Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 12, 2006

Militan ala Madura

Date: Thu Aug 28, 2003 9:32 am

Dalam kamus, militan berarti [1. aggressive dan 2 involved in fighting]
Konon kata-kata ini diambil dari bahasa Perancis pada abad 15, dari kata milit(militer).

Dai kondang Zainuddin pernah berceramah di Madura. Ada seorang ibu bertanya mengapa orang Madura yang terkenal sangat taat beragama, ternyata masih sering ditemui bahwa orang kampungnya rawan terhadap pencurian ayam, bebek, burung. Lalu Dai menjawab, Ibu harus bersyukur mereka yang pencuri tersebut taat sembahyang. kalau tidak, Sapi kalian yang akan di curinya..."

*****

Selesai menghadiri Akad Nikah keponakan saya Mawan yang menikahi seorang putri Sampang, kami kembali ke Hotel yang sekaligus menjadi Aula tempat resepsi perkawinan pada malam harinya. Mengingat hari ini adalah Jum'at, dan sebentar lagi waktu Jumatan
tiba, maka saya tanya kiri kanan kepada petugas Hotel Trunojoyo mengenai lokasi dimana masjid Jami' (besar untuk sembahyang berjamaah) berada. Ada sekitar lima menit berjalan kaki, sampailah saya disebuah masjid yang cukup besar.

Acara berlangsung hidmad. Kotak amal mesjid hanya diletakkan di depan pintu masuk, dan tidak diedarkan di dalam masjid. Tidak ada protokoler, atau laporan keuangan. Semua upacara peribadatan berjalan secara otomatis.

Namun mesjid dengan kapasitas ratusan orang ini diisi kotbah berlangsung dalam bahasa Madura sehingga sedikit sekali saya peroleh informasi dari bapak khatib.

Prasati yang terpasang menyatakan bahwa mesjid ini diresmikan oleh Soeharto bekas Nomor satu di Indonesia. Pantes lubang anginnya berbentuk segi lima lambang sebuah kontestan pemilu yang terbesar saat itu.

Di hotel, karena hari masih siang benderang, udara panas Madura mulai menyengat. Tegangan jala-jala listrik di kota ini memang naik turun sehingga AC merek ARTIC Hotel sudah tidak berfungsi. Padahal dengan AC 1 pk yang dipasang pada kamar kelas hotel kelas Melati kami harusnya kedinginan.

Akhirnya saya keluar kamar dan melihat pekerja kontraktor "Henny" dekorasi terbaca bekerja memasang backdrop di panggung. Di ujung sana seorang penyanyi nampak sedikit frustrasi ketika berlatih lagu "Memory"-nya Ruth Sahanaya dengan nada dasar F, sementara sang orgen ngayap ke nada F Mayor Purnawirawan.

Saya dekati seseorang yang kelihatannya sebagai supervisornya. Maka pembicaraan berlangsung dari rak piring khusus untuk bawa makanan, sampai ke bupati Sampang dan Mesjid Yayasan Muslim Pancasila.

Yang patut dicatat, rata-rata orang Madura hapal diluar kepala bahwa ada empat Kabupaten di Madura yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Ibu kota pulau Madura adalah Pamekasan. Mereka hapal jarak dari satu kota ke kota lainnya.

"Mesjid itu kasus pak, orang sini kan Militan, jadi waktu Golkar mau bikin mesjid, ditolak oleh rakyat setempat, alasannya bau politis. Rakyat ndak mau mesjid berbau politis..."

Oh rupanya paham Deng Xiao Ping belum menembus disini. "Jangan perdulikan apakah kucing itu bulunya hitam, putih atau belang, selama dia bisa menangkap tikus, manfaatkan kucing itu..."

Lho kok bisa muncul di jalan Rajawali [alamat mesjid], apa ada ceritanya?

"Ya itu, setelah di tolak sana sini oleh kaum militan (nampaknya lawan bicara saya mencampurkan pengertian militan dengan "orthodox" dengan "tradisional"), mereka menemukan mesjid kecil disitu. Alasannya ya cuma pemugaran. Dan jadilah mesjid seperti yang bapak lihat."

"Bapak tau ndak waktu coblosan tempo hari. Kiyai militan ndak ada yang nyoblos pohon, kok hasilnya pohon yang menang. Yang militan marah, kotak suara dibakar, rumah petinggi Golkar juga sudah dikepung. [dia menyebut nama orang yang kebetulan menjadi Mertua keponakan saya]. Kasus pak."

"Para militan sudah pamit dengan keluarga. Pokoknya kalau ndak pulang kerumah jangan digoleki (dicari), cukup tahlilan saja.."

WELEH WELEH, lha ini baru militant tenan. [saya mbatin]

"Bupati Sampang sekarang, kasus juga pak. Waktu pilihan pertama dia menang ndak terjadi apa-apa, tapi waktu dia menang lagi. Yang militan lawan yang pro bupati sudah hadap-hadapan. Bupati ini pinter, dia ndak perduli pembangunan fisik segala macem. Pokoknya kalau rakyat minta bantuan keuangan, dia langsung kasih berapa saja. Kalau mbangun gedung, nanti dulu"

Saya kok ndak lihat Biskop (Bioskop) disini pak?

"Lha itu sejak ada layar tancep, angka kriminalitas meningkat tajam. Jemuran disikat, ayam dicuri. Akhirnya perusahaannya di bakar oleh kaum militan, dan angka kriminalitas menurun lagi. Maklum memicu kecemburuan sosial"

Kelihatannya persoalan pelik di Sampang menjadi mudah diselesaikan dengan kata- Militan

HIDUP MILITAN

Mimbar Bambang Seputro
Pernah semalam di Hotel Melati Trunojoyo
Sampang - Madura

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com