Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Perbudakan di Batavia

Menurut Bintang Betawi 15 Juni 1903, beberapa puluh tahun lalu di kediaman Dokter Papelard, Noordwijk, sebelah timur Toko van Arcken dulunya adalah pasar budak. Syarat-syarat orang yang bisa dijadikan budak adalah orang yang tidak bisa bayar hutang dan bangsa yang kalah perang.

Kenapa Perbudakan bisa terjadi kita moesti balik kanan melihat ke belakang...

Ketika Jan Pieterzoon Coen yang baru datang dari Maluku langsung mangkal di Pulau Onrust di kawasan Kepulauan Seribu, mula-mula sih tujuannya sekedar berdagang, maklum cuma pengusaha. Tetapi ia juga melihat lemahnya pertahanan pangeran Jayawikarta maka sekalipun "Senjata Biologis" tidak ditemukan di Jayakarta, ia tetap merangsek dengan persenjataannya yang mengerikan untuk menggempur Jayakarta.Pada 30 Mei 1619, dalam semalam Jayakarta jatuh. Sementara Jayawikarta ditawan dan para pendukung pangeran kocar kacir dan tidak mau bekerja dengan Kompeni. Beberapa diantaranya bergabung dengan pasukan Mataram yang kelak berniat menggempur balik VOC. Sebagian ada yang menetap di luar Betawi yang waktu itu hanya kampung kecil di muara sungai Ciliwung. Tapi banyak juga yang menetap abadi akibat tenggelam atau sakit.

Karena banyak penghuni Jayakarta yang kabur lantaran takut di pansus, atau tidak mau KTP baru, maka banyak tanah garapan (Percee) yang terbengkalai tidak terurus dan akhirnya menjadi semak tempat bersembunyi ular dan buaya, belum lagi wabah penyakit menular. Untuk itulah Kompeni mendatangkan para tenaga kerja dari luar Jawa seperti Banda, Sulawesi dan Bali (baca budak).

Heirannya orang Jawa (Mataram) dan Sunda (Pajajaran) tidak termasuk dalam daftar "tenaga kerja favorit" sebab dikuatirkan masim menyimpan dendam tak sudah lalu bersekongkol dan lalu memberontak. Ini cilaka, ini musuh dalam selimut. Cari makan di Jayakarta, tapi hatinya ditempat laen. Ibarat pedang bermata dua. Mula-mula koeli ini
dimanfaatkan untuk membuat kastil (termasuk pembuatan Pintu Besar) dan dibebaskan menjadi orang merdeka setelah proyek pembangunan kastil selesai. Tetapi dengan membanjirnya banyak penggawe Kompeni, kebutuhan budak semakin meningkat. Kalau pasokan dari Nusantara terlambat datang, mereka mendatangkan dari Afrika. Cuma tidak dijelaskan apakah mereka juga membawa Lele Zumbo (Dumbo) dan Tilapia Mozambica (Mujaer). Tahun 1673-1681 separuh penduduk Betawi adalah budak. Penguasa tidak Darurat Inggris yaitu Rafles mengenakan cukai budak yang cukup besar. Sehingga menurunkan minat orang memelihara budak. Setelah Inggris hengkang, Belanda meneruskan aturan bahwa setiap budak dikenai pajak 2,30 gulden per bulan. Dan perdagangan budak marak kembali.

---ooo---

Pasar Budak di kawasan Weltevreden tak ubahnya pasar Sapi. Orang membeli budak seperti halnya membeli seekor binatang, termasuk dengan acara dicambuki. Budak yang ditaksir disuruh berjalan maju,mundur, berputar persis seorang pragawan dengan kekecualian muka mereka adalah muka kelaparan dan ketakutan. Kalau yang ingin dibeli adalah budak
perempuan seluruh tubuhnya diperiksa. Anda pernah melihat belantik sapi dan calon pembeli melakukan transaksi dagang. Demikian kiranya yang dilakukan terhadap para budak. Jika wajahnya cantik, pasti harganya mahal sebab bisa dijadikan nyai. Para budak ini diasongkan dimana ada pasar malam. Acara penjualan budakpun digelar dan umumnya menarik perhatian khalayak. Apalagi dipasar malam yang disediakan cuma budak perempuan yang cantik-cantik yang nantinya banyak dijadikan "nyai" atau gundik. Anak-anak yang dilahirkan dari hubungan bawah tangan ini kelak menjadi penggede Betawi. Sehingga koran Bintang Betawi menulis "kita biasa menyebut pembesar dengan nama Eropa padahal sebetulnya masih keturunan (budak)." Terjemahannya, namanya doang para pembesar itu ke-Eropah-eropahan, tetapi sebetulnya cara gaulnya sih budak. Setelah Betawi mempunyai koran, maka iklan di koran Betawi cukup gencar menawarkan budak. Adpertensi di harian Bataviasche Koloniale Courant, misalnya menuturkan : "Dijual seorang boedak, pintar mengurus anak dan pintar menjahit. Sekarang mengasuh Julia 8tahun, Rooko 3tahun, Pandang 3 bulan. Siapa boleh minat, bole minta keterangan pada kantor lelang."

Pembeli budak (fiskal) umumnya datang bersama para bujangnya. Bujang ini nantinya akan mencambuk para budak seperti orang mencambuk kuda. Tidak heran para budak umumnya tidak berani macam-macam, kecuali Untung S dari Bali milik Pieter Cnoll yang malahan menjalin cinta dengan anak majikannya sehingga dijebloskan di penjara bawah tanah di Stadhuis (Museum Jakarta Kota). Tapi Untung S bisa membebaskan diri bahkan memimpin pemberontakan.

Penggawe Kompeni memang hidup "ngadi-adi" alias mewah dan manja, bayangkan, di rumah de Klerk di Molenvliet memiliki 100 budak , 16 diantaranya jadi pemain musik rumah tangga. Lalu van Riemsdijk anak Pejabat Kompeni memiliki 200 budak yang bernilai 3300 rijksdaalded (i rds=2,5 gulden). Di kediaman van Der Palm memiliki 105 budak terdiri dari 65 lelaki dan 40 perempuan. Bauer memelihara 57 budak lelaki, Heijnes 43 budak, Goldman 25 budak, van Bensechemk 34 budak, Baron van Lutzon 25.

Tidak ketinggalah babah seperti Tan Poeng Ko, Lim Goan Ek dan majoor Khouw Kim An. Padahal dalam sejarah mereka adalah budak-budak juga. Hanya karena keuletan dan keahliannya menghalalkan segala cara mereka bisa mendongkrak kehidupannya menjadi Tuan Tanah atau Pedagang kaya sementara pribumi rekannya tetap menjadi budak. Para babah ini memanggil para budak perempuannya dengan nama indah seperti Mawar, Anyelir, Sina, Netti, Sroeni, Kenanga, Melati. Tidak jelas apakah ini panggilan sayang, atau karena nama aseli budak perempuan itu terdengar ditelinga agak "kampungan" sehingga perlu di modifikasi. Ada yang mencurigai ini adalah rayuan gombal karena dikemudian hari banyak yang dijadikan "nyai" atau gundik.

Sehubungan dengan implementasi Staatsblad Januari 1860, barulah perbudakan dilarang dan semua hamba sahaya harus dimerdekakan. Jadi kalau kita sekarang keukeuh mau jadi TKI atawa TKW, dan rela di cambuki dinegeri orang maka pertanyaannya.

Jangan jangan ..... Nenek moyangnya dulu bukan seorang kapiten atau pelaut ...


Mimbar Seputro
20 Jun 2003

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com