Moge tanpa Helm

Wed Feb 23, 2005 6:22 am

Kelakuan pengendara MOGE atau Motor Gede di masyarakat biasa adalah kelompok orang kelebihan duit, aparat, selebritis, kalau sedang bergerombol memakai jalan umum minta hak istimewa setara presiden, memiliki "voor rijder" lengkap dengan sirine yang berteriak nyaring agar semua pengguna jalan lain minggir dan menyaksikan super arogansi pengendara moge.

Apa jadinya bila 200 motor "ghede" sekelas Harley Davidson meraung di jalan raya, pengemudi plontosan tanpa helm "hats-off", menerobos lampu merah bak pejabat tinggi negeri. Itulah yang terjadi disebuah kota bernama Perth, yang selama ini saya anggap sangat ketat dalam menerapkan aturan lalu lintas.

Bermula dari kematian Les Hoddy, pimpinan brandal kelompok Gypsi Joker yang ditakuti di Australia, pada usia 56 tahun, akibat serangan jantung mendadak. Kebiasaan dalam geng kendaraan bermotor, bilamana ada anggota yang "jatuh", alias meninggal, apalagi pimpinannya, akan dilakukan prosesi melayat dengan tiap anggota menggenakan bandana (ikat kepala). Setibanya dipemakaman barulah topi dikenakan dan memberikan penghormatan didepan peti jenasah berupa angkat topi (dubbed tipping) seperti yang sering dilihat dalam filem mafia.

Nama Hoddy sudah tidak asing dipihak kepolisian pada awal 1970-an. Bukan hanya di Perth, namanya ditakuti sampai New Zealand, Afrika sampai Amerika. Setelah kematiannya, seluruh harta bendanya disita oleh kepolisian anti kriminal.

Diantara pelayat yang berdatangan terdapat geng Coffin Cheater dan geng Deroes yang sudah baku tembak baru-baru ini. Dua pekan lalu Andrew dari gang Deores tertuduh melakukan penembakan di hotel kawasan Bunbury. Ini luka lama sebab pada 1998 Andrew juga tersangka dalam penyerangan musuhnya sehingga berakibat kematian pentolan Coffin Cheater, Marc Chabriere. Akibatnya kedua groups bersumpah untuk saling mennyakiti satu sama lain.

Tapi untuk sementara kedua kelompok harus mengubur kapak perangnya sebagai rasa hormat terhadap keluarga si mati. Sekalipun demikian, ratusan polisi tak kurang siaga menjaga hal yang tak diinginkan terjadi. Ini kalau di Jakarta sama halnya ketika polisi menstelling tempat sidang pembunuhan antara Ambon dengan Manado alias kasus Sangaji, baru-baru ini.

Tidak dijelaskan apakah ijin hat-off yang diikuti 400 anggota geng hanya berlaku sampai dipemakaman. Bagaimana saat penguburan usai, apakah pawai tanpa helm akan tetap berlangsung? Apakah mereka akan tetap menerobos lampu merah? seperti dilakukan saat prosesei penguburan?

Sayangnya, momentum ini kelewat indah untuk dilewatkan. Terutama politisi. Pihak oposisi langsung memblowup "kalau dalam pemilihan umum kelak saya terpilih, saya akan hapuskan aturan yang tidak masuk akal itu" Kalau di Indonesia, mungkin bunyi lebih nggak ngaruh "Mundurkan Kapolri" atau Jaksa Agung sekalian.

"A lot peoples are not very happy," demikian diutarakan cewe resepsionis Emerald Hotel tempat saya menginap ketika saya menanyakan lokasi pemakaman.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe