Pemilu 5 April 2004 - mendukung SBY kali ini

Minggu 5 April 04 saya masih berada di Citayam - Bogor, semula saya pikir akan kehilangan hak suara. Untungnya setelah tanya sana sini, kartu coblosan saya akhirnya "diketemukan" di Kelurahan Grogol Petamburan dan saya mendapatkan bilik suara (TPS) nomor 24 yang terletak di jalan dr. Susilo Grogol.

Sepanjang perjalanan Citayam ke Grogol saya melihat para remaja berpakaian se"modis" mungkin sebab inilah acara bujang-gadis yang tak resmi. Bisa ketemu pacar, atau cari pacar. Yang sudah berkeluarga, acara lima tahun sekali digunakan untuk silaturahmi antar kerabat.

Di Citayam, anak lelaki 15-16 sudah maju jalan dengan semangat 45, untuk melakukan coblosan pribadi. Hatta menikah diusia sangat belia, menjadi tanggungan mertua adalah hal yang terbilang wajar. Prinsipnya daripada sempak (cd) melorot dimana-mana, lebih baik di"pool" disatu tempat. Satu-satunya sisa kampanye yang menjadi pembicaraan janji caleg untuk kasih uang bensin Rp. 20.000 yang ternyata masih sekedar wacana. "Boro-boro duit, air es ajah nggak keluar... sial bener." demikian umpatan anak muda (rata-rata panji klantung), gara-gara "dana kampanye" tidak cair-cair.

TPS umumnya dipasang di pinggir jalan sehingga tidak heran beberapa ruas jalan tertutup sehingga Kijang Silver (dulu abu2) harus melakukan manuver memasuki jalan tikus sampai jalan cindil menghindari keramaian dan kerumunan massa. Jam 10-an sampailah saya di TPS yang sepi. Kali ini kebingungan melanda. Seorang ibu dengan ramah memberikan bimbingan untuk menyoblos partai dan gambarnya. Ini luar biasa "kampanye di bilik suara masih dilakukan.."

Jarak saya dan ibu caleg cuma sekitar 480 mm. Tapi saya merasakan 480.000 tahun cahaya jauhnya alias jauuuuh banggget.

Para Caleg ini orang Grogol yang tidak saya kenal, andaikata saya kenal "kesannya" mereka orang jauh yang baru dekat setelah "ada maunya". Tetapi pilihan harus dilakukan. "Mak Gedanduk" ini istilah tiba-tiba, muncul gambar Sarwono Kusumaatmaja yang seperti menutup wajah caleg lainnya. Dan saya hanya menyoblos tanda partai nomor 9 tanpa coblos gambar caleg yang "ratusan tahun cahaya."

Partai ini dipilih semata karena simpati akibat dia di "ngis-ngis" oleh oknum partai arogan lainnya. Dari mulai julukan "anak kecil", sampai "mundur setengah hati" - Saya seperti melihat kasus "inul" jilid dua. Akibatnya saya yang biasanya apatis soal politik, tiba-tiba berubah menjadi semacam perlawanan. Tahu sih, partai baru mana bisa langsung menang. Kalau mau jujur juga sejak 1955, partai bernafaskan keagamaan juga umumnya salah langkah untuk menang. Kecuali akal-akalan seperti tempo hari. Dulu saya menyoblos partai Banteng setelah sebelumnya partai Kuning terus. Namun partai Banteng seperti kesetanan menjual aset Negara, plus kehilangan SIpadan dan Legitan membuat saya kuatir negara ini bakal habis.

Saat mencoblos hujan turun, dan sialnya bilik suara dibangun tanpa peneduh. Tapi apa boleh buat, coblos tetap coblos. Panitia sempat memperingatkan ada dua halaman yang harus dilipat dalam satu amplop. Saya bingung bagaimana melipat kembali dengan baik.

Ketika jari saya masukkan ke botol tinta. Ada aroma yang sangat saya hapal. Ini sekedar cairan PK yang biasa untuk membersihkan koreng. Tetapi konon didatangkan dari luar negeri. Padahal kalau saya mengobati gurami sakit dengan cairan PK, sampai seminggu-pun bekas tinta tidak juga lepas dari kulit.

Sebuah SMS masuk. Anak saya di KBRI Singapore tanya "Nomor partai SBY berapa?" - rupanya dia bingung. Dia akan bingung lagi kalau baca berita bahwa perhitungan suara elektronik TI yang dibanggakan KPU sebagai "tempered free" ternyata cuma macan kertas. Seperti yang dikuatirkan ayahnya beberapa waktu berselang. Sekarang saatnya lapar. Semua kedai tutup kecuali sebuah warung Bakmi yang biasanya tidak pernah saya lirik "Aboen, aseli ayam kampung". Tapi luar biasanya, kecapnya Cap Bango. Tanpa pikir panjang kudapan segera saya serbu...Wah lahap sekali makan.

Mudah-mudahan pilihan saya SBY bisa menjawab semuanya.
Dan tak sepeserpun saya dapat uang kampanye lho.


TPS No 24 Grogol
5 April 2004

Comments

Popular Posts