Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 16, 2006

Mengurus Visa ke Australia

Date: Thu Aug 19, 2004 2:28 pm

Kantor Australia sudah setuju untuk mempekerjakan saya dengan skedul rotasi 28 hari kerja di Australia dan 28 hari cuti di rumah. Kontrak sudah dikirimkan dan perintahnya segera ke Perth untuk menjalani pelatihan penyegaran. Tentu yang diutamakan adalah Visa. Namun mengurus Visa untuk bekerja di Australia jelas bukan perkara membalik tangan.

"Urus sendiri Visa ke Australia, saya bisikin ya, reseh! . Bakal bolak-balik kedubes. Apalagi penampilan sampeyan semi Arab Tegal, biasanya tidak gampang.."

"Mahal dikit tapi profesional. Modal mereka cuma Kop Surat, lainnya diisi oleh mereka. Pokoknya Terapel(ep) Biro(k), zonder birok-krasi.."

"Kalau mau datang saja saat jam makan siang. Petugas yang sedingin kuburan Cina (marmer) saat di belakang loket surat menyurat, bakalan berubah ramah kalau diajak "cincay" soal pengurusan Visa."

Begitu komentar teman-teman ketika saya bermaksud mengurus Visa ke Australia. Mendengarkan tim pembisik dengan bumbu dan teori sebarek memang menarik, namun kalau diikuti, kita bisa dibuatnya gila.

Cuma pak satpam Kedubes Australia yang saya temui di bulan Agustus 2004 bilang "alah kalau urusan bisnis sih biasanya gampang, asal surat lengkap beres..."

Kata-kata "sukar, ribet, apalagi Australia," mengilik perasaan saya untuk mengeksplore cara mengurus Visa ke Australia. Saya kesampingkan suara "tim pembisik. Maka hari Rabu 12/8/2004 saya mendatangi kedubes Australia di Kuningan bermaksud mencari Formulir kode 456 yang berfungsi sebagai isian untuk urusan Bisnis Singkat. Tapi karena waktu dipergelangan tangan menunjukkan angka dua siang, maka penjaga bilang waktunya sudah habis. Mereka tutup pada jam 12:30 setiap hari. Jumat hanya untuk pengambilan dokumen sampai jam 11.

Pada kesempatan ini saya membaca papan pengumuman dan tidak mendapatkan informasi yang jelas kecuali deretan kata-kata bersayap. Dari hasil korek sana sini, maka saya lampirkan fotocopy Kartu keluarga, KTP, Passport, Foto 4x6 yang latar belakangnya merah, copy buku tabungan, copy deposito, dan Formulir 456 yang saya dapatkan melalui internet. Terimaksih kepada yang sudah memberikan info website mereka. Sponsor dari sebuah perusahaan yang berdomisili di Perth-pun sudah saya dapat melalui komunikasi Internet. Mereka mengirimkan melalui pdf file. Saya tinggal mencetaknya dari rumah. Kendalanya adalah saya baru saja ambil pensiun dini dari perusahaan, belum genap dua bulan dan bagaimana mendapatkan referensi mengingat saya sekarang berstatus "konsultan belaka."

Saya pikir saya sudah "one step ahead" - dari rumah form dalam bentuk pdf sudah saya cetak dan diisi dengan tulisan tangan (belakangan saya baru tahu bahwa ada software yang bisa menulis di atas dokumen PDF).

Konsulat Australia terletak di kawasan Kuningan, mereka bersebelahan dengan gedung Plaza Kuningan dimana perusahaan minyak Total dan Vico bercokol. Di kedutaan sendiri tidak terdapat ruang parkir sehingga para pelamar visa harus cari parkir di kawasan Plaza Kuningan atau sebuah gedung kecil disampingnya. Sarana parkir dikedua gedung ini selalu penuh, sehingga naik Taxi mungkin lebih menurunkan beban stress. Dipintu masuk saya disambut seorang Satpam Perempuan berbadan tinggi dengan tahi lalat bergantung didagu kanannya. Saya lirik namanya Ambarakasih. Applikan yang pura-pura bego tapi lihai menyerobot langsung didampratnya. Setelah memperlihatkan KTP, meyakinkan bahwa HP anda tidak dilengkapi kamera, dan memeriksa tas anda, maka diruang penjagaan itu anda bisa mendapatkan formulir sesuai dengan tujuan anda (bisnis, turis, berobat, migrasi, sekolah dsb.) Harap sebutkan dengan jelas tujuan kita agar mendapatkan formulir yang tepat.

