Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 18, 2006

Meramal Gempa ala Ranggawarsita dan binatang

Date: Sun Feb 20, 2005 10:35 pm Subject: Meramal Gempa

R. Ngabehi Ronggowarsito dalam buku Pustaka Raja pernah meramal "tahun saka 338 seluruh dunia akan terguncang hebat oleh suara ledakan dahsyat dan semburan api akibat letusan gunung Kapi yang kemudian tenggelam ke dasar samudra. Air laut menggenangi daratan sepanjang timur Batuwara sampai Rajabasa. Semua tersapu bersih beserta harta bendanya.."

Karya tersebut terbit 1869, dan 14 tahun kemudian Gunung Kapi (Gunung Api, Krakatau) meletus. Batuwara (Banten) dan Rajabasa (Lampung), luluh lumat. Tsunami setinggi 30-40 meter menghantam sekitar Jawa dan Lampung. Selain ramalan para orang pintar, binatangpun dikenal sebagai peramal bencana alam. Seperti gajah di pusat pemeliharaannya di Srilangka, ternyata mereka sudah kabur ke bukit-bukit sebelum tsunami menerjang, atau burung "putih" yang seperti akan bermigrasi.

Beberapa catatan menjelang Krakatau meletus seperti ikan lele yang selalu melompat dari air, anjing yang menggonggong tanpa sebab, tikus yang keluar sarang kebingungan sampai-sampai mudah ditangkap, ayam yang entah mengapa tidak mau tidur mendekam. Di kolam peternakan Citayam, ikan mas dan ikan Gurami ternyata meolak pakan yang diberikan. Kemungkinan besar sistem sensorik mereka yang peka sedang terganggu sehingga tidak dapat membaui pakan berupa butir pelet.

Seorang geologist yang merayap kekawasan paranormal atau "creekology" melakukan penyelidikan bahwa menjelang letusan gunung berapi, banyak iklan kehilangan anjing peliharaan yang terpampang di koran maupun di radio. Sepertinya instink anjingpun ikut terganggu sehingga bingung menentukan letak rumah. Namun satu catatan menjelang Krakatoa meletus di Agustus 1883 adalah seekor gajah kecil berbelalai panjang, namanya jelas bukan Bona dan bukan penyanyi tereliminasi. Karena kepandaian dan lucunya, gajah milik sirkus Eropa yang manggung di Batavia ini ditempatkan di tempat terhormat yaitu satu kamar di hotel Des Indes.

Dulu pribumi dilarang itu masuk hotel Des Indes, kecuali gajah. Bahkan acara perdana menonton sirkus, diutamakan untuk para ambtenaar dan penggawe VOC. Baru kemudian penduduk negeri diberi kemurahan menonton dihari-hari terakhir. Namun belakangan gajah kecil ini selalu gelisah, kepada pawang yang memberikan makan ia selalu menaruh curiga. Sampai suatu hari dia mengamuk memasuki ruang dalam hotel, menjungkir balikkan meja kursi
yang ada sampai-sampai pemilik hotel angkat kata, "U musti jengkar dari sini.."

Beberapa waktu sabloem gaja amoek, terjadi adu jotos antar awak sirkus tempat gajah. Mungkin pengaruh alkohol, atau pengaruh panas yang dikeluarkan Krakatau, bahkan istri seorang awak sempat dipukul. Adegan perkelahian ini dianggap hiburan bagi warga Batavia karena boleh ada menyaksiken itoe ton il prodeo dan tidak pandang kulit. Mereka ada bersorak dari luar pagar sembari terkadang "zuiit swiew wiew" kalau melihat ada yang kena tempiling sampai semapoet.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com