Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 08, 2006

Passport

Date: Thu Sep 19, 2002 4:10 pm

Mas Henry mengurus passpor sesuai dengan pengumuman di Kantor Imigrasi yang seperti diduga berakhir dengan kumbala-kumbali selama 3 hari untuk urusan remeh temeh. Dengan biaya hampir 3 kali daripada yang tertulis di papan pengumuman.

Mas Henry mungkin lupa bahwa dibeberapa tempat "terhormat" seperti itu, pemakaian jean dan sandal amat di haramkan, sebuah cermin biasanya dipasang disana. Maksudnya kalau kita berpakaian sopan dan rapih maka seluruh jajaran yang mengurus soal admin akan serapih, sesopan, sebersih pakaiannya. Perkara di lapangan berbicara lain, itu urusan nanti.

Soal pengurusan passport yang ribet ribet amat oleh mas Henry Lumbantoruan pernah saya alami. Setahun lalu tepatnya 30 Juli 2001 ban mobil dipasangi paku sehingga kempes, dan saat menengok ban itulah tas saya di embat. Ada handphone dan peralatannya, ada uang dan yang penting ada Passport.

Ketika berkehendak membuat passport baru ternyata aku ditanya Ijasah yang ternyata juga hilang. Perkara ijasah hilang ini dari SD sampai UPNVY tidak bisa saya ketemukan. Fotocopynyapun tidak punya. Saya cari dikantor saya sekarang barangkali ada arsipnya, nihil. Saya tanya ke perusahaan sebelumnya juga nihil.

Lalu rumah mulai di bongkar satu persatu, selama hampir setahun. Tetapi ijasah tak kunjung nampak. Jengkel aku berlagak jadi menteri Agama, tanya kepada paranormal barangkali bisa membantu melacak keberadaan ijasah. Jawabannya, mata bathinnya tiodak bisa melihat keberadaan ijasah. Gagal sudah usaha mulai dari bilangan rasional sampai ke persamaan irrasional.

Karena SMA (2) di Lampung, saya bisa minta bantuan keluarga disana dan berhasil mendapatkannya dalam waktu sebulan. Lalu saya hubungi mas Sudarmoyo di UPNVY dan dalam waktu 2 minggu ijasah bisa diselesaikan juga tanpa uang sepeserpun. Kalau ajak makan malam ya wajar, wong ijasahnya juga dibawakan dari Yogya ke Jakarta. Indikasi bahwa antara Perguruan dengan Alumninya masih bagus lho hubungannya.

Ada satu "blessing in disguise" bahwa saya pernah mendaftar ke perusahaannya lalu lamaran saya ditolak dengan alasan "ALAMAT TIDAK DIKENAL" - pertama saya marah mengingat jangankan alamatnya ke kantornya yang di Singapore juga saya pernah, dengan pemiliknya saya juga pernah salaman dst. Surat yang hampir saya uwek-uwek tadi saya simpan, dan siapa nyana dikemudian hari menjadi penyelamat saya. Foto copy ijasah itulah satu-satunya bukti bahwa saya pernah sekolah di UPNVY fakultas Teknik Perminyakan, tanpa itu mungkin orang akan menertawai saya sebagai orang yang nggak pernah sekolah tapi bermaksud punya ijasah.

Singkat cerita bulan Agustus saya sudah siap dengan amunisi untuk mendaftar Passport baru. Eh celakanya alasan bahwa "Passport Hilang" adalah alasan yang "IRRASIONIL" dan sampai mati orang tidak percaya. Alasan yang dianggap tepat adalah berbohong dengan mengatakan ruimah di landa banjir bandang yang dahsyat sehingga tidak bisa menyelamatkan harta maupun dokumen. Team yang untuk melaporkan kehilangan ini sudah ada, pokoknya saya terima beres asal 15 juta sebagai tanda jadi. Padahal September anakku wisuda, passpor harus beres, maka tanda jadi segera saya berikan.

Prosedur yang sedikit sinetron adalah masuk ruangan interogasi. Mereka tahu bahwa saya sudah pernah ganti passport 4 kali, tetapi interview dilaksanakan juga. Sekali tempo mereka tanya "barang bapak habis di rusak banjir?"
"Lha iya dunk pak, banjirnya hebat... segini karemnya," kata saya sambil membuat tanda berupa telapak tangan didepan leher.

Lalu bapak tadi beralih kepada Erni, "kalau gitu ibu punya passport?"

Eh yang ditanya malahan jawab, "kalau passport saya masih ada nggak rusak sama sekali!"

Ini cilaka 12 namanya, satu bilang rusak, satu bilang mulus, padahal ngaku hidup satu atap.

Akhirnya passport one day service terlaksana juga dengan total biaya hampir 3 juta (kurang dikit).... Dengan catatan hilang multuple Visa Amerika, Inggris, Canada. Ya sudah...

Moral cerita, "do not lost your passport....it worth of trouble"

dan jangan lupa simpan fotocopy ijasah, raport dsb...

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com