Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 08, 2006

Menembus langit-langit kaca dengan masakan Padang

Date: Thu Jan 9, 2003 12:02 pm

Masakan Padang biasanya agak-agak standar gitu, rumus pertama nasi putihnya harus pas kerasnya, tepat airnya, dari situ baru standar yang lain yaitu lalapan daun singkong, dan potongan ketimun bangkok sehingga nggak bakalan ketemu timun pahit.

Kalau ini sudah kena setelannya, maka rendang, gulai ayam, daging cincang biasanya tinggal ikutan enak di santap. Tapi ada masakan padang yang mampu menerobos langit-langit kaca, inilah kepiawaian Nanny Zaenuddin dan ibunya yang tidak percuma jauh datang ke Jakarta pada 1962. Mulanya Zubaedah, ibu Nanny mulai melayani tetangga komplek Garuda, dan kok masakannya mulai dipesan orang sekelurahan.

Mungkin yang ngomong "cangkem pilot" jadi dianggap seleranya extravaganza. Cari kekasih saja kalau kebetulan dapat pilot kita bisa diajak "fly" dalam arti tersurat dan tersirat katanya. Kata sticker di kaca lho.

Ketika sidang MPRS 1965, Zubaedah didaulat melayani 3000 perut termasuk panganan kecil. Jelas mereka kelabakan. Apalagi Bung Karno bakal ikut mencicipi masakan mereka. BK terkenal dengan falsafah wanita ibarat pohon karet, bagunyha sampai 30 tahun. Soal makanan tentunya beliau punya falsafah lain... Tapi dengan cerdik kesulitan tersebut segera diakali dengan membooking beberapa restoran dan toko kue. Nggak percuma jadi orang Padang Panjang.

Usai MPRS 1965, cerita sukses menerobos langit-langit kaca tidak berlanjut, tetapi siapa juga tahu RM Sari Bundo pasti tahu kualitas masakannya, nyem nyem glek...

Baru ketika Gus Dur naik tahta sebagai RI-1, Nanny dipanggil lagi sebagai pemasok untuk urusan perut Gus Dur, sampai ke Pasampres. "Pagi buta jam dua, dapur sudah mengebul untuk urusan perut ini." Bahkan Nanny boleh bangga bahwa dia punya "pasukan berani mati demi Gus Dur", lantaran pekerjaannya ya icip-icip masakan siapa tahu di racun atau disantet (?). Bahkan setelah Gus Dur berhasil digulingkan dan di zholimi (kata pengikutnya), tak kurang Hamzah Haz ikutan memberikan order kepada perusahaan Ina Citra, yang dikomandaninya.

Bagaimana kiat Nany Sari Bundo merangsek istana tanpa halangan ini, rupanya dia pakai aji-aji empat sehat lima sempurna yang sudah disehat dan sempurnakan lagi menjadi enam lezat dan tujuh murah....

Alasannya makanan sehat kalau nggak lezat, lha siapa mau icip-icip...
Kalau sudah lezat tapi murah, nah berbondong orang datang...

Oooh gitu toh...

Contohnya?, satu porsi masakan dipatok 15 ribu sudah termasuk makanan pembuka dan pencuci mulut lho... Wah kok sama dengan resto Amigos ya..

Sudah coba ke Sari Bundo, ada di Arya Duta, Magga Dua dan Haji Juanda (depan-depanan Bina Graha). Kalau waktu lunch tiba, jangan kaget anda harus sabar menanti giliran... habis enak sih.

Mau jadi presiden, barangkali makan dulu di Sari Bundo lah yauwww.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com