Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Peti Kemas

Date: Tue Oct 5, 2004 9:22 am

Pagi itu halaman parkir di jalan Vulcan, Perth nampak masih sepi dari kendaraan sehingga mudah bagi saya mencari tempat parkir. Seperti biasanya, kendaraan diparkir secara "backward park". Lha kok siangnya, sekitar 1 meter disamping kendaraan sudah teronggok sebuah peti kemas bercat coklat sepanjang 40 kaki. Prasangka buruk menggelegak. Jangan-jangan ada sling (kawat baja) yang menggores kendaraan. Di Jakarta, adalah lumrah sewaktu parkir pantat masih mulus, giliran di rumah sudah dibonusi bekas cat mobil lain plus penyok. Untung cat kendaraan masih terlihat mulus. Saya menarik napas lega sambil bertanya-tanya, kapan peti ini datang?

Lalu ingat di kampung halaman.

Sebuah peti kemas sepanjang 20 kaki alias ukuran separuh dari yang saya ceritakan di atas akan menelurkan cerita panjang serta kesibukan luar biasa di Jakarta. Mula-mula lokasi tempat penurunan peti kemas harus dibersihkan dari kendaraan lain yang parkir disitu. Biasanya salah satu korban adalah mobil saya yang harus pindah. Lantas seorang Logistic Manager akan hadir disitu diikuti Kepala Gudang akan mengerahkan paling tidak 1 orang asistennya. Kepala Security ikut mengamankan jalannya operasi penurunan peti kemas disamping seorang Safety Manager.

Di luar itu akan datang sebuah kontraktor mobil katrol telescopic. Biasanya terdiri dari seorang pengemudi dan kernet. Sementara truk Tronton pembawa peti kemas akan diawaki oleh seorang pengemudi dan seorang kernet, belum lagi pemakaian seorang tenaga militer yang memberikan pengawalan container sepanjang jalan. Minimal ada 9 orang dengan kualifikasi berbeda yang terlibat dalam sebuah operasi menurunkan petikemas 20 kali 8 kali kali 8 kaki dengan berat umumnya 9 ton. Waktu yang dibutuhkan untuk mengeroyok peti ini sekitar 1-2 jam termasuk koordinasi lapangan dan Safety Briefing. Istilahnya memang padat karya, longgar waktu. Jadi penasaran mau tahu proses "turun naik" peti kemas di negara lain.

Akirnya cita-cita saya kesampaian.

Setelah peti besi tersebut nongkrong di halaman kantor, pagi-pagi saya lihat sebuah mobil berbadan lebar dan panjang masuk halaman kantor. Hanya ada seorang pengemudi Bule. Ia turun dari mobil untuk mengecek keadaan container lalu ia masuk kembali ke kendaraan dan mengadakan sedikit manuver mendekati peti besi. Dari sisi tronton, keluar dua tangan robot yang mencengkeram bagian atas peti. Dalam hitungan menit peti sudah digendong diatas trailer. Tidak ada komando riuh "area (turun), boom kiri, boom kanan, tahan, stop, up-up" - semua dilakukan tanpa suara. Ketika serah terima surat jalan selesai, tak lama kemudian truk sudah berlalu menuju pelabuhan untuk mengirimkan peti kemas ketempat tujuannya.

Kalau saja mobil beginian diimpor ke Indo, apa tidak mungkin terjadi pemerkecilan pegawai lebih banyak lagi.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com