Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 18, 2006

Nasihat Opa Pramoedya untuk menulis

Tulis..
Tulis..
Tulis..
dan Tulis.....

Itulah nasihat pengarang Pramoedya Ananta Toer. Ada 4 kali ia menyebut kata "tulis".
Pasti ada maksudnya. Ini bukan nasihat orang sembarangan. Tulisan Pramoedya, sudah kondang ke pelbagai negara. Kita semua tahu itu.

"Tuliskan saja apa yang gentayangan di otakmu, jangan takut ditolak (penerbit), suatu saat akan berguna. Saya harus menulis supaya dada
tidak sesak akibat jika mengetahui sesuatu tetapi hanya menyimpannya di otak."

Kata-kata yang juga bukan main-main. Dari bocah Blora yang Februari nanti lengkap 80 tahun usianya. Bukan tanpa resiko jabatan. Jaman Belanda dia jadi orang boei, jaman Soekarno dia juga di kerangkeng, dan di masa Soeharto paling tidak 14 tahun "dikurung". Namun semakin di kekang, keinginan menulisnya semangkin bergeletar. Cerdaskah Pramoedya yang katanya sampai sekarang masih kuat ingatannya. Masa sekolah dulu?

Ternyata tidak. Ia tergolong anak yang lambat menerima pelajaran. Kalau kata iklan sekarang "thulaliit." Terpaksa sang ayah Meneer Toer yang waktu itu jabatannya Direktur Boemi Poetra, jadi malu hati. Dia "cancut taliwondo" dan Pram kecil di"drill" secara spartan, kendati hasilnya jatah sekolah 7 tahun, baru lunas setelah 10 tahun. Sepertinya tidak satupun ada pelajaran gurunya nyangkut dibenaknya. Tapi jangan salah. Merasa kurang cekatan menerima pelajaran, maka Ananta, ini nama samaran dia ketika menulis Novel pertama kali "Hikayat Sebuah nama" - setiap pelajaran rajin menulis semua keterangan guru. Agar tidak mudah lupa. Kebiasan inilah yang dikemudian hari membuatnya seperti memiliki ensiklopedia hidup. Di usia senja, pekerjaannya bertambah. Sehari-hari ia mengoyak 3 koran untuk di kliping. "sudah 5 meter tingginya".

Potongan koran yang tidak diklipping, ia remas seperti cara klasik pengarang meremas naskah tulisan. Sebelum ia lemparkan ke lantai dapur tempat isterinya memasak.

Soalnya ia punya obsesi membuat ensiklopedi Indonesia.

"Muda produktip, tua kelakar," katanya lagi.
Yang ini Pramoedya,80, main-main.

Mimbar Bambang Saputro
19 Jan 2005

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com