Menulis dan menulis

Date: Fri Feb 27, 2004 7:37 am 12969

Salah seorang anggota milis dengan nama sandi "onto-seno" memposting message kepingin menulis tetapi tidak bisa. Sebetulnya ketika istirahat makan siang sambil bingung akan memesan gado-gado atau soto mie atau sup kuah ikan ala Manado, kadang saat mengetuk-ngetuk meja sering berkelebat suatu gagasan untuk ditulis. Saat itulah anda bertindak. Kelebatan yang anda tangkap bisa ditulis sebagai sms yang di save, di kertas tissue yang mungkin belepot kuah sayur, di telapak tangan, atau sebuah buku notes kecil. Kalau saya menulis, kepala saya terngiang peristiwa di UPN pada 1975-an saat Ketua Dema mas Umar Fatah dibantu stafnya mas Bambang Aris DP dan banyak
lainnya men-triger atau istilah ilmu Reiki "attunement" alias menyelaraskan getaran penulis senior ke calon penulis. Masih ingat bagaimana mas Bambang Aris ongkat-ongkot kamera, jepret sana-jepret sini. Salah satu pengurus DEMA malahan jadi Rektor di Universitas Mercu Buana. Saya masih simpan sertifikat Pendidikan Pers Mahasiswa. Juga masih ingat ketika ketua Streering Committee mengatakan bahwa menurut statistik jika sudah mencapai sekitar 10% dari suatu pendidikan pers mahasiswa yang mau menulis. Maka pendidikan itu berhasil.

Lalu saya ingat Ashadi Siregar, Wonohito (alm) memberikan wejangan-wejangannya mengenai dunia pers. Ashadi berkata. Kalau ada teman patah cinta lalu bersedih kemudian anda menghiburnya dengan mengatakan dunia tak sedaun kelor," "lelaki kok patah hati," "belum jodoh" dsb. - maka kemampuan menulis anda harus diasah. Sanubari penulis biasanya akan bergetar mendengar berita itu dan biasanya mulailah membuka cakrawala fisi sampai terbentuk cerita "Kampus Biru," "Sirkuit Kemelut" dsb.

Bapak Wonohito yang selalu memakai samaran Ki Panji, mengusulkan agar tulisan diberikan kepada pembantu dirumah. Kalau dia mengerti, maka biasanya pembaca lain juga mengerti. Anand Krishna yang produktip menulis dan "menuai demo akibat tulisannya" - mengatakan bahwa menulis itu seperti orang melahirkan. Ketika ia mau "brojol maka tak ada satu kekuatanpun yang bisa menghalanginya. Terang saja dia bisa bilang begitu sebab ratusan buku sudah dibacanya, dan ia memiliki waktu yang longgar. Lalu Arswendo yang produktip ini mempunyai alasan lain, dia menulis karena minder. Supaya dia "dianggap" oleh teman-teman sekelasnya maka dia menulis. Lalu ketika tulisannya dimuat dan memang, teman-temannya mengaguminya dan inilah teknik mengubah minder menjadi positip yang sangat berjaya.

Andreas Harefara WTS (Writer, Trainer, Speaker) menargetkan sehari 1 halaman sebagai caranya untuk mendisiplinkan diri untuk menulis.

Tapi saya paling sreg lagi adalah alasan Rhenald Kasali. "Orang harus meninggalkan sesuatu disamping nama pada saat ia meninggal nanti. Maksudnya jelas, ia bisa mati, jasad bisa hancur. Tetapi tulisannya tidak akan membusuk dan tetap menjadi inspirator kepada dunia."

Persoalannya bagaimana kalau sudah mau menulis toh masih macet saja. Gampang tuliskan kata macet..macet..macet berulang-ulang sampai kertas penuh. Kalau belum puas tulis lagi dan lagi. Yang penting adalah proses mengalirkan tulisan itu sendiri. Yang penting setiap hari tulis e-mail.

Milis, blogger saya pikir adalah ajang yang tepat untuk berlatih menulis.

Comments

Popular Posts