Penyembuhan dengan tertawa

Bagi Norman Cousin, rasanya dunia kiamat dan langit bakalan ambrol ketika saat ia mengalami kelumpuhan justru para dokter memvonisnya bahwa ia mengidap penyakit "ankylosing spondylitis" atau penyakit degenerative yang merusak sistem collagen yang bertugas mengikat cell-cell tubuhnya. Ibarat NKRI, 26 Propinsi "mokong" semua.

Keesokan harinya dia "check-out-check-out" dahulu dari rumah sakit yang merawatnya. Penulis ini tidak pulang kerumahnya melainkan check in kesebuah hotel. Disana ia mencoba melakukan penyembuhan dengan cara unik yaitu minum
Vitamin C dosis tinggi dan tiap hari menonton filem humor garis miring dagelan. Episode kehidupannya memang aneh, mengobati diri sendiri dengan Vitamin dosis tinggi dan Humor dosis sangat tinggi.

Dilupakannya ancaman penyakit dengan tertawa terpingkal-pingkal. Dan sekali lagi terbukti, manusia bukan mobil, ada "feature" yang belum terkuak oleh dunia modern. Dengan banyak tertawa, keajaiban terjadi, sel-sel tubuhnya memulihkan sistem kekebalan yang selama ini sudah hancur dan Norman kembali sehat. Otot Jantungnya yang pertama kali
dicurigai bakalan "KO" ternyata sehat, sel-sel tubuhnya tidak hancur.

Norman bisa kembali bekerja full time pada media Saturday Review. Bagaimana ia berperang terhadap penyakit dengan cara tak lazim ini bisa dilihat pada bukunya yang berjudul "Anatomy of Illness." (1979)

Inilah keajaiban yang sulit dimengerti oleh team dokter. Pada dasarnya tubuh manusia masih menyisakan sebagian besar undocumented feature. Kelebihan-kelebihan yang belum pernah diungkap oleh manusia, dalam hal ini Team Medis. Norman secara lebih spesifik mengatakannya sebagai :" misteri kehidupan adalah hal yang paling susah dipelajari oleh
manusia. Mahluk manusia tidak boleh menyerah dengan keterbatasannya dalam (pengobatan)"

Ia lalu menulis buku semacam "log-book" bagaimana ia mengatasi penyakit cuma dengan Vitaminn C dan Vitamin H (humor). Sekalipun seperti biasanya banyak yang sskeptis, namun dengan kepandaiannya sebagai editor dan penulis, ia mulai diminta memberikan ceramah dipelbagai Universitas. Khususnya Fakultas kedokteran.

Harap dicatat ia lulusan sekolah semacam IKIP di Universitas Kolumbia, dan jauh dari pelajaran Medik. Resepnya sederhana. Ketawa, ternyata obat mujarab, diakhir kesimpulannya. Dan jangan menyerah kepada keputusan dokter. "Kematian adalah hak prerogratif sang Penguasa Alam."

Norman Cousin menulis buku "Anatomy of an Illness as perceived by the Patient", buku semacam jurnal perjuangannya menjadi best seller alias terjual laris.

Serangan kedua menyerang pria kelahiran 24 Juni, 1915 ini pada Desember 1980. Ia terkena serangan jantung ketika ia sedang mengajar di California. Ditolaknya morphin pengurang rasa sakit yang diberikan oleh dokter, bahkan si badung ini menjadikan tubuhnya sebagai laboratorium. Masih dalam keadaan ditandu dia berceloteh "Gentlemen. I want you to know that you are looking at the darndenest healing machine that's ever been wheeled into the hospital."

Norman sekali lagi berhasil sembuh. Lalu ia menulis buku "The Healing Heart," alias bagaimana Jantung Memulihkan diri sendiri. Bagi yang percaya dengan dunia "non muggle" barangkali masih ingat Ki Gendeng Pamungkas sebelum berubah menjadi Ki Berpaling yang pernah menyebutkan bahwa orang yang tertawa sekali sehari dalam hidupnya, biasanya sukar untuk di guna-gunai atau di santet. Ki Gendeng barangkali hanya berbicara menurut intuisinya, kalau saja ia makan-sekolahan pasti teorinya akan lebih mendetail.

Atau para "Couch Potatoes" pernah melihat tayangan satu kelompok di India melakukan terapy dengan tertawa terbahak-bahak.

Ketawa itu sehat, murah, ternyata....
Dan pak Timbul, pak Tarsan bisa memberikan ceramah di Fakultas Kedokteran.

Mimbar Seputro
0811806549
Jakarta, Wednesday, June 25, 2003

Comments

Popular Posts