March 12, 2006

Nasabah Perlente

Date: Sun Oct 26, 2003 8:03 am

Hari Sabtu siang yang terik, matahari masih sepenggal galah. Maksudnya bayang-bayangnya orang yang dihasilkan sinar ini masih sangat pendek, sebuah dos-a-dos (delmaan atau sado) berhenti dimuka sebuah bank terkenal di Batavia di kawasan jalan Pintu Besar. Menilik cara berpakaian , penumpangnya jelas seorang tuan perlente, bercambang lebat. Biasanya orang beginian, aselinya Eropa, roman-romannya orang Inggris. Kelihatannya ia sudah lama menjadi nasabah Javasche Bank sehingga petugas Bank bersikap ramah (apalagi Bule pula). Tiba-tiba keadaan berubah chaos, ternyata Manusia Bercambang tadi mengeluarkan revolver dan menggasak sebuah tromol berisi uang.

Kalau laporan satpam di kampung saya yang kerjaannya tidur dan baru pura-pura patroli setelah jam 5, maka keadaan berubah dari 86 (Aman terkendali dan kondusif) menjadi 29, alias usaha perampokan. Petugas bernama Reijnst dan seorang opas melihat pelaku kejahatan beraksi langsung mengejar penjahat. Tetapi gerakan mereka terhadang akibat moncong revolver menyalak dan mengenai tubuh sang opas. Beruntung Reijnst masih sempat menjatuhkan diri tiarap sehingga butir "mimis" alias timah panas tidak sempat menggores tubuhnya.

Sado penjahat terus melaju sampai diujung gang, sebuah sado yang lewat dicegat perampok dan dipaksa untu membawa kabur penjahat yang single fighter ini. Sais yang kebingungan jadi salah tingkah sehingga perampok menjadi panik dan moncong senjata menyalak sekali lagi dan akibatnya seorang penonton ditempat kejadian roboh diterjang peluru panas (bukan) dari petugas - bahasa Buser plus Derap Hukum :-).

Akibatnya sais tunggang langgang ketakutan, dan sado dirampas untuk meneruskan pelariannya menuju jalan Jakarta. Dekat jembatan Merah, seseorang Eropa juga rupanya teman perampok ini segera bergabung dan keduanya lari melalui Kramat dan Menteng. Disebuah rumah mewah mereka berganti deelman (istimewa) yang ditarik dua kuda, satu duduk dimuka dan kabur keluar kota arah Bogor.

Kontrolir Polisi Johan segera turun ke TKP dan melakukan perburuan, instingnya mengatakan penjahat bersembunyi (beneran) ke Bogor. Di Tanjung OOST (Tanjung Timur), mereka mulai rajin bertanya kalau-kalau melihat dua orang Eropa. Istilahnya informasi saksi dikembangkan lebih lanjut. Di kawasan Ciluar, Johan melihat sebuah kereta kuda yang tidak istimewa lagi karena kudanya kecapekan sedang parkir di jalanan. Melihat Johan dari kejauhan, maka sado langsung tancap gas, cuma karena dipacu terus menerus di sejak dari Jakarta, maka sampai di Kedunghalang kuda tadi sudah letoy habis. Tenaga kudanya sudah menjadi tenaga tak bertenaga. Hari sudah menunjukkan Minggu jam 06 pagi. Johan melihat ada seorang yang melompat dari kereta. Sedangkan teman satunya berhasil tertangkap basah didalam deelman. Schout Hinnes (anda tahu tokoh ini yang menembak mati Pitung) datang ketempat kejadian dan "Inglish" yang diinterogasi ternyata Belanda bernama Gentis yang menyamar jadi British. Di saku bajunya ada 4000 gulden sedangkan didalam kereta polisi menemukan 8750 gulden. Seperti biasa pelaku menyangkal perbuatannya, atau kalau sudah dijepit kaki meja atau dijadikan asbak hidup oleh sang interogator mereka teriak bilang "baru pertama kali ini melakukan perbuatan karena dorongan ekonomi."

SIAPA SATRIA BERCAMBANG TADI

Semula Gentis adalah pemilik Firma Gentis en Co (1900). Perusahaan ini kerjanya menerima deposito para nasabah dengan iming-iming bunga yang aduhai Mungkin kalau bahasa klise diInternet "maukah anda bergabung dalam bisnis yang sangat luar biasa ini?, kejujuran anda adalah kunci kesuksesan, dengan 20 ribu rupiah, anda bisa berpenghasilan 10-30 juta perbulan tanpa kerja keras."

Makin dibaca ke bawah kalimatnya biasanya makin aneh. Apalagi kalau ditindak lanjuti dengan bergabung atau menjadi downline. Banyak sekali kata puitis dan bersayap.
Akibatnya iklan Gentis yang sangat "luar biasa" dan menggugah mimpi kebanyakan orang yang entah sudah putus asa atau memang doyan cari perkara, maka orang berlomba-lomba menanam deposito disitu. Kelihatannya kakak beradik Gentis ini akur-akur saja ketika membuka usaha beginian, tidak seperti penjualan "mirip" deposito dengan wajah lain GoldQuest yang mengundang pertengkaran keluarga, seratus tahun kemudian. Dan seperti bisa diduga, bisnis ecek-ecek begini cuma berujung malapetaka. Melihat laporan banknya mengatakan bahwa ia sudah bangkrut mereka kebingungan. Mau lari ke Singapore, Australia atau Jepang kok belum ngetrend akhirnya jalan pintas yang di tempuh. Inilah yang menggagas Gentis untuk merampok bank. Revolver dan Cambang palsu dibeli di sebuah toko milik Paul di jalan Rijswijk lalu diberikan kepada adiknya yang saat itu sedang dirawat di RS Cikini. Adiknya ini kelak jadi eksekutor perampokan.

Bagaimana kelanjutan sang adik yang lari kehutan, nasibnya ternyata lebih buruk. Ia di bacok peronda (yang tidak tidur kalau tugas), karena Gentis muda dikira maling. Inilah perampokan terbesar dan terberani di Batavia, bahkan di koran-koran berspekulasi sebagai Perampokan Terbesar di planet ini Dalam sidang Raad van Justitie di Betawi dua saudara ini dijatuhi hukuman 15 dan 10 tahun. Sayangnya lantaran yang melakukan kejahatan adalah orang Belanda, sidang dilakukan secara tertutup sehingga jalannya sidang tidak bisa diketahui khalayak. Beda misalnya kalau inlander yang melakukan kejahatan. Istilahnya sekarang dikupas tuntas, dikuliti-ti.
Perampokan Javasche Bank mengilhami pengarang-pengarang menulis syair. Salah satunya "Sair Tuan Gentis di Betawi" dengan sub-judul "Yang suda(h) kejadian
di Betawi 22 November 2002" oleh Ahmad Beramka, lalu Sair "Java-Bank dirampok tanggal 22 November 1902" oleh F. Wigger.

10/26/03 mimbar seputro
12371

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com