Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 14, 2006

Minyak Tanah di Batavia

Date: Tue Mar 30, 2004 3:40 pm 13226

Harga minyak tanah (lenga patra, lantung, jawa) masih saja membubung dan sukar dicari. Konon Harga Eceran Tertinggi per 27 Maret 04 adalah Rp. 885 per liter, tapi kata penjual ideran (ngider, ngecer) ada yang Rp. 1200 ada yang 1500 bahkan dua puluh REBU per leter (memang tukang minyak selalu mengucapkan ribu menjadi rebuk dan liter sebagai leter). Dan inilah matematika dengan nilai terburuk dinegeri yang konon anggota OPEC yang mestinya kaya akan "sumber daya alam". Dengan slogan "lebih perduli akan wong cilik" atau jargon "sekolah bakal perei (free)" sekalipun ada seorang anak sampai gantung diri lantaran tidak bisa bayar SPP.
......
Oktober 1902, udara Betawi begitu panas, debu-debu berterbangan, biasanya kalau sudah datang kemarau, pihak Gubernemen yang dalam hal ini diwakili Residen Betawi mulai menyirami jalan dengan air (hm terbayang harum-harum sangit debu campur air). Ternyata bujet bermain air ini tidak main-main. Paling tidak 30.000 gulden dikeluarkan untuk urusan penyiraman jalan. Hasilnyapun sebentar saja tanah nampak basah. Beberapa waktu kemudian air menguap dan kering.

Lalu sebuah koran berpengaruh di Batavia Bintang Betawi pada terbitan 11 Oktober 1902 menyarankan agar pejabat Batavia mengekor apa yang diperbuat oleh pemerintah Singapura, yaitu menyirami jalan dengan minyak mentah. Gile bener, minyak dihambur-hambur buat ganti air. Tetapi mereka menghitung bahwa ongkos yang dikeluarkan bisa 30% lebih miring daripada air. Seratus tahun kemudian memang ada pejabat negara yang mencabut subsidi minyak dengan alasan "air lebih mahal daripada minyak". Mungkin masih keturunan wartawan Bintang Betawi.

Pemenang tender pencurahan minyak adalah kongsi dagang bernama Firma Pitcairn Sijme en Co. Dan Work Order jatuh pada hari Ahad 2 November 1902. Proyek pertama mengambil tempat di jalan Kampung Miskin (sekarang Tiang Bendera 5) . Start kerja dari lokasi Firma Pitcairn Sijme. dan berakhir di sebuah "jembatan" dibelakang Javasche Bank (Bank Indonesia).

Hari minggu dipilih sebab saat itu jalanan sepi, kantor pada libur. Apalagi waktu itu belum ada kampanye dengan membawa bendera partai selebar jalan raya. Plus pemuda pemalak dijalanan dengan mengatas namakan anggota partai. Mulanya memang banyak minyak yang harus dicurahkan, namun setelah dilakukan dengan teratur, maka diperlukan hanya sedikit minyak. Bahkan Bintang Betawi 8 November 1902 menulis setelah disiram lamapun jalanan masih basa(h) "tidak ada abu (debu)". Bahkan bekas roda kereta (kuda) nampak mengeras, hitam dan berkilat seperti aspal. Tambahan lagi, biayanya lebih murah.

Kelinci percobaan pertama sukses, maka proyek selanjutnya adalah pencurahan di jalan protokol seperti didepan gedung Bicara (staadhuis), alias Museum Sejarah Jakarta, dan Istana Gubernur Jendral (kini jalan Merdeka Utara). Gubernur sangat puas dengan proyek jalan minyak ini sehingga bermaksud meminyakkan Batavia dan memBataviakan minyak.

Akan tetapi walaupun...... kata Timbul

Harga minyak ternyata naik dan terus naik. Akibatnya nafsu para Gubernemen untuk mengekor Singapore hanya terbatas Jalan Merdeka Utara dan keadaan jalan di Betawi tetap berdebu.

Mimbar Bambang Seputro
pencinta harum debu tersiram air.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com