Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Mizonofu alias Kascing

Bagi sementara orang apalagi kaum hawa, maka apa saja yang namanya cacing adalah menggelikan atau menjijikkan. Binatang lunak melata ini seperti mahluk tak berdaya apalagi kalau terkena panas, ia bisa menggeliat-geliat tubuhnya. Pasca gegap gempita ternak cacing tanah atau dalam bahasa latin "lumbricus rubellus" sudah menjadi bagian sejarah nampaknya. Sejarah orang yang ikutan arus atau anut grubyuk dan berakhir dengan kekecewaan. Apalagi ketahuan bahwa cacing tanah paling untuk pakan ikan atau obat typoid. Tidak seperti yang digembar-gemborkan sebagai bahan baku makanan suplemen, industri farmasi dan kosmetik di Jepang.

Akhirnya Budidaya Cacing Tanah dianggap BudiDaya "Apus-apusan".

Sebut saja Warno, ia membeli 30 kg bibit cacing dengan biaya 200.000 rupiah per kilonya. Dari koceknya sudah dirogoh 6 juta rupiah. Tapi kalau sudah panen anaknya akan dibeli dengan harga Rp. 130.000 per kilogram. Bukan main girangnya Warno.

Setelah empat bulan berjalan, panen cacingnya ternyata cuma laku Rp. 20.000 per kilogram. Warno nyadar ia sudah tertipu, apalagi ia mendengar uang miliaran milik peternak lain dibawa kabur oleh pengurus koperasi. Tetapi ia masih belum "pupus" harapannya. Di kampungnya di Wonogiri yang tandus Warno yang kecewa ini mengamati bahwa dibawah pohon pisang ada tanahnya tetap subur kendatipun kemarau menghantam tanpa ampun. Warno melihat bahwa cacing adalah penyebab kesuburan tanah. Itulah satu-satunya "ilmu pertanian" yang ia dapatkan secara pengamatan. Sekolahnya sendiri STM Jatiroto, Wonogiri. Cacingnya dimanfaatkan sebagai pembuat pupuk tanaman, yang kini
dikenal sebagai "Kascing" alias bekas cacing. Anak STM ini baru tahu bahwa cacing mempunyai sistem daur ulang luar biasa. Dan ia baru tahu bahwa ia sedang menjalankan sistem pertanian terpadu. Empat tahun setelah menekuni Cacing Tanah, bulan Juli 2002 ia mengirim pupuk Kascingnya 20 ton ke Jepang. Lalu April 2003, ia mengekspor
pesanan 40 ton. Berapa nilai expor, Warno yang tetap sederhana cum apakai sandal jepit dan kaos kuning bertuliskan huruf kanji Mimizunofu (pupuk beks cacing) ini menyatakan keberatan menyebutnya alasannya masih trial. Kita tahu dia ndak mau usahanya segera diekori oleh pihak lain jadi lebih baik diam.

Pupuk Kascing ternyata berbunyi nyaring, tetapi di Indonesia masih asing.

Harian Kompas Jumat 19 Juni 2003 memperlihatkan foto pekerja Warno mengangkat Pupuk Kascing dari Truk yang akan membawanya ke pelabuhan Tanjung Priuk Jakarta.

Mimbar Seputro



mimbar@geoprolog.co.id

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com