Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 14, 2006

Minyak Tanah

Date: Fri Mar 26, 2004 4:02 pm 13196

Sebetulnya masih 60 menit menuju acara salat Jumatan yang kata pak Ustad Muhdas, tidak boleh disebut sembahyang jamaah melainkan sembahyang Jumatan (tanpa akhiran berjamaah). Tapi perut sudah mulai memaksakan kehendaknya. Saya tentramkan supaya jangan bising, eh tangan saya sekarang bergetar. Rupanya akibat lupa sarapan havermouth, membawa akibat di pagi tua ini. Apa boleh buat. perut minta di tangsel.

Sebuah warung bakmi dan bakso bukan Mahkota di kawasan Kebagusan adalah yang jadi favo saya terletak di jalan Kebagusan-1, komplek BP atau Nestle. Lokasinya hampir tepat (kurang dikit) di bawah sebuah spandoek yang menulis "Selamat kepada mbak Tutut sebagai Ibu Asongan Indonesia" - sekaligus mengingatkan saya bahwa ibu ini konon bermasalah dengan persaudaraan Waroeng Tegal. Entah tagihan warung tegal belum dibayar atau sudah turun uangnya tetapi tidak sampai tujuan. Wallahualam.

Di sebelah saya duduk seorang pria setengah baya, kumal, lugu, saya duduk mendampinginya dan ia malah menggeser pantatnya ke arah utara. Tercium aroma keringat campur kulit manusia yang terlalu lama dipanggang diterik matahari. Matanya menatap badan jalan, sambil tersenyum. Lalu setelah melalui masa "ice breaker" saya membuka omongan (ini memang ilmu penjual mudlogging) - rupa-rupanya dia mengagumi kokohnya pengaspalan jalan di komplek Nestle atawa Arcadia Hijau ini. "Saya belum pernah lihat jalan ini diaspal ulang, dan masih mulus saja..."

Saya cuma mengiyakan...

Pak Darno begitu saja ia kita sebut namanya adalah seorang pengeteng (eceran) minyak tanah, salah satu sembilan kebutuhan pokok rakyat yang sekarang sedang naik daun dan melayang tinggi sehingga rakyat susah mendapatkannya. Gampangnya dia adalah salah satu pemain dalam judul "Krisis Minyak Tanah di era reformasi"

Lalu ia mengisahkan bahwa sejak 1981 ia berdagang minyak ketengan. Bermula dari harga Rp. 63/liter. Sehari dia bisa jual lima ratus liter yang berarti lima kali bolak balik ke agen minyaknya. Pelanggannya umumnya warung-warung nasi, dan rumah-rumah kontrakan. Sekarang ia menjual minyak Rp. 1200/liter - dan sejak lakon krisis minyak tanah, sehari dia menjual delapan ratus liter yang berarti delapan kali bolak balik. Ini yang dalam pepatah cina dikatakan dibalik krisis ada kesempatan. Daripada berkeluh kesah minyak susah, ia menggenjot usahanya. Gerobak yang berisi 10 jerigen @20 liter dengan setia bolak-balik ia tarik ke pelanggan. Bayangkan dari 500 liter bisa naik jadi 800 liter. Berapa tuh untungnya.

Tapi...tapi...tapi ada tapinya...

Dia memang menjual 800 liter perhari, keesokan harinya tapinya dia harus cuti sebab barang dagangannya langka. Darno harus menunggu mobil tangki pembawa minyak tanah datang mengisi gudang mereka. "Dua puluh tiga tahun mas dagang minyak, baru sekali ini minyak langka...." "Saya tidak tahu politik, tapi kenyataannya sekarang ini mau dagang susah. Jatah minyak terbatas. Pemainnya banyak. Dagangan dimainkan harganya..." Cetusnya lagi tanpa berekspresi.

Kok seperti kebetulan dua minggu berselang di Duri saya melihat spanduk kampanye. "Separah-parahnya Orde Baru, Kita Tidak Pernah Antri Minyak Tanah..."

Dan gaung itu kembali mendapatkan pembenarannya keluar dari tenggorokan seorang manusia lugu, penjual minyak eceran.

Sebuah PR besar partai peserta Pemilu.

Jumat 26 Maret 2004
[nyantap bakmi semangkuk dan tehnya Botol]
Tanpa kecap sebab tidak kelihatan mereknya.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com