Overstromde seratus tahun yang lalu

Date: Tue Feb 24, 2004 1:54 pm 12941

Harian Bintang Betawi 27 April 1903 menulis :"Tadi malem ada turun (h) ujan sekitar pukul tuju. Amat kasian orang kampung Pintu Besar, Asemka, Pinangsia dan Jembatan Batu kerendam air hujan yang membawa segala kotoran di dalam ruma(h)-ruma(h) orang, serta membawa (h)awa busuk dan lumpur. Got-got di itu kampung keliwat kecil.. Jadi kalau keburu (h) ujan air tiada bisa keburu turun, jadi masuk meluap ke dalam ruma(h)-ruma(h) itu orang..."

Rupa-rupanya keberhasilan Belanda membuat daam-daam di negerinya membuat mereka lupa akan pepatah di Hindia Belanda yang berbunyi "lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya". Akibatnya ketika mereka mendirikan loji-loji di Batavia serta membangun kanal-kanal disekitarnya ternyata yang namanya banjir masih belum bisa dikalahkan. Mereka baru tahu bahwa pantai Jakarta yang memang landai tempat 12 sungai "arisan" di utara Jawa memang lain dengan air dinegerinya. Akhirnya kata banjir menjadi salah satu perbendaharaan orang Belanda menggantikan kata aselinya "overstromde"

Kekeliruan lain adalah lantaran merasa rindu dengan negerinya maka kumpeni nekad juga membuat negeri semacam edisi bajakan dari tanah Olanda. Ketika banjir mulai mengganggu, maka disamping kebingungan Kumpeni mencoba membuat peraturan dengan mengimplementasikan pajak "lumpur" alias "modder geld" untuk menggali lumpur di kanal-kanal mereka. Ahli-ahli gali got ini umumnya didatangkan dari daerah jawa barat sekitar Cirebon, Sandang karena memang fisiknya kuat dan liat.

Tetapi sekali lagi proses sedimentasi di Batavia berjalan lebih cepat daripada kemampuan mengeruk lumpur para kuli dari Cirebon. Dan seratus tahun lalu Batavia masih hutan liwang-liwung jalma mara jalma mati - ini saya petik bahasa pedalangan pokoknya hutan lebat. Jadi boro-boro mau melukai hutan lindung yang selama ini dituduh penyebab banjir. Hutan di kota saja masih bejibun jumlahnya. Macan dilaporkan masih sering menyerang penduduk kota. Apalagi buaya.

Sebagai perkiraan catatan perang Diponegoro (1825-1830) melukiskan bahwa orang Jawa yang tewas dalam perang tersebut sekitar dua ratus ribu orang, padahal penduduk Hindia Belanda seluruhnya baru 7 juta. Penduduk Yogya dikabarkan tinggal separo akibat perang tersebut. Jadi jangan heran kalau seratus tahun lalu pada Maret 1903 Residen Batavia membuat pengumuman di Java Courant sbb: "Lantaran (h)ujan keras, jalanan dari Tangerang ke Mauk terendam banjir. Jalanan dan gili-gili rusak semua. Kampung Sangiang, Kosambi, Jati, Tegal Kusir dan Mauk sudah kebanjiran dengan ketinggian air satu meter..."

Bung Karno adalah salah satu orang yang pernah mempunyai gagasan untuk memindahkan Ibu Kota Indonesia ke Riau yang sedang demam menggantikan Bupati dan anteknya. Ia yang dasarnya orang sipil sudah mulai meramal bahwa naga-naganya Jakarta bakalan tidak pas lagi untuk ibu kota negara. Cuma angan-angan BK akhirnya dipatahkan oleh musuh politiknya sebagai proyek Mercu Suar sehingga perlu diganti dengan kelompok Mercu Buana.

embees

Lantaran sudah terbiasa kena banjir. Mencari pembenaran. Bahwa banjir emang sudah jatah Jakarta dari sononya.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe