Pasar Tradisional vs Supermarket

Date: Sun Feb 27, 2000 12:49 pm

Dari jembatan Ampera, Palembang, yang memotong Sungai (orang Palembang menamakannya laut) Musi, kalau melayangkan pandangan ke tepian sungai, pada saat musim duku seperti saat ini, akan nampak para penjual duku menawarkan dagangannya dengan metode "free sample". Duku dijual diatas perahu "jukung", terombang-ambing diantara gelombang yang dihasilkan dari kapal yang lewat. Begitu kita mendekati mereka, sepiring duku (diambil secara random), langsung diangsongkan untuk dicicipi. Tidak ada obligasi untuk harus membeli. Sepiring duku sudah milik anda.

Kalau harga setuju, takarannya se canting atau se kaleng minyak goreng, bisa dimasukkan sumpit, karung terbuat anyaman tikar, atau kantong kresek juga boleh. Dijamin manis sebab ini duku dari Komering (orang Komering sendiri lebih suka menyebut diri orang Ogan). Kafi Kurnia dalam "Kompetisi", Gatra 26/2/2000 menyebutnya sebagai metode promosi yang paling efektip dan paling murah.

Bayangkan dengan metode promosi swalayan yang terkesan kaku, ada duku dipajang dengan harga sekaligus tulisan "Maaf dilarang mencoba".
Jangankan mencoba dagangan, mau potret disitupun dilarang. Contoh agresivitas pedagang tradisi, misalnya di jalan Tol. Kalau sudah melihat banyak asongan dijalan, ini indikasi ada antrian kendaraan yang panjang. Mereka langsung menyerbu pasar. Nalurinya yang menuntun ilmu lokasi, ilmu promosi dan ilmu customer intimacy. Di bank Agro, GRI - Kuningan, pedagang menawarkan CD, baju afkiran Choya yang bukan rusak tetapi kelamaan dipajang sehingga tampak berdebu, semua dilakukan "one to one".

Contoh promosi yang lain, seorang ibu konsumen pasar Grogol menceritakan bahwa kalau belanja di pak haji anu, selalu dihadiahi labu siem, kadang daun singkong. Bahkan kalau tidak belanjapun, masih sering dibawakan sesuatu. Kehangatan, atensi , ditunjukkan dengan mengatakan "Bu tadi pembantunya kemari beli tape sekilo."

Contoh kejujuran dengan mengatakan, "duku yang ini madu aje kalah manisnya, yang sono noh sudah dicampur Condet punya."

Sayang, pasar tradisional makin lama bukan makin ngejreng, tapi makin kumuh. Yang paling payah adalah faktor kebersihannya.
Penjual es Dawet favo saya, misalnya, balok es batu yang diantarkan oleh sang penjual diangkut dengan cara di seret pakai ganco panjang dari Depot ke angkringnya berjarak sekitar 100 meter (kurang dikit), tentunya meliwati gugusan kotoran, menembus halangan tanah becek. Bayangkan warna hitam dan bau busuknya becek. Yang aneh saya masih kembali ketempat itu. Dan lupa akan es yang digeret-geret.

Mungkin ini yang yang disebut Loyalitas Community. Hubungan bisnis berubah menjadi semacam "loyalitas", tidak ubahnya suasana politik sekarang, sudah tahu pemimpinnya tidak bisa berbuat apa-apa, masih mau dipilih.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe