Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Persiapan ke Perth

Date: Mon Aug 23, 2004 11:11 pm

Saya masih membutuhkan beberapa informasi mengenai banyaknya bagasi serta beratnya. lalu saya datangi posko Qantas di Menara BDN-Thamrin di lantai 11, saya tanya kepada mbak customer services soal maximum berat. Dia bilang maksimum 20 kilo, dan barang tentengan juga maximum 1 tas. Lalu saya mencoba menawar bahwa 20 kilo itu biasanya kurang mengingat harus membawa baju hangat yang bulky dan berat juga.

Dia bilang seharusnya untuk minta dispensasi harus mengajukannya beberapa hari dimuka tapi hari ini GM tidak masuk kantor, jadi bapak tetap diberi jatah 20 kilo. Lalu saya tanya, di Perth sekarang musim apa mbak. Dia tidak menjawab. Lagi saya tanya apakah membawa Indomie diperbolehkan, dia bilang "tidak" sebab barang yang menimbulkan bau keras. Belakangan saya nekad juga membawa "Pop Mie" dan Kopi Ginseng ke negeri Angsa ini. Hanya saja sesuai dengan laporan mas Yusuf Iskandar soal kacang bawang, saya perlu mendeklaraskan barang-barang tersebut ketika masuk Australia.

Kertas kerpekan
Berhubung sudah 7 tahun tidak mengunjungi negara tetangga berhawa dingin, maka kepergian kali ini terasa seperti orang baru sekali berpergian. Cermin diatas meja rias sudah dipenuhi oleh tempelan "post-it", toh masih terasa ada kekurangan. Lalu mulailah saya menggunakan metode menghapal jaman mahasiswa yaitu melipat kertas HVS menjadi empat bagian, dan mengisi "things to do" atau apa saja yang terlintas didalam benak. Usia mulai lanjut tidak bisa terlalu menggantungkan kepada daya ingat yang mulai menurun. Kertas ini saya kantongi sampai sekali waktu jatuh dikamar mandi dan tintanya "mblobor" sehingga seperti diingatkan bahwa balpoint saya perlu dibelikan cadangannya.

Baju hangat dilemari ternyata susah ditemukan entah tercecer dimana, terpaksa saya pergi ke Sarinah untuk membeli keperluan seperti sarung tangan, topi, syal, kaos kaki dsb. Begitu juga dengan baterai untuk kamera digital, sebab barang sederhana itu kalau di negara lain harganya mencekik dompet.


Electrical Plug
Semula saya ragu-ragu untuk membawa laptop saya. Lalu saya ubah rencana dengan tetap membawa laptop. Pasalnya sudah barang tentu banyak cerita dinegeri jauh yang sayang kalau dilewatkan begitu saja. Lalu saya mulai browsing melalui Internet saya ketahui bahwa "steker" listrik di Perth jauh berbeda dengan di Jakarta. Mereka menggunakan sistem terdiri dengan dua kaki pipih yang menyudut 45 derajat untuk yang live dan netral sementara satu kaki untuk ground. Daripada repot di Perth saya putuskan cari di Glodok. Akhirnya ketemu juga kombinasi colokan ini sekalipun diperlukan sedikit modifikasi. Hanya saja saya tidak berminat untuk mengurus driving license International di Jakarta. Padahal katanya disewaan mobil Hyundai Accent disediakan untuk keperluan kesana kemari, namun sekalipun cara mengemudinya stir kiri persis di Indonesia, saya memilih untuk tidak senekat mas Yusuf Iskandar. Kurang PeDe. Tetapi di Perth, harga 1 liter bensin premium adakah A 1 yang setara dengan Rp. 6676 hampir lima kali lebih tinggi daripada di Jakarta.

Rasa-rasanya semua persiapan sudah dilakukan. Tinggal menunggu pemberangkatan.

*****

Kalau Sir Thomas Raffles mendirikan kota Singapore atas dasar kesaksian seorang Pangeran dari Jawa yang melihat "penampakan" Singa jejadian di Temasek, maka Willem de Vlamingh penjelalah berkebangsaan Belandalah yang heran terheran melihat banyaknya angsa berbulu hitam yang berkeliaran di sungai Angsa pada awal abad ke 17. Ia lalu menamakan kawasan tersebut sebagai Swan River. Tidak jelas sejak kapan nama kota ini diubah menjadi Perth.

