Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Pasar Senin dulunya Pasar Minggu

Ternyata Pasar Senen dulunya nyaris menjadi Pasar Minggu.

Pada tahun 1901 terjadilah perubahan peta politik di Belanda dikarenakan Partai Liberal yang berkuasa selama hampir setengah abad dikalahkan oleh partai "igama" yang merupakan gabungan partai Kristen dan Katolik.
Sejalan dengan kemenangan partai yang baru ini yang bertekad menjalankan syariah agama, maka kebijakan partai pemenang mulai dijabarkan di Hindia Olanda, tanpa reserve. Dengan kata lain, urusan igama tiada bole dianggep cuek bebek.

Pada jamannya partai Volkspartij voor Vrijheid en Democratie (Liberal) berkuasa mereka bersikap bahwa urusan agama adalah urusan para pandita. Bagi mereka, kalau pandito ikutan berpolitik, maka cerita tak ubah bagai lakon Angling Dharma atau Nyi Pellet atawa Ken Arok. Tetapi partai yang baru menang ini lain lagi garis politiknya. Mereka membuat "prentah" baru, salah satunya penutupan kantor gubernemen di hari Minggu secara resmi.


Apakah Minggu bukan hari libur, demikian pertanyaannya?


Pada masa kompeni, hari Minggu dimuliakan benar bahkan ditetapkan "sekali-sekali tiada bole bekerja di itoe hari baek..." maksudnya para penggawe diharuskan menjalankan ibadah igamanya. Mirip hari Sabhat(u), dalam kepercayaan orang Yahudi. Persoalannya, sekalipun Minggu sudah semenjak dulu diterapkan sebagai hari libur, tetapi banyak para penggawe kompeni harus bekerja di hari tersebut lantaran harus "mengendalikan" pribumi yang tiada pernah
brenti melawan Kompeni. Alasan lain masih banyak para amtenaar yang bersemboyan "rajin pangkal naik pangkat" atau Turun "bero" dahulu ketepian, asal naik jabatan kemudian. Akibatnya banyak yang bangga kalau itoe hari Soendag masih bekerja.

Kondisi ini dipandang sebagai "tiada memandang sebelah mata akan prentah pemerentah Kolonial" , sehingga hari Minggu sebagai hari libur haruslah ditegaskan dalam bentuk peraturan dengan segala sanctie-sanctienya.

Di kawasan Veltevreden, misalnya, pengelola pasar bernama J. Vinck hanya diberi ijin membuka pasarnya pada hari Senin. Padahal peraturan yang dibuat gubernemen seperti dikutip oleh Javasche Courant pada tahun 1849 mengatakan bahwa pasar di Veltevreden boleh dibuka pada Minggu, Selasa dan Jumat. Tetapi adanya prentah "Mingguan", maka pasar
Veltevreden dibuka hari berikutnya yaitu Senen, dan sejak itulah pasar yang seharusnya bernama "Pasar Minggu" lambat laun berubah menjadi Pasar Senen seperti yang dikenal sekarang ini.

Bagaimana jika ada hari besar seperti Ulang Tahun Raja atau kerabatnya jatuh pada hari Minggu. Mengacu pada aturan Olanda, maka perayaan dilakukan pada hari berikutnya yaitu Senin.

Bahkan dihimbau apabila ada perayaan atau pesta dari "igama" lain seperti perayaan orang "Selam" yang jatuh pada hari Minggu, maka para pembesar Kumpeni dilarang untuk menghadlirinya kecuali ya hari berikutnya.


Mimbar Seputro
Hari Minggu tetep bekerja di Citayam.
Date: Thu Jul 24, 2003 8:15 am

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com