Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 09, 2006

Penumpang KA liar seabad lalu

Ternyata seratus tahun lalu, ada juga orang naik kereta lantas "ngemplang" tidak mau bayar.

Koran Bintang Bertawi 8 Mei 1903 melaporkan keributan diatas trem antara opas pos dengan kondektur yang kala itu disebut revisor (pemeriksa karcis trem). Ceritanya opas tersebut ketika ditanya karcis tidak bisa menunjukkan surat tugas. Padahal aturan yang disepakati, opas pos yang sedang bertugas saja yang boleh naik kereta milik Nederlandsch Indie Stoomtram Maatschappij secara prodeo. AKan tetapi opas yang off-duty akan diperlakukan sebagai penumpang trem biasa.

Opas yang "off duty" tadi lalu diusir dari kereta, tetapi karena opas tidak terima diperlakukan demikian. Dari baku caci naik jadi nyaris baku pukul. Untunglah keduanya dilerai oleh penumpang yang lain sehingga keributan tidak terjadi.

Kejadian samacem ini hampir selalu terjadi saban hari. Demikian kata Bintang Betawi.

Dahulu pelayanan dengan menggunakan jasa pos memang belum sebanyak sekarang, akibatnya sarana yang tersedia juga sedikit. Bahkan "fiets" masih belum mampu dibagikan kepada para opas. Mengingat jawatan kereta api sudah mempunyai infrastruktur yang luas maka dikeluarkan "prenta di bawah tangan" bahwa dalam wilayah afdeeling Betawi, para opas yang bertugas boleh naik trem secara prodeo.

Masih ada kesulitan yang timbul...

Misalnya seseorang dari distrik Senen bertugas mengantarkan surat ke Salemba awalnya sih dia naik trem sembari kasih oendjoek ia poenja kantung surat yang dibawanya, tetapi bila surat di Salemba habis diantar apakah si opas tadi harus jalan kaki dari Salemba ke Senen.

Buntut-buntutnya muncul akal-akalan dikalangan opas, caranya sewaktu bertugas misalnya tidak semua surat diserahkan kepada si alamat, biasanya disisakan satu atau dua sehingga bisa dijadikan alasan oleh opas untuk kumbali" naik tren dengan percuma.

Lama kelamaan akal bulus sang opas tercium juga oleh sang revisor. Ia juga hairan setengah mati lantaran sang opas yang pergi bawa banyak surat kok sorenya masih membawa surat yang sama sekalipun tidak banyak. Inilah yang selalu membuat perang mulut di tren seabad yang lalu...

Akibatnya sering terjadi keluhan bahwa banyak surat yang tidak diterima oleh para pengguna jasa pos sekalipun jasa pos cukup mahal pada waktu itu.

Jadi kalau ada orang ngemplang naik KRL, bisa jadi dia anak keturunan Opas Pos.

8 Mei 2003

Mimbar B. S
Keturunan Opas KNIL dari Purworedjo.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com