Mrs. Morgan dan JK Rowling

Masa kecil Joane (Jo)Rowling si pengarang Harry Potter tidak bisa di bilang indah. Ia masih ingat suatu hari kedua orang tuanya memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih "ngampung". Jo terpaksa ikut dengan orang tuanya dan bersekolah di Tutshill disuatu sekolah yang menurutnya, "kecil dan kuno. Mejanya masih ada tempat botol tintanya." Anda yang seusia saya tentunya bisa membayangkan meja terpampang miring ke arah kita dengan tempat botol tinta, tangkai pena, mata pena dan tidak lupa sangu jeruk nipis kalau tinta tumpah meleleh di meja kayu tersebut.

Tetapi yang paling menakutkan adalah seorang Guru yang bernama Mrs Morgan. Dalam satu test matematika sekalipun sudah belajar mati-matian, nilai mathnya tetap nol besar. Dimata Jo kecil, Morgan adalah guru yang menakutkan. Apalagi ia punya kebiasaan mengatur duduk para muridnya.Jo kebagian duduk di bangku paling kanan sehingga dekat dengan halaman bermain di luar kelas. Tentu saja Jo senang bukan kepalang, bisa curi pandang ke luar halaman. Sampai satu saat temannya ada yang membisikkan kepadanya bahwa murid paling pintar duduk dideretan bangku paling kiri, dan "idiot" diletakkan di deretan sebelah kanan. Mrs Morgan langsung mencap Jo sebagai "bodoh" karena ia gagal dalam test matematikanya.

Sebagai seorang yang pemalu, baru berada di lingkungan serba baru dan langsung di cap paling bodoh dalam pelajaran matematika sehingga dianggap bodoh segalanya, adalah hal yang paling menakutkannya. Bayang Mrs Morgan nantinya terkonfigurasi kedalam cerita Harry Potter sebagai Mr. Snape seorang guru (laki) berwajah dingin yang mengajar ramu-ramuan. Harry Potter sendiri selalu waspada kepada iktikad buruk Snape yang akan mencelakakannya, padahal Mr. Snape justru membantunya secara diam-diam.

Disamping bebalnya ia akan matematika, Joe sebetulnya punya kecerdasan berbahasa yang "maut" terutama dalam pelajaran bahasa Inggris. Pada usia 9 tahun ia sudah menamatkan karya Ian Fleming "James Bond" dan banyak buku lainnya sementara teman lainnya masih "umak-umik" (komat kamit) belajar membaca buku dongeng sederhana. Dikemudian hari sebelum memutuskan langkahnya dengan cerdas sebagai pengarang Novel, Joe sempat bekerja sebagai guru di Portugal. Ejekan dan pandangan Mrs Morgan ini nantinya menjadi proses kelahiran tokoh Hermione yang selalu menyelesaikan permasalahan "sesuai dengan literatur."

Date: Thu Nov 6, 2003 2:52 am
12421

Comments

Popular Posts