Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 09, 2006

Mesin Tik - Diskontinyu

Fungsi mesin ketik di percetakan ibarat celana dalam, maksudnya setiap orang menggunakannya. Anda masih lihat polisi dalam acara kriminal seperti Buser, Jejak, yang membuat berita acara (process verbal) satu tindak kejahatan hampir umumnya menulis pakai mesin ketik. Juga buat catatan kalau ada yang bilang penjahat Kapak Merah beraksi lalu di"dor" petugas, mungkin saja penjahat tadi menggunakan palu dan golok, atau mungkin paving blocks. Tapi setelah di dor, di ganti dengan Kapak Merah, yang belinya di toko GajahSora. Uppss, keterusan.

Akibatnya fungsi mesin ketik waktu itu menjadi krusial, ia harus siap pakai kapan saja, mulai dari mengetik naskah sampai kuitansi. Dan perawatan mesin merupakan juga satu keharusan. Di perusahaan itu seorang tenaga ahli dipekerjakan sebagai perawat. Tugasnya membersihkan mesin ketik, mengganti pita, membersihkan mata mesin sambil mencobanya dengan mengetikkan "the quick brown fox jumps over the lazy dog"

Setelah masuk era komputerisasi, peran mesin ketik mulai bergeser, sehingga semula mesin ketik dipakai berjam-jam tiba-tiba berubah seonggok benda mubazir.

Tetapi sang perawat tetap setia menjalankan tugasnya. Di pandangan penulis, perawat dan mesin yang semula adalah asset, telah berubah menjadi liability. Barangkali akan bermanfaat bagi perusahaan sebesar itu jika memberikan pelatihan kepada perawat tersebut pengetahuan membersihkan keyboard, mouse, dan mungkin membersihkan virus komputer sehingga ia tidak menjadi termarjinalkan. Mestinya perawat tadi peka terhadap perubahan. Sensitif terhadap sesuatu yang tidak linear.

Betapa digdayanya seorang Manager asing selama sepuluh tahun lebih bertugas di Indonesia. Padahal temannya cukup setahun-dua di Indonesia, selebihnya di pindahkan ke negeri lain. Dua satpam siang malam menjaga keamanannya, mobil mengkilap siap antar jemput kemana saja, lalu kolam renang dan fasilitas libur keluar negeri. Dunia seakan garis linear dan mudah diprediksi.

Sampai suatu saat perusahaan di akuisisi oleh perusahaan baru yang memandang kemampuan IT-nya sebagai "level-gatek." Ia merangkak mengejar ketinggalannya dengan "grotal-gratul" alias tersendat-sendat dia belajar mengenal apa itu Excell, apa hubungannya dengan cell dan formula. Ia nampak frustasi. Dimatanya melihat seonggok komputer telah berubah monster. Cerita bisa diduga, dalam kompetisi ia tersingkir, jasa selama ini tidak dihargai oleh perusahaan baru dan akhirnya sakit berkepanjangan sampai akhir hayatnya. Ironi.

Dalam kontek lebih besar, majalah Forbes melaporkan 500 orang terkaya di dunia pada bulan Juli 2001, terlempar dan digantikan oleh orang-orang baru. Mungkin saja si pelaku bisnis kurang peka membaca gejala dan signal perubahan.

Bo Wero Tips ke8 , terus menerus memberdayai diri agar peka melihat gejala perubahan dan siap menangkap peluangnya.

1/4/03
Tips Bo Wero ke 8

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com