Ngemut Tilpun

Suatu ketika sekitar jam 07.00 pagi saya menunggu client disalah satu bangunan sekitar Gambir. Karena masih terlalu pagi, para Satpam dan Resepsionis belum kedatangan banyak tamu sehingga suasana santai. Lalu mereka saling membicarakan skor pertandingan bola tadi malam, lalu tadi di rumah sarapan bubur atau cuma nasi goreng dsb. Pembicaraan yang ngalor ngidul beralih ke topik yang lain, yaitu penyadapan tilpun ala Monica Lewinsky.

Pertama sih cuma bla bla bla... saya acuh saja sambil baca Cerbung Mantra Penakluk Ular-nya Kompas. Tapi, tapi, lho kok miring... Saya tinggalkan Abu Kasan yang sedang didatangi bapak tua untuk menerima ilmu Komunikasi dengan Ular. Ular selalu dibunuh, dimusuhi, sebab di kitab-kitab agama dikatakan menggoda Adam. Jadi ada semacam pengesahan untuk membunuhi ular. Padahal ular juga "titah gusti". Kata sang Guru Ular sebelum lenyap dihadapan Abu Kasan Sapari. Baris selanjutnya saya tidak mood baca, karena ada orang cerita ngemut.

"Katanya kalau mau menyadap pembicaraan orang, menilpunnya sambil di"emut" Kata seorang resepsionis yang wajahnya mirip Iga Mawardi campur Terbinzky. Dari pertama masuk kantor, saya perhatikan dia cuma sibuk menyisir dan menggerai-geraikan rambutnya seperti iklan "siapa takut".

Segera kuping saya siaga satukan, kalau handphone, antenanya ditarik habis. Saya mbatin "the next conversation must be more than interesting". Apalagi image sekretaris kan selalu joke-nya dimiring-miringkan ke arah yang gitu gitu. Betapa kuciwa dan kuciwa saya karena mereka membicarakan topik fungsi switch board yang ada didepannya.

Cuma karena mbak resepsionis waktu pelajaran spell sering mbolos, maka tombol MUTE (miut), di alihbahasakan menjadi kalau di-EMUT. Lain kali mbok yao cari kata-kata nggak bikin saya deg-degan mbak, mbak.


Date: Thu May 11, 2000 9:45 am

Comments

Popular Posts