Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 14, 2006

Menguatkan otot-otot menulis

Date: Wed Mar 10, 2004 1:47 pm 13048

Dr. Sadoso pakar dokter kesegaran jasmani, yang cadel itu selalu mengatakan baik di radio maupun tabloid agar tubuh sehat, orang harus melatih otot-ototnya. Berolah raga harus dianggap kontrak sampai mati. Tidak ada alasan untuk melewatkan hari-hari tanpa olah raga. Stephen Covey malahan menambahkan bahwa berolah raga harus dilakukan proaktip. Maksudnya kalau hari hujan, jangan dijadikan alasan untuk tidak turun ke jalan tetapi proaktip dengan mengatakan "great, hari hujan, bagus untuk berolah raga karena hawa tidak terlalu panas."

Menulis, kata orang seperti latihan beban, seperti latihan kempo, seperti latihan berlari, seperti "driving" dalam golf. Perlu dilakukan setiap hari agar otot-otot menulis menjadi lebih kuat, menjadi besar, menjadi liat dan melatih reflek. Saya sering di ledek oleh seorang wartawan (beneran), "apa ndak bosen mas tiap hari melihat layar (laptop)" - seharusnya saya yang heran, dia yang wartawan kok ndak pernah menulis. JK Rowling mengatakan bahwa "Saya menulis setiap hari. Kadang saya menulis selama sepuluh atau sebelas jam. Pada hari lain, saya hanya menulis tiga jam."

Lalu bagaimana sampai dia bisa memunculkan ide menulis. Lagi-lagi Rowling mengatakan "Mulailah menulis apa saja yang kamu tahu. Menulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Itulah yang saya lakukan.."

Pengalaman apa Mrs Rowling?

Ambil contoh tokoh "Dementor" yaitu penjaga Azkaban yang digambarkan tidak berwajah, selalu berkerudung, menghisap seluruh rasa kebahagiaan kita sampai hanya tersisa dalam diri adalah kepedihan belaka. Kalau sampai "tak cucup embunane" alias mengecup kening kita. Alamat kita dibaptis menjadi idiot selamanya. Kecuali satu yang lolos dalam malapetaka yaitu Sirius Black. Serial Potter and the Prisoner of Azkaban melukiskan kedatangan mahluk ini selalu didahului rasa dingin yang mencekam. Rupanya Rowling waktu masih fakir pernah sakit keras. Ia begitu merasakan perasaan kelabu tersebut dan melukiskannya dalam tulisan-tulisannya.

Bahkan ketika ia harus membunuh tokoh ciptaannya "Sirius Black" penyihir yang suka sekali berubah menjadi anjing hitam. Ia harus menulis ulang kematian itu, menulis ulang sampai akhirnya kematian itu sudah pasti. "Dan saya berjalan ke dapur dengan tersedu-sedu dan Neil (suami kedua Rowling) bertanya ada apa, dan saya jawab, saya baru membunuh sosok itu.

Neil lalu menjawab "kalau begitu jangan lakukan itu.."

Tapi Rowling paham, kalau menulis buku anak-anak ia harus menjadi pembunuh tanpa perasaan.

Di Indonesia seorang pembaca remaja di bedah bisnis Rhenald Kasali mengatakan pengalamannya membaca serial Harry Potter. Betul, bahwa ia menangis sedih ketika tokoh Sirius Black harus terbunuh, tapi kesedihannya diselamatkan oleh perintah ibunya untuk mematikan air ledeng sehingga tidak terlarut dalam kesedihan. Singkatnya, untuk menulis harus latihan tiap hari. Dan keluarkan ide dari perasaan kita.

Mimbar Bambang Seputro
Masih belum tahu cara menjadi novelis.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com