Bicara soal angsa hitam, saya ingat 5 tahun lalu pernah membeli mesin tetas telur sebab angsa saya tidak pernah mau mengerami telurnya. Oleh pihak pembuat mesin tetas yaitu Trubus saya diwanti-wanti bahwa belum pernah ada cerita telur Angsa yang bernuansa magis itu berhasil ditetaskan oleh mesin. Jadi pembuatnya tidak bisa mengatakan apakah angsa mengeram selama 21 hari seperti ayam atau 40 hari atau malah lebih lama lagi. Alasannya mereka pernah dititipi Angsa Hitam Ausralia milik Kris Biantoro, dan gagal menetas dalam mesin buatannya.

Mulailah saya belajar dari nol cara menetaskan telur. Mulai dari membolak dan balikkan telur agar mendapatkan pemanasan yang merata seperti apa yang dilakukan induknya, sambil menjaga kelembaban kamar tetas dengan memberikan air dibawah telur agar tidak terjadi dehidrasi dan telur tidak menjadi alot sehingga anak angsa sukar memecahkan diri dari cangkangnya. Ternyata setelah hari ke 30, telur angsa saya menetas. Saking senangnya sampai kami belikan bubur bayi untuk anak angsa yang baru menetas. Lantaran Grogol sekalipun terkenal banjir namun pelit air maka angsa muali diajari berenang sampai akhirnya mampu dilepas di hutan Citayam. Dari dua angsa yang menetas, satu angsa ternyata tidak bisa berenang.

Akhirnya ia mati menderita kelumpuhan pada kakinya. Ternyata diluar dugaan, telur angsa yang busuk banyak digemari kawanan bangsa dari negeri Percaya Nggak Percaya. Katanya mampu mengusir maling dan menepis santet.

*****

Masih soal telur menelur. Beberapa waktu lalu, untuk menarik perhatian publik maka managemen kawasan Puncak Pass Resort di Bogor membeli lima pasang angsa hitam impor untuk hiburan dan sejalan dengan waktu, angsa tersebut hilang satu persatu. Akhirnya pihak Puncak Resort menggantinya dengan beberapa ekor angsa putih kumal yang diperoleh dipasar Cisarua. Ternyata mahluk malang tersebut lenyap satu persatu.

22 Agustus 2004 Jam 15:35
Tanpa delay, Qantas QF 140 sudah mulai memanggil penumpangnya. Sebentar saja saya sudah melesat diketinggian 35000 kaki dengan kecepatan sekitar 700 km per jam untuk menempuh perjalanan hampir sejauh 2500 kilometer lebih ke arah selatan Indonesia. Pesawat Boeing yang berkapasitas 271 penumpang ini nampak meliwati rute Denpassar. Katanya musim dingin tetapi para penumpang tenang-tenang saja pakai T-shirt, ada yang ber Tank-Top. Gile bener. Disebelah saya duduk seorang penumpang dengan warna kulit terang. Hampir setengah jam berlalu, ketika saya mulai "suntuk" lalu mengajaknya bicara, rupa-rupanya ia teman yang enak diajak bercakap-cakap dan semula ia sangka saya orang India sehingga malas untuk diajak berbicara. Kami berkenalan dan namanya pak Handy.

Pak Handy sudah mendapatkan PR (Permanent Resident) disini, punya perusahaan di Jakarta, di Perth dan di Singapore. Dua anaknya sekolah di Perth. Ia hanya bawa satu tas kecil yang menurutnya Video Game yang beli di Glodok. "Disini mahal, lagian kalau bajakan tidak bisa dijalankan disini. Tapi kalau Video Game aseli Perth, sekalian mahal sekalian anti bajakan. Maksudnya dimasukkan game bajakan bakalan nolak. Tapi kalau mesin dari Jakarta, dikasih aseli hayuh, dikasih bajakan hayuh.

Nampaknya soal melanggar hukum memang kalau ada Olimpiadenya kita bisa jadi juara umum terus. Pak Handy memberikan nomor handphonenya dan berjanji akan membawa saya jalan-jalan melihat kota pelabuhan Freemantle. Satu lagi keluarga baru saya dapatkan dinegeri orang. Pramugari Qantas mulai menyapa penumpang satu persatu sambil mengedarkan menu makan malam hari itu yang terdiri Beef saus tiram atau Bakmi Hoakien. Di daftar menu dituliskan besar-besar bahwa selama perjalanan maka daging B2B tidak dihidangkan dalam makanan.

