Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 13, 2006

Pawai Cap Go Meh

Date: Thu Feb 5, 2004 9:37 am 12838

Hari ke 15 Perayaan Imlek yang kesohor dengan punya nama Cap Gomeh akan jatuh pada Kamis 5 Februari 2004, ini hari. Orang Tionghoa bilang ini "top punya." Kalau warga Jawa Timur paling "Jangkrik - top tenan." - masuk sudah era Shio Monyet, yang ternyata memang mulai njailin "extreem kanan" seperti bra kanan Janet Jackson sampai ke era foto ala situs kaskus.com yang memuat bagian kanan Sukma Ayu "Rohaye" dengan
Bjah.

Perayaan ini tidak lepas dari euforia PP 14/1967 yang sudah dicabut masa Gus Dur, yaitu larangan bagi pesta agama dan tradisi Cina di muka umum. Waktu itu ada semacam kekuatiran bahwa bagaimanapun warga dari "daratan" ini punya kebudayaan yang sudah tua dan mengakar. Dari sejarah terbukti-punya bahwa dimanapun kebudayaan ini berada "hampir tidak ada matinya", tengok di Amrik, dengan China Town, atau di Indo orang lebih suka bilang TseTiaw (juta), NoBanGo, Ciong (sial), Coan (cocok), KwaMia (ramal). Bahkan kebudayaan ini bisa menempel dalam perayaan keagamaan lain secara unik. Itu kata orang tahun 1967-an.

Tahun ini perayaan Cap Go Meh akan jatuh pada tanggal 5 Februari (jadi maksud e-mail ini kalau ke Glodok bakal sepi-punya toko, tapi banyak orang di jalan). Tapi ketentuan pemerintah menggeser hari tersebut ke tanggal 8 Februari. Sekali lagi mereka memang "fleksibel-punya", hari digeser "tak ala masalah"

Direncanakan pawai akan bergerak dari Kelenteng Toasebio di jalan Kemenangan III (Petak Sembilan) lalu sekitar 9.30 peserta pawai bergerak di jalan Pintu Kecil, Asemka berkumpul di Taman Fatahilah. Jam 10.00 pawai akan berjalan ke Stasiun Kota, Glodok, Hayam Wuruk, berputar di simpang Olimo masuk ke Gajahmada dan kembali ke Vihara Toasebio. Keseluruhan acara membutuhkan waktu sekitar 5 jam.

Arak-arakan terdiri dari pawai bendera, drum band, delman, kendaraan hias, rebana, reog Ponorogo, gotong sisingaan, jangkungan, tanjidor, barong Bali, ondel-ondel, liong dan barongsai, peragaan penganting Cina Beteng, Pengantin Betawi, Pengantin Tiongkok, Cici dan Koko Jakarta Barat, Abang dan None Jakarta barat dan pelbagai kesenian Tionghoa lainnya.

Tidak lupa prosesi menggotong toapekong dan joli. Tujuannya membersihkan lingkungan dari "hawa buruk", wial (biar) dagang "ada bagus", lejeki wanyak masok , anak sekola ada-bagus, lumah tangga ada senang. Biasanya penonton rebutan gotong toapekong. "Ngalap berkah" Bagi yang jomblo berharap dengan menggotong Joli akan cepat dapat jodoh, bagi yang "dagang sial" berharap bisa membuang kesialannya.

Oom Kim Lee (68) warga Grogol masih mengenang saat Cap Gomeh '60-an, biasanya copet-copet di kandangin dulu, besoknya baru dilepas sehingga sekalipun pulang malam belum ada kejadian kecopetan ataw kerampokan (barangkali Om Lee belum pernah tahu pasukan Kobra bang Sjafii dari Senin). Lanjutnya "Joli yang digotong biasanya lebih berat daripada biasanya, maklum sudah ada "isi"nya." Itu kata Oom Kim Lee, sama dengan pendapat mengapa kalau menggotong keranda jenasah, lama kelamaan jalannya makin cepat.

Pedagang bunga sedap malam bakalan panen karena akan dipakai sebagai ubo rampe di klenteng. Buah-buahan yang laku keras adalah Jeruk Bali. Ikan Bandeng, laksa dan lontong adalah makanan favorit. Cuma bang Zaini pedagang bandeng di sentra bunga Rawa Belong sejak jaman Bung Karno melihat, orang Tinghoa jarang yang beli Bandeng.
Banyakan juga malahan orang Betawi. Maklum ada guyonan "kalau CapGomeh menantu kagak beliin bandeng, mending anak suruh cereein" - Jadi bukan si Emak saja yang selalu mengancam Bajuri dengan menarik kembali mandat atas Oneng setiap kali keinginannya di tolak.

Bandeng di Rawa Belong selain bentuknya lebih besar makannyapun bukan cuma pelet (pakan pabrik). Mereka dapat extra-voeding berupa bungkil kelapa dan roti tawar. Nggak heran seekor bandeng bisa berbobot 2-3 kilogram dan harganya mencapai Rp. 70.000 per ekor. Konon kalau digoreng, minyaknya lebih banjir. Tapi itulah tradisi seperti kata Maemunah (58) "Biar bukan orang Tionghoa kalau tiap tahun saya beli Bandeng disini (Rawa Belong), rasanya kok ada yang kurang kalau tidak beli Bandeng"

Semua masakan diembel-embeli CapGomeh. Anda kenal dong Lontong Cap Go Meh yang bau gorengan bawangnyapun bikin kita inget mertua tapi lupa kolesterol. Hanya Oom Lee yang sudah kehilangan acara tahunan 40 tahun lalu ini melihat ada yang sudah hilang. "dulu saya melihat sepasang tebu dipasang di meja sembahyang di rumah, tetapi sekarang saya tidak melihatnya lagi."

Sementara di depan rumah, beberapa penjual sari tebu sibuk menghidupkan mesin peras tebunya sambil mematok harga "Ayer Tebu, murni, aseli Rp. 2000"

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com