Setelah melalui halangan berupa sebuah mesin scanning, kita melewati masih dihadang sebuah taman. Tetapi jangan kuatir ada jembatan besi selebar 2 orang yang membentang sepanjang 20 meteran. Di bawah jembatan yang dibuat dengan ketinggian 1 meter, nampak taman yang airnya seperti berselimutkan satin hijau lantaran lumut memang ikutan mandi matahari di musim kemarau begini. Teratai yang tumbuh disanapun nampak sekali cukup merana karena kekurangan siraman hujan.

Memasuki bangunan konsulat, nampak jejeran bangku kayu terpasang permanen di emperan konsulat. lalu sebuah counter (1 dan 2) dengan dua bilik yang merupakan representative dari Bank Commonwealth. Pembayaran Visa dilakukan disini. Sekalipun tertulis dipapan pengumuman nilai visa bisnis adalah Rp. 380.000,- namun kenyataannya harga sudah disesuaikan menjadi Rp. 430.000. Counter ini tidak seharusnya dijadikan tempat bertanya soal visa. Pukul 8:30 kegiatan Bank Commonwealth yang markasnya di lantai dasar Gedung Metropolitan II ini mulai menampakkan aktivitasnya. Ketika hendak membayar Visa, mbak petugas Commonwealth sudah wanti-wanti "pakai uang pas".

Dalam ruang tunggu saya melihat deretan counter seperti Counter 3 untuk urusan Migrasi. Counter 4 untuk Temporary Entry, Counter 5 untuk tempat bertanya dan memasukkan lamaran (ini counter paling favourite) , counter 6 untuk mengambil passport dan visa yang sudah selesai diproses, counter 7 untuk tempat interview atau mungkin interogasi. Suasananya seperti ruang tunggu para`penderita kanker menunggu hasil lab yang akan dibacakan dokternya. Ada toilet yang bertuliskan Male and Female. Jadi bukan ladies and gentleman. Sebab memang bagi lidah jawa kata Male and Female bagusnya untuk referensi penghuni Ragunan.

Atau memang pengunjung dianggap dianggap demikian.

Beberapa orang bicara berbisik. Kalau antene saya panjangkan alias "nguping" ada yang sempat terdengar "saya sendiri yang biasa urusin visa eh taunya ditolak juga..." Aroma urusan babaliut mulai saya cium. Beberapa applicant tampak ngotot, tidak puas atas pelayanan pihak kedutaan. Tetapi apalah daya. Mereka menjadi manusia setengah Dewa layaknya.

Proses Visa Bisnis Sementara (formulir 456) adalah dua hari kerja, Turis 3 hari kerja, Pelajar 10 hari kerja. Diluar Passport yang minimal 6 bulan kedepan masih berlaku.

*****

Sapa suru datang Australia....

Juklak pengurusan visa adalah mengambil nomor dicounter 5, lalu menunggu penjelasannya petugas yang berwewenang. Kalau semua sudah dilitsus, maka baru beranjak ke Counter 1 dan 2 alias Bank Commonwealth. Saya tahu bahwa saya masih punya hutang satu dokumen yaitu "Keterangan kerja dari perusahaan di Jakarta," sulitnya, selain saat ini saya sudah "quit" dari perusahaan lama, status "konsultan" tidak memiliki kantor di Jakarta sebab langsung dari Australia. Dan selama hampir 85 bulan diperusahaan yang lama belum sekalipun dikirim keluar negeri. Kecuali ongkos dewe. Maka, daripada terlalu lama menunggu birokrasi, saya ambil jalan untung-untungan. Bukankah dalam buku bisnis dan manajemen dibutuhkan orang yang mampu dan berani berakrobatik memanfaatkan kelemahan hukum. Saya tergelitik untuk melakukannya.

Dan "jreng" sementara mas Agung Wibawa, Mas Sugeng Hartono, Mas Habas SeMimbar, Mas Yusuf sedang membahas urusan visa dan kacang bawang. Saya sudah main potong kompas bayar ke Counter 1. Sonder periksa, dokumen saya diterima dan sebuah kwitansi berkode 651 diterakan diatas kertas kurus panjang bercap 12/8 dan catatan ambil dokumen 16/8 (lho kok empat hari, ternyata ada longkap untuk sabtu dan minggu). Gara-gara acara urus-visa ini, maka job sampingan saya pada tanggal 16-17 yang ditawarkan bekas majikan saya, terpaksa saya tolak.

Saya bahkan sudah dapat e-mail yang mengatakan bahwa tiket sudah dibook melalui Internet, dan tinggal diambil di counter di Bandara pada hari yang ditentukan. Bukti book sudah dikirim melalui pdf file.

Sound too easy....
Kalau dalam cerita perang, ada gang dan hutan sepi dari rintangan pasti ada bahaya besar menghadang.