Didepan saya duduk sekeluarga dari Indonesia nampaknya sudah lama di kota Angsa, saya dengar bahasa Inggrisnya anak-anaknya enak didengar dengan cengkok dan celatnya serta Pitch Control yang baik. Kadang mereka bicara dengan bahasa campur bahasa Indo, "ibu mbak Sarah mau pipis". Penumpang cilik ini mendapatkan perlakuan khusus dari pramugari. "hi there is everything okay, whats your name..." - Saya lihat ia menyapa Sarah, dan seperti umumnya anak Indonesia, saat disapa jadi malu.

Perjalanan selama dua jam pertama masih okay, namun memasuki perairan Benua Australia, suasana dingin mulai terasa. Cepat-cepat warm coat saya kenakan sementara pak Handy sendiri sudah mengenakan Jaket kulitnya. Filem Hellboy yang ditayangkan di layar putih sudah tidak menarik perhatian saya lagi.

Lalu filem menayangkan prosedur pendaratan. Mulai dari imigrasi, declare barang, sampai mencari Taxi. Di layar menawarkan wisata naik bis, naik tram, naik andong, bersepeda, makan di pinggir pantai, melihat dunia ala seaworld dsb. Semua dikemas dengan baik. Diantara pemutaran filem pilot dari ruang cocpit menerangkan bahwa udara diluar sekitar 10 derajat, hujan dengan badai angin. "will be fun," katanya. Entah kuping saya yang rada conge apa dia bilang fine, atau fun nampaknya bagi telinga sama dan serupa bunyinya.

Turun menuju ruang imigrasi, saya lihat suasanya pelabuhan lengang sekali. Lalu pengumuman ada dimana-mana mengenai peraturan bea-cukai dan imigrasi. Di loket-loket imigrasi layar LCD mengumumkan bahwa sampul Passport harus dibuka sebelum diserahkan kepada petugas imigrasi untuk mempermudah proses scanning (pemindaian). Akibatnya kenyamanan yang tadinya hanya cukup menyelipkan slip perjalanan seperti kartu embarkasi diantara lembaran sampul passport, terpaksa harus dipindahkan ketempat yang lebih aman. Mudah-mudahan saja tidak hilang. Orang Indonesia banyak yang memberikan sampul pada passportnya. Pertama melindungi passport, kedua untuk menyelipkan surat-surat imigrasi, dan yang ketiga biar dikira warga negara bukan dari tempat tereseh didunia. Setidak-tidaknya begitu kata mereka.

Giliran mengambil bagasi, telinga saya mulai mendengar celoteh-celoteh dialog Jawa yang medok. Ini kok seperti Singapore Jilid Dua. Seperti halnya negara maju, portir tidak dikenal disini. Saya bersalaman dengan pak Handy dan janji akan tilpun dia manakala ada waktu luang dan dia berada di Perth. Di Bandara ini pula saya bertemu cewek "NG" acountan perusahaan saya terdahulu. Cuma dia nampak terburu-buru dan agak
percaya nggak percaya saya ada di Perth.

Hal yang lain adalah dihapuskannya kewajiban mengisi kartu embarkasi. Cukup kartu deklarasi barang yang terlarang masuk. Saya semula panik, jangan-jangan ada prosedur yang saya lewatkan ternyata memang demikian aturan mainnya. Di depan petugas pabean yang berbaju lengan pendek warna biru benhur dan bercelana panjang biru tua, saya langsung ngaku saja bawa makanan ini dan itu. Itu lebih baik daripada belagak yakin tahu-tahunya bawa barang terlarang pasalnya Visa masih single entry.

Petugas mulai menthelengi pop-mie yang saya bawa. "Sepertinya keturunan India.." rambutnya dikucir kebelakang. Untung di bagian luar pop mie ada etiket yang berbahasa Inggris sehingga memudahkan bagi kami untuk menerangkannya. Sementara kopi Ginseng ala CNI tidak diindahkan. Dia hanya tersentak melihat saya membawa obat mampet selagi sempet. Saya bilang, saya mudah terkena sakit perut, apalagi dinegeri lain. Lalu tas saya mulai di X-ray.

