikin tentara komando lawan "kamikekelan" lantaran takut. Atau pasukan Legion Asing Perancis yang kondang karena terdiri dari orang bayaran yang biasanya memang gen DNA-nya orang jahat. Tapi bisa membuat mudlogging terkenal lho :-)

Simbah saya selalu memperingatkan untuk tidak main pisau lantaran bisa ke pemes" atau ke iris. Dan sampai sekarang tidak tahu dari mana asal kata pemes". Untunglah dengan adanya internet, selimut misteri asal nama Swiss Army Knive ini bisa terkuak. Kecuali misteri Pemes.

Pada 1889 ceritanya balatentara Swiss dilengkapi dengan senjata yang paling modern serta berlaras panjang. Celakanya senjata ini ada sisi lemah yang kalau disimpan ada beberapa bagian harus yang dilepaskan. Lalu muncullah ide mempersenjatai pasukan ini dengan obeng lipat yang akhirnya ditambah gunting pembuka botol, pencabut gabus, cabut uban sampai cungkil gigi, pendeknya pisau yang serbaguna. Dari sinilah istilah Swiss Army Knife mulai dikenal.

Sekalipun ide mempersenjatai dengan pemes tadi sudah ada dibenak para elit militer Swiss tahun 1886, tetapi serentak ide ini di realisasikan, eh pabrik pisau di Switzerland kelabakan lantaran tidak bisa menyuplai pisau dalam jumlah besar. Sehingga tender dicaplok pabrik Jerman yang kesohor yaitu Solingen.

Baru pada 1893 Paul Boechat, dari Swiss merebut kembali tender pembuatan pisau. Biar untung sedikit, asal bisa nggaji pegawai. Karena tendernya dalam jumlah besar, Paul mengajak bergabung dengan perusahaan Wenger yang dikemudian hari malahan melibas semua saham Paul tadi.

Sejak itulah pisau dengan merek Wenger mulai kondang. Dan mereka boleh bangga dengan Pisau Aseli Swiss dan bisa potong keju Swiss.

Tetapi pada saat yang hampir bersamaan sudah ada pabrik pemes lain yaitu Victorinox yang juga mengaku paling aseli dan paling nomor satu. Adalah Karl ELSENER yang pada tahun 1884 mendirikan usaha membuat pisau. Nama Victorinox adalah rasa ungkapan terimakasih seorang anak kepada ibunya Victoria. Sedangkan Inox adalah nama pabrik yang membuat pisau dari bahan baja putih. Jadilah merek dagang Victorinox. Sedangkan tanda silang SWISS dengan gagang warna merah baru diperkenalkan pada publik tahun 1909.

Ketika keduanya mendaftarkan diri sebagai perusahaan pertama yang mematenkan pisau lipet, maka pemerintah Swiss rada bingung. Apalagi kejadiannya masih jauh dari peristiwa penyerbuan PDI di jalan P. Diponegoro. Daripada dituduh ikutan negeri Indo (yang sekarang jadi NGERI Indo) lantaran menggunakan merek dagang Piso Lipet Perjuangan ataupun Piso Lipet Reformasi ataupun Piso Lipet edisi Kuningan, maka pemerintah Swiss mengumandangkan dua pabrik pisau lipet dengan slogan berbeda. Victorinox boleh berslogan, pisauku paling ASELI dari Swiss", dan Wenger berslogan "pisau ter"genuine dari Swiss".

Sebetulnya pisau ini tidak terkenal kenal amat sampai pada perang dunia II. Cuma waktu para GI mulai mengantongi pisau yang dikasih nama "Survival Knive maka terdongkraklah popularitas pemes tadi, mungkin kalau nggak ikutan pakai takut dikira teroris.

Di Indonesia kepopulerannya pisau ini meningkat lantaran ada filem miniseri MacGyver yang bisa mengatasi semua persoalan dengan pisau lipatnya mulai dari potong keju, kupas kabel dan astaga sampai mengelas bisa pakai pisonya. Sayangnya saya nggak boleh bawa pisau ini masuk kabin sebab tahut ngelasi bom di pesawat. Bahkan nail clipper solider dilarang masuk kabin.


Mimbar

Penggemar pisolipet tapi cuma punya piso stainless koleksi dari mudlogging puluhan tahun lalu.


Date: Fri Oct 18, 2002 10:41 am

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com