Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 01, 2006

Pendekar HAM

Date: Wed Sep 22, 1999 7:22 pm
Subject: Orang Pribumi Dilarang Makan Banyak.

Australia Pendekar Kemanusiaan ?

Nama Australia saat ini banyak dibicarakan oleh dunia apalagi oleh
bangsa Indonesia karena kebijaksanaannya yang dinilai merugikan
kepentingan Indonesia. Tetapi dimata Internasional, Australia dianggap
sebagai pendekar yang memperjuangkan hak asasi manusia. Australialah
yang paling ngotot mengajak dunia untuk menekan Indonesia baik secara
ekonomi maupun militer terselubung. Hasilnya hanya dalam tempo 2
minggu berpromosi hak asasi manusia, Indonesia langsung ditekan pihak
luar. Padahal Kosovo musti tunggu berbulan-bulan, baru menarik
perhatian dunia.

Pagi ini koran memberitakan bahwa, para "neo NICA" membawa ranjau
jenis "anti-personnel mines", hebatnya The Sydney Morning Herald yang
memberitakannya. Ranjau ini diperangi oleh Lady Diana sampai mati
(kecelakaan), karena banyak orang tewas atau cacat karenanya.
Sedangkan cara mereka datang dengan segala senjata pamungkas saja
lebih cenderung ibarat "Menembak lalat dengan Canon". Tapi karena naik
daun, ya orang senang-senagn saja melihatnya.

Melihat antusias warga Loro Sae menyambut, "Neo Nica" ini, apakah
kira-kira sama dengan sambutan bangsa Indonesai ketika "saudara tua
datang" hendak memakmurkan saudara tua di Asia Raya ?, saya telat 8 tahun
untuk melihat kesempatan itu.

Dipenghujung tahun 1990-an, saya bertugas pada sebuah proyek
pengeboran minyak dan gas bumi di Kutubu, Papua Nugini. Saya harus
menggunakan pesawat dari Singapore ke PNG, dari dari airport sana (apa
ya namanya sudah lupa), masih pakai pesawat jenis GladiPiper menuju
airstrip di Kutubu. Petugas pemberangkatannya, cewek kulit putih,
dimana-mana ya kulit putih yang urusi transportasi. Ketemu petugas
catering, Australia, laundry, Australia.

Partner kerja saya adalah aseli Papua Nugini. Rekan ini bahasa
Inggrisnya fasih, maklum di universitasnya dipakai bahasa pengantar
Inggris. Akan tetapi setiap berhadapan dengan kulit putih, dia selalu
mengambil jarak, atau paling-paling hanya tersenyum. Kalau diminta
pekerjaan yang sifatnya berhubungan dengan kulit putih, dia selalu
menggunakan pelbagai dalih untuk menghindarinya. Akhirnya saya yang
menggantikan tugasnya. Padahal Inggris saya amburadul. Tapi sikap
kulit putih terhadap saya ya biasa-biasa saja. Apa lagi rignya Parker
pernah kerja di Indonesia.

Rupanya setiap kali memasuki ruang kerja orang asing tersebut, dia
sering menerima perlakuan kurang bersahabat. Misalnya dia naik ke Rig
Pengeboran untuk mencari tahu apa yang sedang berlangsung, kerapkali
disambut dengan jawaban atau tindakan tidak bersahabat.

Suatu saat karena masih banyak pekerjaan yang belum selesai, saya
tidak bisa pulang "Base Camp" tepat waktu, padahal kendaraan antar
jemput tidak bisa menunggu lebih dari lima menit. Akhirnya kami
ditinggalkan, dan lebih celaka lagi, kami harus menunggu 12 jam lagi
sampai pergantian pekerja yang akan datang. Akhirnya teman menawarkan
jalan kaki, yang saya sambut dengan rasa gembira.

Jarak antara tempat kami menginap dengan lokasi menara pengeboran
(rig), bisa ditempuh sekitar 15 menit, tetapi dengan berjalan kaki
diantara hutan yang rimbun, membutuhkan waktu 1 jam lebih.

Bagi teman saya karena itu tanah kelahirannya, berjalan kaki diantara
semak belukar bukan menjadikan halangan, tetapi saya yang tidak
terbiasa, ini merupakan siksaan berat, ditambah sepatu kerja yang
makin lama-makin terasa berat, akhirnya saya putuskan untuk menumpang
kendaraan proyek pembangunan kilang minyak yang sering lalulalang
disitu.

Ketika teman saya mencoba menghentikan mobil, beberapa bule
hanya menghentikan kendaraannya, kemudian setelah tertawa mengejek
mereka tancap gas dan meninggalkan kami berdua. Akhirnya saya
memberanikan diri menghentikan kendaraan, dan teman saya berdiri dari
kejauhan. Siasat ini berhasil, dengan ramah saya diajak naik
kekendaraannya, tetapi alangkah kecewa mereka ketika tidak lama
kemudian, teman saya menyusul saya melompat kedalam Pikap terbuka.

Diruang makan, ada tulisan besar terpampang: "Pribumi, harap jangan
makan banyak-banyak. Diminta petugas catering untuk membatasi jumlah
makan yang diambil oleh orang pribumi".

Dengan kejadian diatas, apakah masih boleh menyebutkan Australia,
pendekar kemanusiaan ?. Apalagi itu dilakukannya dinegeri berdaulat
seperti Papua Nugini.

Sekarang Amerika. Suatu ketika saya dengan seorang rekan melamar Visa
ke kedubes Amerika di Jakarta. Teman saya visanya langsung disetujui,
tapi saya mengalami "interview" cukup lama, alasannya saya tercatat
berulang kali memasuki wilayah Pakistan, apa pendapat tentang politik
Pakistan, apa kamu lakukan disana, apakah suka dengan pemimpin
Pakistan, waktu saya jawab suka sekali, penginterview keningnya
berkerut, sukanya dimana ?,

"saya suka pemimpinnya karena dia c a n t i k".

Tahu sendiri kan Benazir yang hidungnya mbangir itu. Cerdas
dan berani lagi. Kalau saya bilang suka dengan suaminya Benazir dikir
saya sekelompok dengan profesor ayu "Jefry Winters"

Baru pembicaraan sedikit mencair. Memang sewaktu di Pakistan
banyak saya dengar, sekitar 200 an milisi dari Indonesia membantu
Taliba disana, tapi saya belum pernah ketemu.

Cuma kok ya hak asasi manusia seakan-akan dibatasi, kalau pergi ke
Pakistan harus orang jahat, didik sebagai teroris dan segala macam cap
buatan mereka. Nah kalau ini selalu didengungkan dinegaranya, tidak
heran kalau pemuda barat umumnya antipati dengan negara semacam
Pakistan dsb. Rupanya suntikan ini sudah terpola dengan baik.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com