Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 14, 2006

Nasi Cap Bango (13675)

Date: Fri Jul 9, 2004 5:51 am
NON AMIS, NON LALAT

Mendung masih menggelayut seakan memeluk kota Singapore. Sesekali gerimis menerpa jalanan ketika saya melangkahkan kaki ke pasar tradisional di kawasan Bouna Vista. Singapore selalu identik dengan super mall dan saya sudah super bosan, tetapi ajakan belanja di pasar tradisional Singapore sulit rasanya untuk ditolak. Padahal saya baru pulang jalan pagi, sekalian cari koran gratis.

Dibeberapa pusat perbelanjaan, koran-korang seperti TodayOnline dibagikan secara cuma-cuma, dan cuma saya yang tidak pernah kebagian koran percuma. Kalau tidak kepagian ya kesiangan.

Pasarnya tidak nampak besar, mengisi ruang antara beberapa rumah makan. Seluas 30x30 m2. Yang menarik kios-kios nampak teratur lantaran dibangun dari rak besi, dilengkapi dengan lampu penerangan yang lebih dari cukup membuat pasar yang terletak di basement lebih mirip pasar malam amal. Semua harga terbilang "mati" alias tidak terjadi tawar menawar. Apa karena para angku dari Sumatera Barat ndak tertarik berdagang disini? - Tetapi telinga harus dipasang sensitivitas tinggi lantaran para engkoh dan encim ini berbicara Inggris, cadel tetapi super cepat. Maklum ManLish (Mandarin English).

Saya menapak ke los ikan. Terbanyak ikan laut seperti kakap merah, udang lalu terpampang tulisan "fresh Haruan", sebutan untuk ikan Gabus. Entah mengapa ikan gabus dianak emaskan (mestinya bahasa ini di anak gabuskan) disini disamping ikan lain. Menilik harganya petani ikan di Indonesia bakal senyum lantaran hidup layak dari komoditi ikan segar. Maksud saya harga jual ikan ala Singapor, tinggalnya di Jakarta.

Juga harga sayuran agak mahal bagi kantong kita. Dengan taraf hidup yang tinggi tidak heran cara hidup berhemat kentara sekali diterapkan. Di Indo berbelanja wortel hanya satu tangkai (umbi) bisa ditertawakan penjual, di sini merupakan pemandangan lumrah. Sehingga memperhatikan ibu-ibu berbelanja terkesan seperti main-main pasar-pasaran. Sesekali lantai porselin disiram oleh air oleh pemilik kios yang memang tersedia kran air disana. Yang perlu dicontoh adalah bagaimana semua air tadi seperti
lenyap lantaran sistem pengeringan yang prima dan tidak nampak sampah menggunung. Tidak tercium bau busuk comberan, bahkan lalatpun sulit ditemui. Padahal ikan segar, udang, kepiting selalu mengundang lalat berseminar disekitarnya.

ADA BERAS CAP BANGO
Dulu saya berani jumawa sembari tarik urat menentang langit, meraih bulan mengatakan beras terbaik seantero jagat cuma Pegagan (Palembang), Rajalele dan Pandan Wangi. Tapi itu duluuu sebelum mengenal beras cap Bango imporan dari Thailand alias SONGHE alias cap BANGO "Noble Pine Crane" yang kalau di kurs disini sekitar 9000 per kilogram. Nasinya Cap Bango Thai dimasak panas-panas keluar wanginya lalu dicuri Kecap Bango Indo. Beras saja kok ya pakai beras Bangkok to ya. Ampuun. Lalu di kios penjual tahu mentah (tempe tidak ada, untung kami bawa dari Jakarta), kami dapati bakso goreng yang sudah ditusuk (dan digoreng) tetapi diberi pesan "Re-Cook Before Eat" maksudnya sudah pasti sekalipun beberapa penganan sudah digoreng oleh penjualnya, tetap demi kesehatan harus di goreng ulang. Semua penjual menggunakan plastik bag sebagai sarana pengganti sarung tangan sekalian untuk bungkusnya.

Di kios daging sapi yang mematok harga SIN 6/kilo penjualnya memasang pengumuman bahwa daging ini sudah diproses pendinginan. Penjualnya berbadan gemuk nampaknya orang Malaysia, diatas kios terpampang himbauan daging yang sudah dibeli harus dikonsumsi habis dalam 3 hari dan tidak boleh di masukkan freezer lagi. Sebuah imbauan yang tidak akan pernah ada di tanah air.

Di bagian sayuran, mula-mula masih bisa menggunakan bahasa Inggis, namun lama kelamaan mulai bingung untuk penamaan seperti talas, sereh, ketumbar, jintan, daun bawang. Akhirnya bilang aja "do you have daun bawang.." eh engkohnya mengerti "we have daun sop". - dan barangnya sama.

Sampai rumah, menteri keuangan kadang dia malahan merasa presiden soalnya sering dicoblos lebih dari satu kali mengatakan bahwa harga-harga disini masih relatif mahal. "Siapa mau beli ubi jalar $7/kilo, najoong" - kata "najong" sebetulnya bentuk kasar dari najis, tetapi karena bahasa banci, jadi malahan dianggap lucu sebab pengertiannya jadi "ogah ah"

Tapi kan taufunya nggak bakalan dicampuri pengawet mayat. DI Jakarta saya sudah menyetop kegiatan makan tahu goreng seribuan di asongan - setelah mendengar penemuan yang mengatakan bahwa tahu goreng asongan, sebagian besar ditemukan diberi pengawet mayat agar tetap segar sampai sore dan sampai besok. Itu baru "jijay bajay".

Begitu juga sayurannya umumnya diproduksi lokal secara hidroponik, atau impor dari luarjadi mahal, begitu sergah saya sambil menenggak jus Guava (jambu batu) yang disini masih disisakan ampasnya. Mungkin biar terkesan aseli. Herannya negara hidup dari impor, kok ya maju berjaya terus. Kita, gula impor untuk bikin manis air laut.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com