Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 16, 2006

Pesan Durian Datang Sirsak (13695)

Sekitar dua tahun lalu saya pernah menulis bahwa di Singapore saya mencoba cari durian Mon Thong lantaran selain rasanya lezat, dagingnya kenyal, tidak mengganggu sistem pencernakan saya, juga harganya yang berubah setiap waktu. Misalnya dipagi hari Sin 5/package, tetapi memasuki jam 10 malam harga diobral jadi sin $ 10 untuk 5 package. Lalu saya ingin mengulang success story tersebut baru-baru ini. Tapi celakanya kebanyakan encim pedagang buah menjawab dengan suara keluar dari baterey full "no more durian, no more cempedak.."

Rupanya selain memang belum musimnya, dinegeri ini pernah terjadi perang harga antar pedagang durian sehingga diambil kebijakan daripada saling banting harga, lebih baik "menyetop sementara" impor buah ini dari negeri lain. Dua pongge (biji durian dengan dagingnya) pernah sampai di bawah $1, sehingga perlu dilakukan tata niaga duren.

Dalam suatu kesempatan menengok ke City Square di JB "Malaysia" disebuah resto saya memesan jus durian. Sebelumnya saya tanya apakah punya Durian, lalu sambil menggelengkan kepala seperti melatih kobra, ia bilang "we have durian, we do have air tebu, kopi tarik, ice Tee "O", anything you want.." Namun saat dari pesanan didepan mata, Warna jus-nya terlalu bening kristal, padahal durian harusnya cloudy.

Benar saja kecurigaan saya terjawab minuman cicipi, lidah diterpa rasa kecut sebagai ciri khas sirsak yang di Indo dibilang "nangka belanda", dan disini jadi "durian belanda" yang disajikan. Gagal sudah upaya mencoba durian di Malaysia. Saat kembali ke Singapore, akhirnya kami temukan penjual durian di kawasan Jurong East, tak jauh dari stasiun MRT. Sekalipun harganya sedikit mahal hitung-hitung buat obat rasa kecewa di JB (Johor Bahru) ya saya beli juga.

Penjualnya berpesan tidak boleh dibawa pakai MRT (kereta api), tidak boleh dibawa dalam Bus, dan tidak boleh juga pakai Taxi. Konyolnya lagi, tidak boleh di makan ditempat. Sambil mengucapkan terimakasih, kami abaikan saja nasihat penjual durian reseh. Biasanya saya menggunakan bus atau MRT karena saya senang sekali melakukan "TAP" yaitu menempelkan kartu easy link yang saya simpan dalam dompet ke mesin meteran pembaca ongkos perjalanan. Sampai berbunyi "thot". Tapi khusus durian, saya lakoni pakai taxi, istilah jawanya. Di bela-belain. Rupanya sekalipun sudah dibungkus pakai saran wrap (plastik pembungkus makanan), di untel-untel pakai tas kresek dobel, ternyata uap durian mampir juga ke hidung supir taxi. Mula-mula dia hanya membuka jendela pintunya, namun uap durian (bukan belanda) yang membandel tetap menyeruak ke hidungnya. Lama-lama dia tidak tahan dan taxi dipinggirkan lalu meminta saya menaruh durian seceplik (sedikit sekali) ke dalam trunk taxi.

Baru keadaan menjadi "86" aman dan terkendali.

Ooh durian (bukan Belanda),

MBS
Doyan makan es potong durian, boleh makan di tempat.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com