Di seberang saya ada pemeriksaan atas diri seorang penumpang. Seorang bapak dan istrinya muka Asia ini sungguh diluar dugaan. Ia bawa telur asin, kue seperti kue satu, minuman, buah-buahan, mungkin jenang dodol yang jelas semua dilarang. Lha kok nekad bangget. Lebih asyik lagi ketika ia menjawab handphone didepan petugas. Kali ini petugas custom memberikan peringatan bahwa sebelum keluar bandara, handphone tidak boleh diaktipkan. Tidak heran waktu urus visa tempo hari saya melihat gadis counter memarahi seorang applicant yang asik berhahahihi.

Lepas dari Custom maka giliran cari Taxi. Katanya Taxi selalu minta uang didepan, nyatanya mereka hanya bilang bahwa ada extra charge $2 disamping argo. Dia seperti ragu-ragu ketika saya bilang "go ahead". Mobil dihentikan lalu dia menekan sesuatu. Sebuah tanda terima bernilai A 2, "biar yakin dan jangan ada komplain dibelakang hari..." katanya. Lagu India mengalun, Yusuf demikian nama Taxi-man. Mula-mula ia tanya "anda tahu jalan ke Canning Vale", saya bilang "No, you show me."

Diperjalanan Yusuf mulai menyanyi lagu India (pasti dikiranya saya keturunan India lagi). Sekali-kali saya dengar ada syair "muhabbat... muhabbat..." - akhirnya saya terpancing ngobrol. Dia bilang semula adalah Tax-man di Bombay, lalu pindah jadi Accountant di Zamboanga. lalu pindah ke Australia dapat promosi hebat jadi TAX-I man. Tahu bahwa Yusuf rencananya akan "ndagel" saya timpali juga, "setidak-tidaknya dri tax ke TAX-I anda sudah untung satu hurup. Yaitu "I" -

Dasar India, giliran saya ndagel dia bingung. Cuma hidungnya yang makin bengkok.
Malam hujan angin tetap menyelimuti kota kecil ini, ditengah terpaan hawa dingin saya melihat bahwa highway Nicholson selain lurus maka jarak antara bangunan satu dengan lainnya sangat jauh. Maklum secara geografi, Perth diapit sebelah kiri oleh Lautan Hindia, kanannya Gurun dan ditengah hutan. Kondisi ini mengingatkan saya dengan Houston. Dan baru malam itu saya tahu bahwa Perth yang saya bilang masih berjarak 20 kilometer. Nama daerah industri di Barat Australia ini adalah Canning Vale. Lha ini seperti mengaku anak Jakarta, tapi tinggal di Bekasi.

Supir nampaknya kurang paham dengan lokasi, sebentar-sebentar ia buka map (apa ya buatan Gunther dari penerbit Jambatan?), dan jangan harap bisa bertanya kepada seseorang ditengah hujan dan dingin yang menusuk sumsum ini. Setelah berputar cukup lama sampailah saya pada sebuah bangunan. Sebuah Hyundai Accent merah nampak diparkir disana, untuk keperluan para peserta meeting.

Dan pintu rumah tersebut sudah saya memorize kodenya. Maka masuklah saya ke rumah yang mereka namakan Staff House. Perlu waktu beberapa saat mempelajari mesin pemanas bertenaga gas ini. Barulah perut menjadi lapar sebab bagaimanapun saya terbeban travel pada suatu daerah yang belum dikenal. Sepanjang jalan, saya tidak melihat adanya supermarket yang masih buka. Saya lihat penyewaan video EZZY yang biasa jadi
tempat mangkal di Grogol ternyata memang biangnya berasal dari Australia. Akhirnya Pop Mie saya buka, ditemani dengan Kopi Ginseng CNI sebelum akhirnya naik ke ranjang.

Besok apa bisa saya jalan pagi di kedinginan yang menusuk tulang ini. Yang lebih penting bagaimana caranya ke kantor yang katanya di Bell Street, katanya di Belmont.


NAMA SAYA JOHN

Ada dua hal yang perlu saya tangani di Perth yaitu akses internet dan handphone.

Disini tidak dikenal istilah Warung Internet sementara fasilitas di kantor amat terbatas. Tetapi ada jalan keluarnya, sebuah perusahaan kartu tilpun Telstra menjual Starter Kit untuk Pre-Paid Internet access. Harganya sekitar A 35 untuk 35 jam selancar. Kalau tidak dipakai, akan expire dalam 45 hari. Sebuah CD starter diberikan guna memudahkan proses instalasi dan langsung akses ke Internet dengan beralamatkan bigpound.com, dengan akses ini seorang pengguna langsung bisa berselancar di Internet dan mendapatkan e-mail addres gratis dengan nama belakang bigpond.com. Saya memilih "Telstra" hanya karena nama perusahaan ini yang muncul pertama kali di layar handphone. Istilahnya kesan pertama lebih menggoda. Selebihnya ada Vodaphone, OptusNet dan masih banyak yang lainnya.

