Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Ngakali Pom Bensin

Perth, Australia
Date: Sat Aug 28, 2004 12:56 pm

Zsevinski adalah nama bule belia asal New Castle (Australia Timur). Selama ini dia yang banyak mengemudikan kendaraan kalau kami berpergian. Pertama ia punya ijin mengemudi dan kedua sedikit tahu banyak kota Perth. Dia masih heran terheran pigimana bisa orang Indonesia kenapa harus makan nasi setiap hari. Sama herannya dengan perut mereka yang makan sandwich cukup dua potong, minum cocacola dingin dan itu namanya "lunch". Saya harus menjelaskan bahwa tanaman ini mirip wheat, berbiji-biji dan kalau sudah dikupas dari kulitnya jadilah beras. Eh dia masih tanya, kalau nasi goreng itu apakah nasi basi kemarin sore yang dikeringkan lantas dimasak ulang. Jawaban ini salah. Putri Malam Ngegol lebih syur. Tapi inilah "racial gap". Ada saja cerita negatip yang dihembuskan mengenai kejorokan suatu bangsa. Lalu dia tanya apakah beras yang panjang lebih enak daripada beras yang bulat. Putri Malam Ngegol lagi. Wrong answer.

Yang dia heran adalah fakta bahwa Berry Juice yang saya minum di Jakarta adalah impor dari Australia (entah apa yang diimpor), segala macam buah-buahan juga dari Australia. Lalu Pousai teman dari PNG bilang bahwa di negaranya sudah mulai mengubah menu makan dari keladi "taro", ubi jalar, pisang ke nasi, biar seperti Indonesia. Sulitnya dinegaranya kalau mencoba bercocok tanam, pemerintah Australia selalu menitahkan, lebih baik impor beras dari Australia. Lagi lagi Zsevinski melongo atas kata-kata Australi mengekspor beras ke PNG.... Pousai lebih ternganga lagi bahwa ada orang sebangsanya bernama "OGE", menjadi pemenang utama Olimpiade Mathematic. Dan dia orang Papua, dan biar menyangatkan, saya bilang dari desa yang berjalan berkilo-kilometer untukmenuju sekolahnya.
"Tapi kok saya ndak pernah dengar kehebatan orang Papua?," tanyanya lagi. Jangankan sampeyan 250 juta warga negeriku belum tahu siapa dia. Kecuali, yang sifatnya hura-hura, latah-sana-latah sini (istilahnya Rosihan Anwar - Globalisasi), nah baru semua orang tahu.

Tidak terasa dalam perjalanan pulang kami melihat bensin kendaraan sudah mulai menipis. Lalu ia meminggirkan kendaraan disebuah pompa bensin BP dengan logo yang serba hijau. Jadi ingat kantor BP di Arcadia - Jakarta selatan. Nama jalannya adalah Nicholson dan kami merencanakan untuk mengisi bahan bakar "unleaded" setara dengan premium biasa disini. Disini kita harus mengisi sendiri, kemudian lapor kepada penjualnya yang berada didalam toko, atas jumlah bensin yang dikeluarkan. Saat angka menunjuk 35 liter, harganya tertulis A 35 alias Rp 220.000 yang di Indonesia cuma sekitar Rp. 63 000, maka Thomas meneruskan pengisiannya menjadi 35,05. Rupa-rupanya ini akal-akalan dia untuk memperoleh gratis 5 sen sebab penjual bensin lebih suka membulatkan menjadi A 35 ketimbang mencari kembalian.

Tapi kali ini dia kena tulahnya setelah dua hari kemudian ternyata ia kelupaan meminta "kwitansi", untuk minta ganti kepada kantor, sehingga terpaksa dia harus menerangkan duduk perkaranya kepada sang penjual. Untung penjual ini pengertian sehingga setelah membuka catatan penjualan dua hari lalu (dan tentunya panjang sekali), mereka memang mendapatkan catatan penjualan sebesar $ 35.05 yang akhirnya dibulatkan tadi. Kebiasaan ini selalu dilakukan, mungkin itulah sebabnya pompa bensin di Indo, selalu ada operatornya sebab alih-alih diakali jumlah bensin, mereka lebih pintar mengakali bensin yang "dicepol" dari seharusnya. Sebuah pom bensin di Gogol punya reputasi "nyepol" bensin entah yang beli itu 50 liter atau 10 liter, pasti di "kentit" 2-3 liter. Demikian pengakuan supir taxi.


******

Suatu pagi ada keanehan melihat anak ini, pipi sebelah kirinya seperti bengkak. Ketika saya tanya memang dia mengaku sakit gigi dan berniat memeriksakan ke dokter gigi. Ia minta ijin membawa kendaraan ke Medical Center. Ada 3 jam Zsevinski belum muncul juga. Saya agak kawatir. Ternyata dia pulang sambil giginya masih ngemut kapas. Pulang-pulang dia membawa belanjaan dan cerita cabut gigi. Di sana gerahamnya dicabut dan untuk sebuah gigi busuk dia dikenai biaya A 175 atau lebih dari 1 juta rupiah. Bayangkan dengan saya mencabut geraham di Grogol hanya Rp. 75.000

Saat makan malam, dia menilpun seseorang yang ternyata ayahnya. Mereka menggunakan bahasa planet yang tak sepotongpun saya mengerti. Belakangan saya tahu bahwa ia berbicara dalam bahasa Polandia. Rupanya ia imigran Polandia. Atas dicabutnya gigi paling belakang, ayahnya "unhappy" katanya "nak kalau usiamu sudah 80-an seperti ayah, kamu akan menyesal mengapa gigi belakang yang tidak salah-apa-apa dicabut. Svinsky masih ingat ketika orang tuanya memutuskan untuk hijrah ke Australia. Ibunya masih "gatek" dengan mesin cuci dan lebih suka kalau mencuci pakaian dengan menggunakan sabun lalu cucian diperas dan digosok. Svinsky juga masih ingat bahwa orang tuanya sedih, orang Polandia kok kalau cakap Polandia seperti "rada-rada Amerikana..."

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com