Tanggal 18/8/2004
Jam 9:00

"Jelederrr" - seperti disambit batu tawuran rasa kepala ini tatkala aplikasi saya dibatalkan lantaran belum punya dokumen pendukung dari Jakarta. Kali ini saya terhubung dengan HRD kantor tersebut dan beberapa pertolongan teman milis yang kebetulan bekerja di sana. Akhirnya selembar surat berhasil direkonstruksi ulang (karena memang edisi bahasanya ngeplek "cut and paste" dari surat Sponsor Australia). Maka sayapun semakin konfiden bisa menyelesaikan tugas tepat waktu. Praktis dan ekonomis. Itu rencananya.

Biasa kegagalan adalah awal kesuksesan.

Tanggal 19/8/2004
Jam 08:00 pagi

Di penjagaan konsulat Australia, Mbak AmbarRatih sang satpam tinggi berkulit kuning (dan bertahi lalat didagu seperti Elvi Sukaesih) tersenyum penuh empaty, "belum beres suratnya pak?" - tas saya tidak diperiksa (kok begitu mbak, salahin prosedur lho).

"Hari ini beres," kata saya penuh keyakinan. Pengalaman hidup mengajarkan dalam berintuisi (sixth sense), kalau saya "over confident, jumawa, atawa ketus," biasanya ada masalah menghadang. Tapi harus bagaimana lagi, hati ini sepertinya tidak bisa melihat problem yang muncul.

Sampai...

Slerek... torso blind dibuka dari dalam. Pada jam 09:00.

Langsung saya lari kedepan counter 6, tapi kalah dengan 4 orang yang lebih sabar menunggu sedari tadi. Lelaki didepan saya tersenyum lebar, lima passport digenggamnya. Terimakasih, katanya. Seorang perempuan giliran selanjutnya juga tidak ada masalah. Giliran saya menunjukkan bukti bayar, perempuan berkulit terang ini mengerenyitkan dahi. Matanya menatap monitor berulang-ulang. Nampaknya tulisan dimonitor cukup panjang sampai kepalanya dari menengadah sampai menunduk. Dan momen yang saya tunggu ketika perempuan berambut pendek seperti lelaki ini mulai menoleh perlahan. Dipegangnya kwitansi saya. Layaknya seperti pembawa acara Indonesia Idol, ia sengaja mempermainkan waktu.

My 6th Sense bilang, sesuatu tidak beres lagi...

Lha rak tenan tho!

Visa ditolak. Jelas tidak masuk akal kalau dukun bertindak. Kesannya bukan pedekate si Lela anak kepala desa.

Alasannya kalau bikin permohonan tidak boleh tulis tujuan "konferensi/meeting/workshop" - menurut Australia, jawabannya satu.

Sementara ragam bahasa Jawa mengatakan kalau Konferensi itu se RT dengan Meeting, dan sanak saudara dengan Workship. Kenapa tidak saya pikirkan menuliskan Kongres (yang selalu dibaca oleh teman-teman KONG-GeREZZ). Lalu saya bilang "anggap saja meeting"

Lady-Counter bilang "okey, tapi tulis itu dalam surat permohonan dan serahkan kemari..."

Itu berarti saya harus bergegas menghubungi HRD Jakarta lagi, dan itu berarti harus hilang satu hari lagi. Apa yang bisa saya lakukan. Beracting memelas, kuatir salah persepsi "dasar TKI, bisanya disiksa dan memelas."

Saya ketemu HRD Manager, keluh kesah saya ditanggapi dengan dokumen baru naik cetak. Dia bilan rekan-rekan yang pergi ke Rusia, mau urus visa dipersilahkan masuk, diajak ngobrol. Beda dengan berurusan visa di Amerika dan satelitnya Australia. Lalu ingatan saya kembali saat Bung Karno ditanya mengapa lebih condong ke Moscow, jawabnya Moscow memanusiakan saya. Yang lain cuma mencari kesalahan saya yang gampang jatuh cinta kepada perempuan lain. (waktu itu kawin cerai bisa menggulingkan posisi seseorang)

Tapi jam 10.20 saya sudah balik didepan counter-6 dengan dokumen baru (thanks kepada rekan yang membantu saya). Lalu saya coba bernegosiasi bahwa saya ingin hari ini saya tahu apakah surat saya masih ada kesalahan "wording" apakah hari ini Visa bisa diperoleh, apakah dan apakah. Lagi lagi tembakan saya missed. Pasalnya robot dalam ujud perempuan seperti Joynya Indonesia Idol, yang sudah direkayasa tuan Downer ini benaknya masih "polteng" dengan kata-kata, "saya tidak tahu, atau saya serahkan dokumen anda siang ini kepada officier (lho dia siapa), besok anda datang lagi."