Cara instalasinya mudah sekali, cukup masukkan CD maka software langsung membuat dial-up connection, nomor tilpun perusahaan internet yang belakangan namanya BigPond. Akses ke internet luar biasa cepat sehingga saya puas dengan jumlah uang dikeluarkan. Puas (tapi dompet lemas) maka saya perlu mencari nomor Simcard Handphone agar mudah mengontrol biaya tilpun yang biasanya membengkak. Sekali lagi saya beli starter kit Telstra-Prepaid plus yang harganya $25. Lalu aturan pakai adalah, GSM baterei fully charged dan tilpun ke customer services di 125-8887, dan "nengkene rusake" - nomor tilpun tersebut sepertinya cuma hiasan belaka. Apa karena after "office hours" maka mereka sudah pulang semua. Kalau sudah begini, lagi-lagi kagum akan pelayanan di negeri kita. Di tanah air, kalau sudah beli kartu perdana, langsung "teng-jeng-jres" istilah Titik Puspa kalau menggambarkan hal yang mudah dilakukan. Tetapi di Perth, anda masih harus memutar nomor tertentu, lantas disambut oleh operator dan mulai bertanya tinggal dimana, kode daerah, perusahaan yang menanggung, nomor passport, password dsb. Seorang teman dari Papua Nugini, berulang kali dia tanya cara mengaktipkan HP-nya ternyata juga banyak sekali pertanyaan yang harus dijawab. Sebetulnya kalau penduduknya tidak terlalu banyak, Indonesia bisa lebih nyaman untuk dibanggakan sebab segala sesuatunya murah dan meriah.

*****

Setelah berkali-kali usaha mengaktipkan nomor Handphone dengan cara menilpun nomor yang tertera di sampul depan tapi tidak dijawab oleh operator, maka saya mulai logged-in ke website mereka di Telstra.com. Seperti biasa saya diminta mengisi nama, alamat, nomor tilpun yang bisa dihubungi (lho beli nomor mobile kan karena tidak punya tilpun), sampai ketika masuk ke SUBMIT. Ternyata hasilnya "gagal maning". Alasannya data yang saya berikan tidak akurat. Nama pertama saya Mimbar atau Bambang atau Saputro atau Seputro ternyata tidak dikenal dalam database mereka. Padahal apalah artinya nama kata Shakespeare. Ketika saya menuliskan nama jalan Hibiscus, misalnya maka program komputer mereka masih reseh dengan menanyakan apakah nama itu adalah nama jalan, gang, avenue, drive, highway dan seabreg-abreg kuis yang kalau salah jawab tidak mungkin putri malamya "ngegol-bujur" melainkan hubungan internet terputus.

Sial bener.....

Akhirnya saya ganti nama depan saya dengan John dan kali ini akal-akalan saya malahan dibenarkan oleh sistem Prabayar Telstra. Congratulation katanya, tilpun and sudah diaktipkan Mr. John. Saya senyum kecut sendiri. Mustinya pakai nama boong "Ed" biar menjadi Mr. Ed tokoh kuda dalam serial filem TV tahun 70-an. Atau malahan kalau Osamah sekalian.Yang herannya saya diberi nomor pin dan password. Katanya kalau ada keluhan bisa lebih cepat ditanggapi dengan pin dan password. Tapi wong tilpun saja tidak diangkat angkat bagaimana bisa mengharapkan lebih dari itu.

Ya sudah, wong mau jujur kenapa susah bener ya. Paling tidak saya sudah punya nomor baru 04395 172 52 yang kalau dari tanah air, dimodifikasi menjadi +61439517252
Lalu saya mulai tilpun keluarga di Jakarta. Ternyata 3 nomor tilpun dirumah semua dinyatakan, tidak dalam jangkauan. Saya coba menghubungi mereka dengan SMS, Bisa! - dan ketika mencoba menilpun "gagal maning..." - akhirnya saya nekad menilpun handphone to handphone. Langsung pembicaraan tilpun berlangsung.

Ini musti akal-akalan orang Australia cari duit.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com