News

Loading...

Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Opium

Date: Mon Jun 30, 2003 8:19 am

Sejumlah selebriti, Kamis (26/6/03) ikut mengampanyekan gerakan anti-narkoba di Bundaran HI, Jakarta Pusat. Mereka, antara lain, adalah Cynthia Lamusu (AB Three), Nurul Arifin, Yosi dan Odi (Project Pop), Ari Wibowo, dan Tracy Trinita. Kampanye tersebut merupakan peringatan Hari Internasional Melawan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba. Berbagai instansi pemerintahan maupun swasta di Jakarta memperingatinya. Caranya, mulai dari kampanye di jalan sampai diskusi narkoba digelar sebagai bentuk melawan narkoba.

Dalam sebuah rumah besar terdapat beberapa bale-bale (pembaringan) dilengkapi dengan bantal, duduklah para penikmat opium mengelilingi sebuah cawan. Beberapa tubuh kurus kering telanjang dada, kepalanya menggunakan ikat kepala (iket), sarung dililitkan dileher. Seorang bocah usia belasan tahun nampak melayani keperluan para pemadat tersebut. Inilah pemandangan umum sebuah rumah madat di Betawi beberapa waktu berselang. Dan pemerintah Belanda melokalisir tempat ini secara terang-terangan.

Biasanya satu ruangan besar berisikan 30 pemadat, sementara bagi yang kelompok tajir, atau penggede yang ingin mengisap madat tapi sekaligus ingin "JAIM" alias jaga image didepan umum, disediakan ruang yang "eksekutip," tentunya dengan bayaran spesial.

Ayah saya bercerita bahwa pipa panjang yang disedot oleh para penyeret ini biasanya mengeluarkan bunyi "plup" dan itulah sedotan terakhir sebab setelah itu sang penikmat langsung melayang, mabuk diawan.

Candu adalah bisnis utama orang Tionghoa, seperti halnya bisnis permainan TOP (judi) dan pegadaian. Mereka bukan barang haram sebab ada aturan main bagi para pemborong candu (opium-pachter) dituangkan dalam Staatblad tahun 1898. Salah satu aturan yang keras adalah Candu hanya diperjual belikan ditempat tertentu. Daerah kawasan candu (opium-regie) hanya dikampung yang banyak orang Tionghoanya, misalnya Petak Baru, Pintu Pagerman, Tanah Abang, Pasar Senen, Glodok dan Jembatan Lima. Jam praktek
opium-kit ini dari 05:30 pagi sampai menjelang tengah malam. Siapa ketahuan berjualan candu ditempat lain langsung ditangkap oleh opas polisi. Para Opas yang bisa menangkap para penyeleweng (penjualan gelap) langsung diberi bonus hadiah."

Dasar Belanda, setelah menyadari bahwasanya uang hasil pejualan candu ini kenceng sekali masuk ke kocek para bandar (pachter)dan Bupati, maka anggota DPR jaman dulu ikut melicinkan RUU mengenai Candu Gelap agar disyahkan.

Pada 1 Oktober 1902, tempat penjualan Candu dipegang oleh gubernemen. Alasannya "itoe orang Cina trada hirau akan keselamatan anak negeri, melainken cuma dagang yang ia pikirken.."

"Alangkah mulianya itu niat baek para anggota DPR dan Gubernemen.."

Setelah aturan ini direalisasikan, ketahuan "trik jahat" sebagai agenda terselubung dari UU ini. Gubernemen malah langsung menggenjot pemasukan dengan membuka gera-gerai baru "opium-kafe" dibeberapa tempat dimana anak negeri banyak tinggal, misalnya Krukut, Palmerah, Kampung Makassar, Mampang, Cakung dan Babelan. Jadi dalih "ikut prihatin nasib anak negeri," ya seperti biasa cuma "kembang lambe"
alias lip services. Bahkan untuk mensosialisasikan permadatan, ada ruang tempat orang yang masih takut-takut akan madat. Sekedar kongko-kongko disitu, makan kwe-kwe dan minum coffe. Diharapkan setelah ada rasa "nyaman" baru mereka akan melangkah mengupgrade diri menjadi pemadat.

Agar untungnya lebih besar lagi, Belanda membuat sendiri pabrik candu di Salemba, diolah sendiri, didagangkan sendiri. Istilah ratusan tahun kemudian ONE STOP OPIUM SHOP. Sayangnya ketika jalan beberapa bulan, pabrik yang sudah dibangun mahal tadi malahan banyak nganggur lantaran "trend" berubah dari Opium ke "Jiteng". Jiteng alias tahi-madat. Ini adalah kerak madat yang dideposit dipipa-pipa, dan konon tergolong "empu-madat" sehingga dahsyatnya bisa dibayangkan, coba. Lagi-lagi Belanda membuat peraturan yang melarang Jiteng diperjual belikan. Tahi madat harus diserahkan ke pabrik Salemba.

Banyak pengamat yang menyaksikan, gara-gara mengisap madat alias nyeret, banyak anak negeri terseret hidup sengsara dan beberapa diantaranya melakukan bermacam-macam kejahatan.

Apalagi Bintang Betawi pada terbitan 29 Juni 1903, menulis bahwa candu gelap dijual di Pasae Senen seperti orang juwalan kwee-kwee. Konon para opas politie tiada terdengar perduli dengan penjualan candu gelap. Berita miring dan banyak benarnya mengatakan ini lantaran para opas tiada mendapatkan bonus sebagaimana seperti saat di pegang oleh Pachter Tionghoa.

Dari dulu sampai sekarang benang merah yang ditarik adalah, kalau asing ikutan bermain, anak-negeri ini juga nanti yang dirugikan.


MBS
Cuma pernah pakai "ayer-wangi" Opium
Mimbar Seputro
0811806549
Jakarta, Sunday, June 29, 2003

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My Photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com