Apa yang bisa saya kerjakan kecuali mengikuti arahannya. Dan cuma itu yang bisa dilakukan.

Dilayar tipi, Discovery sedang menayangkan promosi turis ke London "dengan 30 pondsterling semalam anda bisa menikmati istana atau mansion kuno". Lalu seorang nampak wanita berpakaian ala Victorian berlari sambil angkat rok yang panjang agar tidak menyapu lantai. Perempuan ini nampak histeris, lalu menabrak tembok dan menghilang. Persis cerita Harry Potter.

Narator berkata "acara melihat hantu tidak dikenai biaya tambahan.."

Rasanya saya kepingin pinjam ilmunya agar menghilang dan bertemu dengan Officier yang menolak visa saya. Siapa tahu jawabannya lebih mengenakkan.

Lalu saya bersiul fals. SAPA SURU DATANG OSTRALI...Sapa suru datang Ostrali




Jumat 20 Agustus 2004

Jam 8:00 saya sudah jadi anak nongkrong di ruang tunggu kedutaan DownUnder. Saya lihat ada sekitar 5 orang sudah hadir disana. Kursi yang berkapasitas memuat 60 orang nampak seperti lengang. Tapi mendekati jam 9.00 suasana sudah berubah agak riuh. Saya perkirakan 60 orang sudah menanti nasib dengan pasrah. Seorang anak muda tinggi besar menunggu sambil membaca Quran Stambul (kecil), sementara saya sudah seperti lurah travel biro lantaran duduk paling pinggir, jadi kalau ada orang masuk menenteng map sambil kepalanya celingukan seperti kobra, pasti baru pertama kali urus visa. Saya jual murah informasi kesulitan urus visa sambil menunggu umpan disambar berupa ikan berupa feedback urus Visa. Biasa bahan milis. Ini sukanya urus milis, setiap peristiwa yang rada melas, nestapa malahan jadi bahan menertawakan diri
sendiri.

Jam 9:30, dua counter (5 dan 6) dibuka, bapak didepan saya menunggu didepan
loket sambil menjawab ape (hape) ha ha hi hi, kontan gadis muda belia penunggu counter menegur keras. "Bapak ini kantor, dan matikan tilpun.."

Saya berada diurutan ke 10, sambil mengetrapkan aji-aji "pasrah bongkok" alias kalau belon rizkinya mo diapain lagi.

Belia mulai memasukkan nama saya dan membaca layar monitor, dia lalu berbalik memunggungi saya. Tubuhnya tinggi namun sedikit membungkuk. Tangannya menggapai tumpukan passport di cek sebentar lalu dia berkata, paling indah dan merdu melebihi suara Joan di Indonesian Idol. "Selamat meneruskan perjalanan ke Australia." Spontan saya ber SMS ke Perth agak bercanda dikit "this is the end of Single Entry Visa's Saga. I got the Visa, may welcome to winter at downunder"

E-Ticket.

Lha sekarang persoalan tiket masih belum tuntas. Saya menerima pdf file berisikan pembelian tiket secara elektronik. Lalu SMS lagi, gimana caranya koleksi tiket, dimana?, nomor tilpunnya berapa. Sudah tahu sih Qantas di Wisma BDN, di jalan Thamrin. Tapi jangan sampai kebobolan lagi gara-gara sok yakin. SMS menjawab, ini era electronic. Tunjukkan saja passportmu dan kode booking di Qantas Desk di airport. No paper ticket required. Kalau begitu saya sudah harus mengaku hidup diera dinosaurus. Tiket kok nggak ada kertasnya, bagaimana nanti dengan pak Satpam di Bandara, apa cukup puas dengan bukti book melalui internet. Akhirnya saya tilpun
perwakilan Qantas, dan ternyata mbak Maya sang officer tidak bisa menemukan nama saya. Setelajh berkutat sekian lama saya ulangi lagi nama saya dan tujuan Perth. Rupanya dia cari Jakarta - Sidney (amin kata saya dalam hati), pantas tulalit salah sambung. Small problem lah. Cuma dasarnya orang kuper, kok rasanya kurang mantap gitu pergi tanpa pegang beberapa helai kertas yang disebut tiket.

Ah yang penting sekarang siapkan baju winter sebab pernah dengar di radio Nuim Hayat bilang di Melbourne suhu 5-10 derajat disana. Untung baju yang dulu sekalipun apek terkubur selama 7 tahun masih belum digigiti tikus.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com